Belakangan media diramaikan oleh angka 40% untuk golput pada Pemilu Legislatif 2009. Hal ini terlontar bukan tanpa alasan, angka golput pada pilkada yang terjadi belakangan rata-rata berada di kisaran itu.
Namun, golput tidak dapat diprediksi naik atau turun. Pasalnya, menurut Heri Suherman, Kabag Hukum dan Humas KPU Provinsi Jawa Barat, tidak berpartisipasi bukan berarti golput. Bisa saja karena alasan teknis.
Heri menambahkan bahwa angka golput untuk Pileg 2009 tak bisa ditakar. Yang bisa, berapa angka yang berpartisipasi atau tidak berpartisipasi? Apakah naik atau turun dari angka Pileg 2004?
Untuk menakar besar angka partisipasi Pileg 2009, bisa digunakan jumlah partisipan Pemilu 1971 hingga 2004. Alasannya, ada kecenderungan yang menarik dari perjalanan tingkat partisipasi pemilu di tanah air. (lihat grafik 1).

Menilik grafik 1, jumlah partisipan terbesar selama pemilu di Indonesia terjadi pada pemilu pertama, 1971. Tercatat tingkat partisipasi masyarakat sebesar 94% dari total pemilih. Artinya, mereka yang tidak berpartisipasi hanya sebesar 6%.
Tingginya angka partisipasi pada Pemilu 1971 karena merupakan pemilu pertama di era Orde Baru. Pemilu 1971 merupakan pengalaman pertama rakyat Indonesia melakukan pemilu karena pada era Orde Lama belum pernah dilangsungkan pemilu. Oleh karena itu, masyarakat sangat antusias menyambut pemilu pertama ini. Mereka berharap ada perubahan yang berarti bagi kehidupan masyarakat.
Namun, dalam pemilu berikutnya tahun 1977, tingkat partisipasi menurun menjadi 90,6%. Artinya, yang tidak berpartisipasi meningkat 3,4% menjadi 9,4%. Berarti, ada kekecewaan dari masyarakat yang tengah berpartisipasi pada Pemilu 1971. Sebagian tak merasakan perubahan yang berarti sehingga memutuskan untuk tidak berpartisipasi.
Hal ini senada dengan pemilu berikutnya 1982, 1987, 1992, dan 1997. Angka partisipasi semakin menurun, sedangkan angka golput makin tinggi.
Akan tetapi, pada pemilu berikutnya tahun 1999, tingkat partisipasi masyarakat kembali menanjak menjadi 93,3%. Hanya 6,7% yang tidak berpartisipasi. Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama di era reformasi, dengan lengsernya Soeharto sebagai presiden. Masyarakat begitu antusias dalam pemilu ini karena berharap terjadinya perubahan dalam kehidupan politik dan bermasyarakat dalam era reformasi.
Lagi-lagi Pemilu 2004 mengalami kemunduran dalam hal partisipasi pemilih. Tingkat partisipasi masyarakat menurun tinggal 84,4% atau mengalami persentasi penurunan sebanyak 4,9% dari total pemilih. Angka pemilih yang tidak berpartisipasi pada Pemilu 2004 merupakan yang tertinggi sepanjang perjalanan pemilu di negeri ini, mencapai 15,9%.
Masyarakat tampaknya kecewa dengan hasil pemilu sebelumnya. Kekecewaan pertama terjadi pada pemilu kedua (1977) di era Orde Baru yang dirasa tak membawa perubahan. Disusul oleh pemilu kedua di Orde Reformasi (1999). Orde Reformasi yang diharapkan membawa angin segar dalam perubahan di negeri ini, ternyata tak terbukti.
Menilik perjalanan inilah, bisa diprediksi berapa angka pemilih yang partisipasi atau yang tidak berpartisipasi dalam Pileg 2009. Oleh sebab itu, untuk menakar tingkat partisipasi Pileg 2009, digunakan data partisipasi Pemilu 1971 hingga 2004. Data disajikan pada grafik 1.
Namun, angka perolehan Pemilu 1977 dan 1999 harus dinormalisasi. Maksudnya, angka Pemilu 1977 disesuaikan dengan angka Pemilu 1971 dan 1982. Sementara angka pemilu 1999 disesuaikan dengan Pemilu 1997 dan Pemilu 2004.
Pasalnya, data Pemilu 1977 dan 1997 merupakan data pencilan (outliner), yaitu data yang dianggap menyimpang dari distribusi data secara keseluruhan sehingga hasil Pemilu 1971 hingga 2004 setelah datanya dinormalisasi disajikan pada grafik 2.
Mengapa angka partisipasi 1977 dan 2004 harus dinormalisasi? Dengan menormalisasi perolehan pada dua periode pemilu itu, kita bisa mendapatkan kecenderungan (tren) dari tingkat partisipasi dan golput di Indonesia. Kecenderungan itu bisa digunakan untuk menakar angka golput Pemilu 2009.

Pada Grafik 2 ini, garis biru tipis adalah tingkat partisipasi pemilu yang dinormalisasi, sedangkan garis hitam tebal adalah kurva pendekatan. Berdasarkan kurva pendekatan, dapat dilihat prediksi tingkat partisipasi untuk Pileg 2009 diperkirakan di atas 80% dan yang tidak berpartisipasi di bawah 20%.
Meski ini sekadar hitung-hitungan biasa, angka ini senada dengan Heri yang juga menaksir angka partisipasi sebesar 80%. Heri memprediksi angka ini berdasarkan angka partisipasi Pemilu 2004 yang bertengger di angka 84,1%. Sementara penurunan dari 84,1% menjadi 80% diprediksi dari tingkat partisipasi pada pilkada dan pilgub yang mencapai 67%.
Namun, angka partisipasi 80% ini belum tentu sesuai dengan hasil rekapitulasi suara Pileg 2009. Pasalnya, angka ini didapat dengan asumsi kondisi sosial pemilih stabil dengan pemilu sebelumnya. Sementara aspek sosial pemilih selalu berfluktuasi dan tentu tak mudah diprediksi. (Eric Senjaya/Pusat Data Redaksi)***
Diarsipkan di bawah: Pemilu 2009
FENOMENA artis menjadi calon legislatif (caleg) bukan hal baru lagi. Sejak empat bulan lalu, media massa sibuk memberitakan artis-artis ibu kota yang dipinang oleh berbagai partai politik. Hampir semua stasiun televisi, melalui beragam acara, baik yang bersifat hiburan maupun berita, berkali-kali menayangkan topik tersebut.
Fenomena ini mengundang berbagai pertanyaan. Dari masalah kapabilitas artis itu, pengenalan artis terhadap daerahnya, hingga penerimaan masyarakat terhadap status selebriti menjadi bahan pertanyaan di benak warga.

Untuk menjawab salah satu pertanyaan tersebut, Lembaga Survey Indonesia (LSI) mencoba menganalisis fenomena tersebut dengan melakukan survei ke beberapa daerah. Survei tersebut disebar di tujuh belas provinsi di Indonesia, ke berbagai lapisan masyarakat, kelompok, jenis kelamin, desa/kota, usia, pendidikan, agama, etnis, dan pendapatan.
Salah satu poin yang dinyatakan dalam survei adalah mengenai penerimaan masyarakat terhadap artis dibandingkan dengan politisi. Masyarakat diminta untuk memilih salah satu dari sepuluh politisi dan sepuluh artis jika pemilihan anggota DPR diadakan saat ini juga.
Hasil survei tersebut menyatakan bahwa 49% masyarakat tidak tahu siapa yang akan dipilih. Salah seorang politisi terkemuka mendapatkan 18,5%, sedangkan posisi empat besar lainnya diduduki para selebriti dengan perolehan 5,6%, 5,2%, 4,5%, dan 3,4%. Nama politisi muncul kembali di urutan keenam dengan perolehan 2,9%.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap artis/selebriti sebenarnya tidaklah seramai yang diberitakan. Jika digabungkan, suara masyarakat yang memilih kalangan selebriti hanya sebesar 26,5% (untuk 10 artis). Sementara politisi mendapat 24,1% (untuk 10 politisi). Bila dibandingkan dengan suara masyarakat yang memilih tidak tahu (49%), nilai yang diperoleh artis dan politisi ini dapat dikatakan kecil.
Hal ini dapat diartikan bahwa masyarakat tidak memiliki kecenderungan terhadap kalangan tertentu. Baik politisi maupun artis, yang memiliki nama populer di masyarakat, tidak serta-merta mendapat penerimaan yang baik di masyarakat. Hal ini pun membuktikan bahwa popularitas, walau memiliki peranan penting, bukanlah jaminan sukses untuk berkarier di dunia politik. Selain itu, hasil ini pun dapat diartikan bahwa pemberitaan yang bombastis di televisi tidak dapat mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat.
Partai politik sudah sewajarnya mencermati hal ini. Jumlah caleg dalam daftar calon tetap (DCT) di daerah pemilihan Jabar, yang mencapai angka ribuan, tentu saja membawa aroma persaingan yang ketat. Oleh karena itu, parpol-parpol sudah seharusnya memiliki strategi pemasaran yang tepat untuk mempromosikan calon-calonnya. Popularitas saja tidak cukup.
Begitu pula dengan kaderisasi parpol yang perlu mendapat perhatian. Selayaknya kader partai politiklah yang duduk di posisi “nomor jadi”, bukan artis atau politisi yang memiliki popularitas tinggi agar caleg yang terpilih semakin berkualitas. (Vetriciawizach/Eric Senjaya, Pusat Data Redaksi)***
Diarsipkan di bawah: Pemilu 2009
LAIN dulu, lain sekarang. Dulu, tokoh populer adalah sosok yang menyita perhatian banyak orang. Kini, tokoh populerlah yang mesti memerhatikan orang banyak. Paling tidak, hal seperti itu harus dilakukan oleh tokoh-tokoh populer yang kini ikut menyemarakkan panggung politik tanah air.
Sederet nama tokoh populer muncul menjadi caleg DPR RI. Kelak, mereka menjadi wakil rakyat di Senayan yang sejatinya memerhatikan rakyat.
Tokoh-tokoh populer yang akan bertarung memperebutkan kursi DPR ini beragam, dari kalangan artis, tokoh politik, hingga pejabat pemerintahan. Para tokoh ini menjadikan popularitasnya sebagai salah satu modal untuk memenangi pertarungan politik.
Popularitas artis diyakini mampu mendongkrak perolehan suara partai politik pada Pemilu 2009. Fenomena ini bukan barang baru, mengingat pada Pemilu 2004 tercatat 25 artis yang maju menjadi caleg DPR RI di semua dapil yang diusung oleh 14 partai politik. Pada Pemilu 2009, untuk dapil Jabar saja tercatat sedikitnya 20 artis menjadi caleg DPR RI, diusung 12 parpol.
Selain dari kalangan artis, terdapat pula tokoh berbagai bidang yang memiliki popularitas tinggi. Seperti mantan pejabat, pakar, akademisi, atau yang sebelumnya menjadi anggota DPR RI atau DPRD provinsi. Artinya, caleg tak hanya dituntut memiliki kredibilitas, popularitas pun menjadi harga tak bisa ditawar.
Berdasarkan data KPU yang dihimpun Pusat Data Redaksi “PR”, dari 11 dapil Jabar tercatat 1.806 caleg dari 38 parpol yang akan bertarung menghadapi Pemilu 2009. Dari jumlah itu, muncul sederet nama yang berasal dari kalangan artis dan sebagian lagi dari tokoh populer.

Di dapil Jabar 1 (Kota Cimahi dan Kota Bandung), tujuh kursi di DPR RI akan diperebutkan oleh 156 caleg. Dari kalangan artis muncul oleh Tengku Firmansyah (PKB), Marissa Haque (PPP), dan Ahmad Wijaya atau yang akrab dipanggil Bangkit Sanjaya (Golkar).
Sementara dari kalangan tokoh populer muncul nama Setia Permana (mantan Ketua KPU Jabar/PDIP), Dadang Garnida (mantan Kapolda Jabar/Partai Barisan Nasional), Agus Yasmin (Ketua DPRD Kab. Bandung/Golkar), dan Anwaruddin (Ketua IKAPI Jabar/PBB).
Tak hanya itu, anggota DPR RI yang ikut kembali dari Golkar, yakni Popong Otje Djundjunan, Happy Bone Zulkarnaen, Daday Hudaya, dan Eggi Hamzah.
Di dapil Jabar 2 (Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat), sepuluh kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 175 caleg. Di antaranya muncul nama artis Derry Drajat (PAN), Theresia E.E Pardede yang lebih dikenal dengan nama Tere (PD), Rieke Diah Pitaloka (PDIP), Rachel Mariam Sayidina (Partai Gerindra).
Dari kalangan tokoh populer muncul nama Nu`man Abdul Hakim (mantan Wagub Jabar/PPP). Selain itu, ada pula anggota DPR RI yang mencalonkan kembali, yaitu Taufiq Kiemas (PDIP), Ferry Mursyidan Baldan (Golkar), dan Dedy Djamaludin Malik (PAN).
Di dapil Jabar 3 (Kab. Cianjur dan Kota Bogor), sembilan kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 172 caleg. Di dapil ini muncul nama artis Sabrina Piscalia dari Partai Pemuda Indonesia. Dari kalangan tokoh populer ada Suryadharma Ali (Menteri KUKM/PPP).
Di dapil Jabar 4 (Kab./Kota Sukabumi), empat kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 126 caleg, termasuk oleh artis Inggrid Maria Palupi Kansil (PD).
Di dapil Jabar 5 (Kab. Bogor), sembilan kursi DPR RI akan diperebutkan 197 caleg. Di dapil ini muncul nama artis Marini K.S. atau Marini Zumarnis (PAN) dan Muchin Umar Alatas atau Muchsin Alatas (Partai Hanura).
Selain artis, ada pula tokoh penting lain, seperti Drs. H.A.M. Ruslan (Ketua DPRD Jabar) dan Agus Utara Effendi (mantan Bupati Bogor). Keduanya dari Golkar. Kemudian, anggota DPR RI yang mencalonkan kembali, yaitu Nugraha Besoes, Airlangga Hartarto (keduanya dari Golkar), dan Max Sopacua (PD).
Di dapil Jabar 6 (Kota Bekasi dan Kota Depok), enam kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 169 caleg. Di dapil ini tidak muncul nama artis. Tokoh yang muncul adalah Didik J. Rachbini (pengamat ekonomi/PAN). Sementara anggota DPR RI yang mencalonkan kembali di dapil Jabar 6 adalah Dedi Djamaludin Malik (PAN).
Di dapil Jabar 7 (Kab. Purwakarta, Karawang, dan Kab. Bekasi), sepuluh kursi DPR RI diperebutkan oleh 194 caleg. Muncul nama artis Nurul Arifin (Golkar), M. Taufik Hidayat atau lebih dikenal sebagai Tito Sumarsono (PAN), Imam G. Manik atau yang akrab disapa El Manik (Partai Matahari Bangsa), dan Hendra Cipta (Partai Republik Nusantara).
Di dapil Jabar 8 (Kab./Kota Cirebon dan Kab. Indramayu), sembilan kursi diperebutkan oleh 162 caleg. Nama artis yang ada di dapil 8, yakni Nurul Komar (PD) dan Yuyun Sukowati Dewi (Partai Indonesia Sejahtera). Sementara, anggota DPRD Jabar yang ikut bertarung adalah Tetty Kadi Bawono (Golkar).
Lalu, di dapil Jabar 9 (Kab. Majalengka, Sumedang, dan Kab. Subang), delapan kursi DPR RI diperebutkan oleh 154 caleg. Artis yang bertarung di dapil ini adalah Primus Yustisio (PAN). Selain itu, tokoh populer yang ikut bertarung, Tutty Hayati Anwar (mantan Bupati Majalengka/Golkar).
Di dapil Jabar 10 (Kab. Ciamis, Kuningan, dan Kab. Banjar) tujuh kursi DPR RI diperebutkan oleh 130 caleg. Artis yang meramaikan dapil Jabar adalah Cucu Suryaningsih atau yang akrab disapa Evie Tamala (PPP). Sementara tokoh populer yang ikut adalah Eka Santosa (anggota DPR RI/PDIP).
Terakhir, untuk dapil Jabar 11 (Kab./Kota Tasikmalaya dan Kab. Garut), sepuluh kursi DPR RI diperebutkan oleh 171 caleg. Dari kalangan artis muncul nama Gitalis Dwi Natania atau Gita KDI (PKB).
Dengan strategi popularitas ini, parpol berpeluang mendulang banyak kursi di DPR RI. Akan tetapi, bisa saja peluang ini berbalik. Menilik hasil Pemilu 2004 dan beberapa pilkada di Jabar, seorang caleg artis atau tokoh populer belum tentu dipercaya dan dipilih.
Pemilih menyadari bahwa popularitas harus disertai tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap caleg bersangkutan serta kualitas parpol yang mengusungnya. (Eric Senjaya/Gandara Panji Nugraha, Pusat Data Redaksi)***
Diarsipkan di bawah: Polling Eric_574nk | Tag: Eric Senjaya, GOlkar, GOLPUT, Megawati, PAN, Parpol, Partai Demokrat, PDIP, Pemilu 2009, PKS, Polling, PPP, Susilo Bambang Yudhoyono
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Hidup
Apa yang telintas di benak anda ketika mendengar kata ”Sampah”? Ya, konotasi sampah adalah sesuatu yang kotor, bau, dan menjijikan. Apalagi di kota besar seperti Bandung dengan perkembangan yang meroket seperti mall, jumlah penduduk, dan lain sebagainya, tentu salah satu dampaknya adalah sampah.
Sebagai catatan, sampah di kota bandung per hari tak kurang dari 6900 meter kubik. Dengan rincian, sampah yang berasal dari rumah tangga 4.500 m3/hari, sampah pasar 600 m3/hari, kawasan komersial 300 m3/hari, kawasan non komersial 300 m3/hari, kawasan industri 750 m3/hari, serta sampah jalanan 450 m3/hari.
Menyikapi dahsyatnya permasalahan sampah ini, apa yang bisa dilakukan urang Bandung untuk mengurangi volume sampah?
Salah satu teknologi yang kini tengah marak adalah dengan pengomposan sampah organik. Teknik pengomposan ini dirasa paling tepat karena berdasarkan hasil studi komposisi dan karakteristik yang dilakukan BPPT, komposisi sampah terbanyak adalah sampah organik (73,98%) sedangkan sisanya adalah bahan anorganik.
Teknologi ini bukan barang baru, sejak 1986 sudah diterapkan di Indonesia namun hasilnya baru menginjak angka 1,8 % dari total sampah yang ada. Pengomposan sampah organik pun baru dilakukan dalam tahap skala kecil melalui Unit Daur Ulang dan Produksi Kompos (UDPK) yang ada di TPA. Artinya, menggiatkannya secara massal di setiap rumah untuk meminimalisir sampah rumah tangga adalah hal yang tak bisa ditawar.
Berdasarkan catatan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah provinsi Jawa barat (BPLHD jabar), pengomposan adalah salah cara untuk mengolah bahan padatan organik menjadi kompos. Pengomposan adalah proses degradasi materi organik menjadi stabil melalui reaksi biologis mikroorganisme dalam kondisi yang terkendali.
Tahapannya dimulai dari memilah sampah organik dan anorganik. Cara memilahnya cukup mudah. Sampah organik mudah terurai menjadi tanah seperti sisa-sisa sayuran. Pemilahan harus dilakukan dengan teliti karena akan menentukan kelancaran proses dan mutu kompos yang dihasilkan. Setelah sampah dipilah, perkecil ukuran sampah organik tadi agar cepat didekomposisi menjadi kompos.
Bahan organik yang telah melewati tahap pemilahan dan pengecilan ukuran kemudian disusun menjadi tumpukan. Biasanya, desain penumpukan adalah desain memanjang dengan panjang 12 meter, lebar 2 meter, dan tinggi 1,75 meter. Jangan lupa memberi terowongan bambu (windrow) di setiap tumpukan agar tersedia udara di dalam tumpukan.
Kemudian, balikkan sampah yang telah ditumpuk. Selain untuk membuang panas yang berlebihan, pembalikkan ini berfungsi memasukkan udara ke dalam tumpukan, meratakan proses pelapukan di setiap bagian tumpukan, meratakan pemberian air, serta membantu penghancuran bahan menjadi partikel kecil-kecil.
Setelah tahapan pembalikan, diperlukan pula penyiraman. Untuk memeriksa apakah perlu disiram atau tidak, caranya dengan memeras segenggam bahan dari bagian dalam tumpukan. Bila pada saat diperas tidak keluar air, maka tumpukan sampah harus disiram, sedangkan bila sebelum diperas sudah keluar air, tak perlu disiram, cukup dilakukan pembalikan.
Proses tadi berjalan selama kurang lebih sebulan, suhu tumpukan akan semakin menurun hingga mendekati suhu ruangan. Pada saat itu tumpukan telah lapuk, berwarna coklat tua atau kehitaman. Kompos masuk pada tahap pematangan selama 14 hari.
Seusai pematangan, biasanya dilakukan penyaringan untuk memperoleh kompos dengan ukuran yang diinginkan sembari memisahkan bahan-bahan yang tidak dapat terurai yang lolos dari proses pemilahan awal. Bahan yang belum terkomposkan dikembalikan ke dalam tumpukan yang baru, sedangkan bahan yang tidak terkomposkan dibuang sebagai residu.
Sekarang, kompos siap digunakan. Bisa dipakai untuk menguatkan struktur lahan kritis, menggemburkan tanah pertanian dan taman, sebagai media tanam, atau dijual untuk menambah penghasilan.
Cukup mudah dan bermanfaat, bukan? Sudah waktunya menerapkan teknologi pengolahan sampah. Dengan mengurangi sampah yang dibuang dan menjadikannya kompos tentu akan mempercepat Bandung menjadi Green and Clean. Ingat, wariskan Kota Bandung yang hijau dan bersih kepada anak cucu, jangan wariskan sampah! (Eric Senjaya, praktisi lingkungan)
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
”Aneh nya di kota mah. Mun usum halodo hese cai, warga ngalantri mareuli cai. Ari pas usum hujan, kalahkah banjir, warga ngarungsi. Kunaon ieu teh?”
Ya. Kondisi seperti inilah yang kerap terjadi di Kota besar. Tak hanya di Bandung, keadaan serupa terjadi di beberapa kota besar seperti Jakarta dan kota lainnya. Salah satu penyebab, kurangnya area resapan air.
Di musim penghujan, tanah di kota yang hamper seluruhnya dilapisi semen dan aspal membuat air hujan tak bisa merembes dengan lancar ke dalam tanah. Kota tak ubahnya seperti bak penampung air raksasa. Kondisi ini diperparah dengan minimnya daerah resapan air seperti taman dan ruang terbuka hijau.
Tak selesai sampai di situ. Masalah lain muncul di musim kemarau. Penyerapan air yang kurang maksimal di musim hujan tadi membuat cadangan air tanah pun menjadi sedikit. Alhasil, warga sukar memperoleh air tanah di musim kemarau. Dalam kondisi ekstrem, terkadang di musim hujan pun masih sulit mendapat air bersih. Bila ini dibiarkan, tentu kita mengalami krisis air bersih yang tanda-tandanya belakangan sudah terasa.
Sebab itu, pemerintah melalui Kementerian Negara Lingkungan Hidup RI mendengungkan Gerakan Sumur Resapan. Gerakan yang terdiri dari membuat parit resapan, area resapan, dan sumur resapan ini cukup mudah diterapkan di perumahan warga kota.
Sumur Resapan adalah sistem resapan buatan yang bisa menampung air hujan baik berupa sumur, parit maupun taman resapan. Cara membuatnya dibedakan menurut kondisi rumah dan lingkungannya. Yaitu sumur resapan untuk rumah bertalang air, rumah tak bertalang air, dan sumur resapan untuk area terbuka atau taman.
Untuk rumah bertalang air, pembuatan sumur resapan bisa dilakukan di lokasi yang berjarak satu meter atau lebih dari pondasi rumah dan dekat dengan lokasi talang pembuangan air hujan. Setelah ditentukan lokasi yang tepat, buat sumur dengan diameter 80 hingga 100 cm sedalam 1,5 meter tetapi jangan melebihi muka air tanah.
Rumah bertalang air. Sumber:kementrian Negara Lingkungan Hidup RI
Untuk memperkuat dinding tanah, masukkan besi beton tiga buah dengan panjang masing-masing 50 cm. Jika tidak ada besi beton, dapat digunakan batu bata.
Air hujan yang keluar dari talang air dimasukkan ke dalam sumur resapan melalui pipa pemasukan. Tak ketinggalan, pada sumur resapan diberi pipa pembuangan ke selokan atau drainase jalan agar air tidak meluap. Ketinggian pipa pembuangan harus lebih tinggi dari drainase jalan itu.
Kemudian, lubang sumur resapan diisi batu koral setebal 15 cm dan bagian atas sumur resapan ditutup dengan plat beton. Di atas plat beton penutup ini dapat dimodifikasi menjadi taman atau dipasang pot-pot tanaman agar tampak cantik.
Sementara itu, bila rumah anda tak bertalang air, tak perlu khawatir. Bisa digunakan tambahan parit dengan lubang biopori dan bak kontrol sebelum air masuk ke sumur resapan.
Caranya, Anda bisa membuat parit sepanjang curahan air hujan dari atap dengan lebar 20 hingga 30 cm dengan kedalaman 10 hingga 15 cm. Di dalam parit, buat sepuluh lubang resapan biopori dengan jarak merata sepanjang parit. Lubang resapan biopori dibuat menggunakan bor biopori sedalam kurang lebih 1,5 meter.
Apabila jarak parit pendek sehingga jumlah lubang resapan biopori tidak terpenuhi, maka curahan air hujan dari atap dapat dihubungkan dengan sumur resapan yang mempunyai bak kontrol sebagai penyaring endapan. Lubang resapan berpori tersebut ditutup dengan saringan sebelum ditimbun batu koral.
Terakhir, bila dirumah anda memiliki areal terbuka atau taman, pembuatan area resapan pun bisa dilakukan. Caranya, di halaman atau taman rumah dibuatkan pembatas tembok yang tingginya 5 hingga 10 cm sehingga air hujan akan terkumpul.
Buatkan pula lubang-lubang resapan dengan kedalaman sekira 30 cm yang tersebar di taman, sebaiknya dibuat dekat tanaman sehingga tanaman tidak perlu disiram dan tidak kelebihan air pada musim hujan
Tertarik? Segera tangkap air hujan di sekitar rumah anda agar krisis air bersih dan banjir tak menjadi langganan. Lakukan segera agar dimusim kemarau tak kekurangan air, di musim hujan tak kelebihan air (banjir). Selamat mencoba! (Eric Senjaya,praktisi lingkungan)
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Hidup
Kalkulator dengan energi matahari, itu biasa. Handpone dengan energi matahari, kok bisa?
Ya. krisis energi yang melanda dunia mau tidak mau memaksa para peneliti memutar otak untuk mencari energi alternatif pengganti listrik. Salah satunya adalah penggunaan panel surya (solar cell) yang bisa merubah energi matahari menjadi energi listrik.
Apalagi penggunaan batu baterai baik pada handphone maupun peralatan lain sudah waktunya dikurangi karena dikategorikan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) layaknya limbah batu bara.
Belakangan salah satu vendor ponsel tengah gencar membuat handphone bertenaga matahari ini. Dengan kelebihan tak perlu mencharge ke sumber listrik, tentunya ponsel dengan konsep serupa akan diadopsi oleh vendor yang lain. Kehadiran ponsel hijau ini tentu bisa mengurangi ketergantungan pada sumber listrik dari energi batu bara yang tak ramah lingkungan.
Berdasarkan catatan yang dilansir situs www.cellular.co.id, ide ini bukan sesuatu yang baru, tapi komitmen vendor untuk menghadirkan ponsel solar cell makin mencuat saat ajang tahunan CommunicAsia 2009 di Singapura. LG dan Samsung Mobile menjadi vendor yang mengedepankan solar cell phone saat itu.
Yang menarik dari Samsung berbasis sel surya adalah seri Blue Earth. Ponsel yang akan diluncurkan dua bulan kedepan ini terbuat dari material ramah lingkungan dan plastik daur ulang.
Sementara itu, vendor dari korea, LG Mobile, menawarkan penempatan solar cell pada cover baterai, konsep ini sebelumnya dimunculkan LG dalam ajang World Mobile Congress 2009 di Barcelona. Identitas ponsel solar cell yang belum diekspose ini rencananya akan dipasarkan akhir tahun ini dengan target pasar Eropa.
Ibarat dua sisi mata uang, pengembangan sel surya sebagai energi ponsel masih sebatas alternatif pendukung bagi energi listrik. Pasalnya, jika hanya mengandalkan sel surya, dalam keadaan cuaca berawan atau malam hari kita akan kesulitan untuk mencharge. Padahal, satu jam pengisian baterai hanya bisa memberikan daya sekitar 2 jam waktu siaga.
Kendati demikian, langkah yang ditempuh kedua vendor tadi patut diacungi jempol. Apalagi ketika keadaan darurat seperti berkemah di hutan atau mitigasi bencana di daerah terpencil, kita tetap bisa berkomunikasi tanpa repot mencari sumber listrik. (Eric Senjaya, praktisi lingkungan)
sumber www.selular.co.id
Diarsipkan di bawah: Lingkungan Hidup

“Ketika air terakhir sudah diminum, ketika ikan terakhir sudah dimakan, ketika pohon terakhir sudah ditebang, kelak manusia akan menyadari bahwa uang bukanlah segalanya.”
Pepatah Indian kuno ini sedikitnya memberi gambaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan bagi kelangsungan hidup manusia. Masih segar dalam ingatan kita tentang Konferensi PBB untuk Perubahan Iklim (UNCCC) di Bali dua tahun silam. Salah satu catatan yang perlu digarisbawahi dari konferensi itu adalah keinginan negara-negara berkembang untuk mendapatkan teknologi ramah lingkungan untuk mengurangi emisi guna mencegah pemanasan global.
Secara singkat, Teknologi Ramah Lingkungan (TRL) adalah aplikasi teknologi yang menggunakan sumber daya lingkungan yang lebih efisien. TRL menggunakan bahan baku material dan energi lebih efisien, mengeluarkan limbah lebih sedikit, serta dampak yang ditimbulkan relatif lebih kecil dari teknologi yang ada.
Kendati kini kemajuan TRL masih menjadi barang langka dan didominasi negara-negara maju, kita tak perlu khawatir. Kita bisa menerapkan TRL di rumah secara sederhana. Kita bisa memulainya dari makanan.
Usahakan mengonsumsi makanan dengan wadah yang bisa dipakai ulang. Memang, makanan kemasan terlihat praktis, tahan lama, dan tampak lebih cantik. Namun, akan lebih bijak jika sampah kemasan makanan ini dapat dikurangi. Sebagai catatan, penyumbang terbesar sampah saat ini berasal dari kemasan makanan.
Dari makanan meluas ke rumah tinggal yang ramah lingkungan (eco house). Konsep eco house dimulai dengan hal-hal sederhana semisal penghematan listrik, air, serta pembuangan limbah rumah tangga yang tidak dialirkan langsung ke got melainkan menggunakan peresapan sendiri. Demikian pula penggunaan bahan yang bisa digunakan kembali seperti mengganti tissue dengan kain lap atau sapu tangan.
Selain itu, hindari penggunaan barang yang mengandung CFC. Sebab, penggunaan CFC bisa merusak lapisan ozon di atmosfer. Biasanya CFC digunakan pada kulkas dan pewangi ruangan. Tak ketinggalan, pilah sampah di dapur sesuai jenisnya yaitu sampah organik dan anorganik. Sampah organik dibuat kompos, sementara sampah anorganik dijual ke pengepul.
Kemudian, gunakan aspek energi yang ramah lingkungan yaitu energi matahari. Mengeringkan cucian di terik matahari lebih ramah lingkungan ketimbang menggunakan mesin pengering. Selain itu, gunakan sel surya yang mampu menghasilkan listrik dari energi matahari sehingga mengurangi penggunaan listrik dari PLN.
Tak hanya itu, desain rumah pun harus menghemat energi. Dengan sistem ventilasi dan penataan taman yang tepat mampu menghemat penggunaan listrik pada lampu dan pendingin ruangan.
Aspek yang tak kalah penting adalah transportasi. Alat transportasi paling ramah lingkungan adalah sepeda. Belakangan, para pejabat di lingkungan pemerintah daerah di Jawa Barat tengah mengampanyekan penggunaan sepeda untuk menghemat energi. Selain sepeda yang dikayuh, sudah banyak dikembangkan sepeda yang memiliki sel surya untuk menyerap energi matahari sehingga mampu menempuh jarak ribuan kilometer.
Jelas bahwa sebenarnya banyak yang bisa dilakukan untuk menjadikan rumah menjadi lebih ramah lingkungan. Kemajuan teknologi harus senada dengan peningkatan kesadaran pada lingkungan. Bila kita ramah terhadap lingkungan, niscaya lingkungan pun ramah kepada kita. (Eric Senjaya, praktisi lingkungan)
Diarsipkan di bawah: Pemilu 2009, Riset Pilkada 2008 | Tag: GOlkar, PDIP, Pemilu 2009, Pemilu Legislatif
MASYARAKAT yang cerdas dalam memilih wakil-wakilnya di legislatif menjadi salah satu output yang diharapkan dari pesta demokrasi, Pemilu Legislatif 2009, sehingga tidak terjebak memilih “kucing dalam karung”.
Untuk “menaksir” para caleg, selain melihat track record caleg yang sudah berpengalaman menjadi anggota dewan, ada tiga unsur lagi yang dapat dijadikan faktor untuk diamati, yaitu rentang usia, domisili, dan latar belakang pendidikan.

Faktor persentase usia caleg diperlukan untuk mengamati “pertarungan” kaum muda yang menjanjikan perubahan dengan kaum tua yang lebih berpengalaman. Sementara, faktor domisili caleg digunakan untuk memetakan kedekatan antara caleg dan masyarakat, juga pengenalan caleg akan karakteristik masalah daerah pemilihan (dapil) masing-masing. Pendidikan caleg juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menakar kualitas caleg.
Lalu, bagaimana profil usia, domisili, dan pendidikan para caleg pada Pemilu Legislatif 2009?
Komisi Pemilihan Umum (KPU) membagi rentang usia caleg berdasarkan Peraturan KPU No. 18/2008 yaitu yang berusia 21-30 tahun, kemudian 31-50 tahun, dan yang berusia 51 tahun ke atas. Dari tiga kategori itu, bisa diasumsikan, caleg muda adalah caleg yang berusia 21-30 tahun dan caleg tua yang berumur 51 tahun ke atas.
Menilik data Klarifikasi Biodata Singkat Bakal Calon Anggota DPRD Jabar dari KPU Jabar, dari 38 partai peserta Pemilu 2009, hanya 32 partai yang memasukkan caleg muda. Enam partai yang tak mengajukan caleg muda adalah Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB), Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), Partai Merdeka, dan Partai Buruh.
Dari 32 partai itu, jumlah seluruh caleg muda berdasarkan Daftar Calon Tetap (DCT) adalah 174 orang. Sementara jumlah caleg berusia tua jauh lebih besar, 413 orang. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa caleg sepuh dan mungkin sudah berpengalaman dalam berpolitik jumlahnya mendominasi wajah calon anggota legislatif di Jabar.
Partai Keadilan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah dua partai yang terbanyak memasukkan caleg muda. PKB dan PDIP masing-masing menyumbang 17 orang (9,77%). Angka ini diikuti oleh Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) dan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK). PDP dan PDK masing-masing menyumbang 10 orang (5,75%). Kemudian, Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia menyumbang 9 orang (5,17%).
Sementara itu, caleg yang berusia 51 tahun ke atas atau caleg tua, diajukan oleh 36 dari 38 partai. Dua partai yang tak mengajukan caleg tua adalah Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) serta Partai Perjuangan Indonesia Baru. Mayoritas caleg tua berasal dari Partai Golkar (PG), yakni 65 orang (15,7%). Diikuti oleh PPP sebanyak 35 orang (8,5%), Partai Demokrat 26 orang (6,3%), PDIP 24 orang (5,8%) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 23 orang (5,6%).
Selain faktor usia, faktor domisili juga turut mewarnai wajah demokrasi di Jabar. Dari faktor domisili ini muncul istilah caleg lokal dan “caleg impor”. Caleg lokal adalah caleg yang berdomisili sesuai dapil, sementara caleg impor adalah caleg yang berdomisili di luar dapil.
Caleg lokal tampaknya harus bersaing ketat dengan “caleg impor”. Pasalnya, ada 643 orang (41%) caleg yang tidak berdomisili di dapil tempat ia dicalonkan. Sementara caleg lokal berjumlah 936 orang (59%).
Caleg impor yang tidak mengenali daerah pemilihannya bisa berdampak buruk bagi kehidupan berdemokrasi di Jabar. Salah satunya adalah tidak tersalurkannya aspirasi rakyat karena wakil rakyatnya kurang memahami karakteristik daerah dan apa yang diperlukan rakyatnya.
Partai Golkar, PDIP, serta Partai Hanura adalah penyumbang terbesar caleg-caleg yang tidak berdomisili di dapil bersangkutan. Partai Golkar menyumbangkan 59 orang, sementara PDIP dan Hanura masing-masing 38 dan 37 orang.
Mengenai pendidikan caleg DPRD Jabar. Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Data Redaksi “PR” dari KPU Jabar, ada beberapa tingkat pendidikan bagi caleg yang tertera di DCT yaitu lulusan SLTA atau sederajat, diploma tiga (D-3/ahli madya), strata satu (S-1/sarjana), strata dua (S-2/magister), dan strata tiga (S-3/doktor).
Berdasarkan pembagian tersebut, caleg berpendidikan S-1 berjumlah paling banyak yaitu 811 orang (51,3%). Diikuti caleg berpendidikan SLTA sebanyak 476 orang (30,11%), caleg lulusan S-2 sebanyak 177 orang (11,2%). Di urutan keempat dan kelima diduduki caleg lulusan D-3 dan S-3. Caleg D-3 tercatat ada 113 orang (7,15%) dan caleg S-3 sebanyak empat orang (0,25%).
Politisi senior Tjetje Hidayat Padmadinata mengatakan, semenjak Pemilu 1951, 1971, 1977, hingga Pemilu 2004 lalu, belum banyak perubahan yang terjadi di masyarakat. “Masyarakat awam pada umumnya tidak mau ambil pusing dengan figur calon anggota legislatif. Keberpihakan masyarakat awam pada umumnya adalah pada partai peserta pemilu,” ujar Tjetje.
Mengenai kriteria caleg yang ideal, Tjetje mengatakan, calon yang baik adalah calon yang mengenal dan dikenal masyarakatnya. “Konteksnya dengan DPRD Jawa Barat adalah calon legislatif di Jawa Barat dan dari Jawa Barat.”
Setelah mengamati usia, domisili, dan pendidikan calon wakil rakyat Jabar, sejatinya masyarakat Jabar bisa menyikapinya dengan arif. Apa pun atau siapa pun yang ditawarkan, kedewasaan dan kecerdasan memilih menjadi kuncinya. (Eric Senjaya/Vetriciawizach/Pusat Data Redaksi “PR”)***
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Selasa, 16 Desember 2008 | 08:52 WIB
A Wisnu Nugroho
Tanggal 9 September 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono genap berusia 60 tahun. Sebutan ”eyang” kini disandangnya setelah Almira Tunggadewi Yudhoyono, cucunya, lahir pada 17 Agustus 2008.
Usia tidak pernah berbohong. Tumpukan rambut putih di kepala Presiden yang tersisir rapi ke kanan kian bertambah dibandingkan tahun sebelumnya. Rambut itu dibiarkan memutih tanpa upaya menutupinya.
Selain kesadaran bertambahnya usia, makin banyaknya rambut putih di kepala dimaknai Presiden sebagai dampak dari banyaknya waktu yang dipakai untuk bekerja. Moto ”state that never sleep” membimbingnya. Rapat pagi, siang, atau malam di hari kerja atau di hari libur adalah bagian dari konsekuensinya.
Untuk tersitanya banyak waktu keluarga pembantunya di tengah-tengah hari libur, Presiden pernah minta maaf secara pribadi. Anggota keluarga pembantunya tersenyum, menyambut permintaan maafnya.
Setelah kunjungan ke Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, Presiden menggelar rapat kabinet di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (14/12). Dampak krisis keuangan global yang tak ringan membuat intensitas rapat meningkat, seperti pada awal pemerintahan.
”Semakin banyaknya rambut putih di kepala merupakan tanda kami terus bekerja,” ujar Presiden di teras Kantor Presiden, Jakarta, yang diguyur gerimis, akhir pekan lalu.
Banyaknya jumlah rambut putih di kepala mungkin sama dengan banyaknya jumlah berbagai jenis rapat yang dipimpinnya selama empat tahun memerintah. Ada rapat koordinasi, rapat kabinet terbatas, rapat kabinet paripurna, rapat kabinet paripurna yang diperluas, dan berbagai rapat lainnya.
Berbagai jenis rapat yang dapat digelar di mana saja dan kapan saja juga menurunkan berat badan Presiden. Waktu makan kerap terlewat. Gulai kikil yang disiapkan untuk makan siang Jumat lalu, misalnya, baru disantap sekitar pukul 15.00.
”Berat badan saya naik turun selama empat tahun terakhir. Namun, belakangan ini berat badan saya turun,” ujar Presiden saat menunggu kedatangan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi.
Dengan rapat itu, Presiden hendak menunjukkan kepada rakyat, pemerintah bekerja keras. Hasil kerja itu biasanya diumumkan seusai rapat. Jika hasilnya kabar gembira, Presiden yang mengumumkannya.
Penurunan harga bahan bakar bersubsidi jenis premium dan solar, misalnya. Selain mengumumkan kebijakan umum, angka ratusan rupiahnya disebut juga. Kabar gembira seperti ini pastinya tidak akan menambah rambut putih di kepala atau menurunkan berat badannya.
Di setiap tantangan tersedia juga peluang. Di setiap musibah juga ada berkah. Musibah resesi keuangan dunia mungkin belum sangat terasa. Namun, berkahnya berupa merosotnya harga minyak mentah dunia telah dinikmati dan dirayakan bersama. Pengumuman turunnya harga premium dan solar adalah awal dari perayaan itu.
Kebanyakan rakyat menyambutnya dengan gembira. Sambutan gembira penting, mengingat keinginan Yudhoyono untuk maju kembali dalam Pemilihan Presiden 2009 telah dinyatakannya.
Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, Anies R Baswedan menganalogikan tahun 2009 sebagai tahun ”ujian nasional” bagi kepemimpinan Presiden Yudhoyono. Setelah empat tahun menghadapi ”ujian lokal” dengan adanya kesempatan membuat perbaikan, 2009 menjadi masa penentuan kelulusan.
Tidak ringannya ”ujian nasional” pasti akan menambah helai rambut putih dan menurunkan berat badannya. Karena itu, perlu beberapa kali kabar gembira untuk mencegahnya?
Wisnu Nugroho A
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
elasa, 16 Desember 2008 | 12:24 WIB
KARAKAS, SELASA — Presiden Venezuela Hugo Chavez yang anti-AS, Senin (15/12), menyanjung wartawan Irak yang melemparkan sepatunya ke Presiden AS George W Bush sebagai pria berani.
Chavez, yang selama bertahun-tahun juga melontarkan penghinaan terhadap presiden AS, mengatakan, ia tersenyum lebar selama pemutaran gambar mengenai peristiwa tersebut selama pertemuan kabinet yang ditayangkan stasiun televisi Venezuela.
“Untung (sepatu) itu tidak mengenai dia. Saya tidak mendorong orang melempar sepatu ke siapa pun, tapi sungguh, betapa berani pelempar sepatu itu,” katanya.
Wartawan Irak Muntazer Al-Zaidi melemparkan kedua sepatunya ke Bush dan menyebut dia “anjing” selama konferensi pers di Baghdad pada Minggu. Ulahnya itu membuat Zaidi langsung terkenal di seluruh dunia dan mendapat dukungan luas di Timur Tengah.
Chavez adalah pengkritik perang AS melawan teror di Irak dan Afghanistan dan sering kali menyebut Bush “Keledai”, “Pemabuk”, atau “Bapak Bahaya”.
Ia paling terkenal menyebut Bush “Iblis”, selama pidato di markas PBB di New York, sambil mengendus udara dan mengatakan masih tercium bau belerang setelah Bush meninggalkan podium.
Selama 10 tahun memangku jabatan, Chavez getol menggalang dukungan banyak negara, termasuk Iran, Kuba, dan Rusia guna membuat lemah pengaruh Washington di pentas dunia.
Stasiun televisi Venezuela pada hari Senin dilaporkan menayangkan kembali cuplikan peristiwa pelemparan sepatu itu.
ONO
Sumber : Ant
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
elasa, 16 Desember 2008 | 12:24 WIB
KARAKAS, SELASA — Presiden Venezuela Hugo Chavez yang anti-AS, Senin (15/12), menyanjung wartawan Irak yang melemparkan sepatunya ke Presiden AS George W Bush sebagai pria berani.
Chavez, yang selama bertahun-tahun juga melontarkan penghinaan terhadap presiden AS, mengatakan, ia tersenyum lebar selama pemutaran gambar mengenai peristiwa tersebut selama pertemuan kabinet yang ditayangkan stasiun televisi Venezuela.
“Untung (sepatu) itu tidak mengenai dia. Saya tidak mendorong orang melempar sepatu ke siapa pun, tapi sungguh, betapa berani pelempar sepatu itu,” katanya.
Wartawan Irak Muntazer Al-Zaidi melemparkan kedua sepatunya ke Bush dan menyebut dia “anjing” selama konferensi pers di Baghdad pada Minggu. Ulahnya itu membuat Zaidi langsung terkenal di seluruh dunia dan mendapat dukungan luas di Timur Tengah.
Chavez adalah pengkritik perang AS melawan teror di Irak dan Afghanistan dan sering kali menyebut Bush “Keledai”, “Pemabuk”, atau “Bapak Bahaya”.
Ia paling terkenal menyebut Bush “Iblis”, selama pidato di markas PBB di New York, sambil mengendus udara dan mengatakan masih tercium bau belerang setelah Bush meninggalkan podium.
Selama 10 tahun memangku jabatan, Chavez getol menggalang dukungan banyak negara, termasuk Iran, Kuba, dan Rusia guna membuat lemah pengaruh Washington di pentas dunia.
Stasiun televisi Venezuela pada hari Senin dilaporkan menayangkan kembali cuplikan peristiwa pelemparan sepatu itu.
ONO
Sumber : Ant
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Selasa, 16 Desember 2008 | 04:37 WIB
MUNTAZER al-Zaidi (28), Senin (15/12), mendadak terkenal. Dia bahkan dianggap sebagai “pahlawan”, terutama oleh kelompok anti-AS dan anti-Presiden AS George W Bush, setelah melemparkan sepatu ke arah Bush, Minggu. Tidak ada yang tahu motif wartawan koresponden stasiun TV Al-Baghdadia di balik pelemparan sepatu itu.
Zaidi tiba-tiba saja marah dan melemparkan sepatunya secara bergantian ketika Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki bersiap-siap menjawab pertanyaan wartawan. Kolega-kolega Zaidi menuturkan, selama ini Zaidi kerap menyampaikan laporannya dari Distrik Sadr City, Baghdad, Irak. Daerah itu termasuk ”markas” tokoh radikal Syiah, Moqtada al-Sadr.
Pernah diculik
Bahkan, menurut teman-temannya, Zaidi pernah diselamatkan Tentara Mahdi, milisi Sadr, ketika diculik selama lebih dari dua hari oleh kelompok bersenjata, November 2007. Selama diculik, kedua matanya ditutup dengan kain dan tidak makan atau minum. Ia dipukuli hingga pingsan dan tidak pernah tahu identitas penculiknya. Ia dicerca dengan pertanyaan seputar pekerjaannya, tetapi kelompok itu tidak meminta uang tebusan.
Rekan-rekan Zaidi mengakui, Zaidi membenci Bush dan menuding Bush bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Irak setelah invasi AS tahun 2003. Tidak jelas apakah ia kehilangan anggota keluarga akibat gejolak kekerasan di Irak.
Saking bencinya pada AS dan Bush, Zaidi disebut-sebut pernah ingin melancarkan serangan. Tidak jelas apakah itu serangan bersenjata atau hanya sekadar melempar sepatu.
Namun, menurut rekannya di Al-Baghdadia kantor Baghdad, Zaidi memang sejak lama ingin melemparkan sepatunya ke arah Bush jika ada kesempatan. ”Ketika dia bilang ingin melakukan itu, kami semua tidak ada yang percaya. Dia membenci AS. Benci tentara AS. Benci Bush,” kata rekan Zaidi yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Lulusan Baghdad University itu telah bekerja di Al-Baghdadia selama tiga tahun. Salah seorang pejabat di Al-Baghdadia mengaku, keluarganya pernah ditahan pada masa rezim Saddam. Kini Zaidi ditahan Pemerintah Irak. Jika terbukti bersalah menghina kepala negara yang tengah berkunjung, ia terancam minimal hukuman dua tahun penjara atau 15 tahun penjara jika terbukti melakukan percobaan pembunuhan. (REUTERS/AFP/AP/LUK)
Sumber : Kompas Cetak
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Selasa, 16 Desember 2008 | 09:30 WIB
BAGHDAD, SENIN — Ribuan warga Irak turun ke jalan untuk menuntut dibebaskanya reporter yang melempar Presiden Bush dengan sepatu, Senin (15/12) waktu setempat.
Sebelumnya, pejabat saluran televisi Irak, Al-Baghdadia, juga menyerukan agar wartawannya bernama Muntazer al-Zaidi tersebut dibebaskan.
Zaidi melemparkan sepatunya ke arah Presiden George W Bush dalam konferensi pers di Baghdad, Minggu (14/12).
Massa berkumpul di Distrik Sadr City, Baghdad, mengelu-elukan Muntazer al-Zaidi sebagai pahlawan dan menuntut dibebaskan dari penahanan. Sebaliknya, pejabat Irak menggambarkan insiden itu mempermalukan.
Pernyataan yang rilis oleh Pemerintah Irak mengatakan, aksi Zaidi, yang juga memaki Presiden Bush, mengancam reputasi wartawan Irak dan jurnalisme Irak pada umumnya.
Manajemen stasiun televisi Baghdadia mengatakan, Zaidi harus dibebaskan karena dia melaksanakan kebebasan berpendapat, sesuatu yang dijanjikan Amerika kepada rakyat Irak ketika menggulingkan Saddam Hussein.
Lemparan sepatu hampir saja mengenai Presiden Bush, dan Zaidi yang langsung diringkus oleh penjaga keamanan sekarang ditahan.
Memuji tindakan
Saudara laki laki pelaku pelemparan, Uday, memuji tindakan Zaidi yang ingin dilakukan orang orang lain. “Jutaan warga Irak dan jutaan orang lain di dunia ingin melakukan apa yang Zaidi kerjakan atau aksi yang sama dengan itu,” kata Uday.
“Alhamdulilah dia memiliki keberanian untuk melakukannya dan membalas dendam orang Irak terhadap pihak yang merusak dan menduduki negaranya serta membunuh penduduknya,” katanya.
Lebih dari 5 juta orang menjadi yatim piatu akibat (kebijakan) Bush menginvasi Irak pada 2003. “Lebih dari 5 juta orang menjadi yatim piatu karena Bush dan para pembantunya. Kami mengatakan Alhamdulilah karena Zaidi membuat kami bangga,” kata Uday.
Sementara itu, saudara laki laki lain, Durgham, mengatakan Zaidi hanya menyampaikan pesan warga Irak kepada pendudukan Amerika yang diwakilkan Presiden Bush.
Menurut Durgham, Zaidi tidak bermaksud mengejek Al-Maliki atau Pemerintah Irak. “Dalam hatinya, Zaidi memiliki pesan yang ingin disampaikan semua warga Irak kepada kekuatan pendudukan lewat Presiden Bush,” katanya.
ONO
Sumber : BBC
www.eric-senjaya.co.nr
























