www.eric-senjaya.co.nr


20 Artis Bertarung di Dapil Jabar
14 November 2008, 02:40
Filed under: Pemilu 2009

LAIN dulu, lain sekarang. Dulu, tokoh populer adalah sosok yang menyita perhatian banyak orang. Kini, tokoh populerlah yang mesti memerhatikan orang banyak. Paling tidak, hal seperti itu harus dilakukan oleh tokoh-tokoh populer yang kini ikut menyemarakkan panggung politik tanah air.

Sederet nama tokoh populer muncul menjadi caleg DPR RI. Kelak, mereka menjadi wakil rakyat di Senayan yang sejatinya memerhatikan rakyat.

Tokoh-tokoh populer yang akan bertarung memperebutkan kursi DPR ini beragam, dari kalangan artis, tokoh politik, hingga pejabat pemerintahan. Para tokoh ini menjadikan popularitasnya sebagai salah satu modal untuk memenangi pertarungan politik.

Popularitas artis diyakini mampu mendongkrak perolehan suara partai politik pada Pemilu 2009. Fenomena ini bukan barang baru, mengingat pada Pemilu 2004 tercatat 25 artis yang maju menjadi caleg DPR RI di semua dapil yang diusung oleh 14 partai politik. Pada Pemilu 2009, untuk dapil Jabar saja tercatat sedikitnya 20 artis menjadi caleg DPR RI, diusung 12 parpol.

Selain dari kalangan artis, terdapat pula tokoh berbagai bidang yang memiliki popularitas tinggi. Seperti mantan pejabat, pakar, akademisi, atau yang sebelumnya menjadi anggota DPR RI atau DPRD provinsi. Artinya, caleg tak hanya dituntut memiliki kredibilitas, popularitas pun menjadi harga tak bisa ditawar.

Berdasarkan data KPU yang dihimpun Pusat Data Redaksi “PR”, dari 11 dapil Jabar tercatat 1.806 caleg dari 38 parpol yang akan bertarung menghadapi Pemilu 2009. Dari jumlah itu, muncul sederet nama yang berasal dari kalangan artis dan sebagian lagi dari tokoh populer.

artis

Di dapil Jabar 1 (Kota Cimahi dan Kota Bandung), tujuh kursi di DPR RI akan diperebutkan oleh 156 caleg. Dari kalangan artis muncul oleh Tengku Firmansyah (PKB), Marissa Haque (PPP), dan Ahmad Wijaya atau yang akrab dipanggil Bangkit Sanjaya (Golkar).

Sementara dari kalangan tokoh populer muncul nama Setia Permana (mantan Ketua KPU Jabar/PDIP), Dadang Garnida (mantan Kapolda Jabar/Partai Barisan Nasional), Agus Yasmin (Ketua DPRD Kab. Bandung/Golkar), dan Anwaruddin (Ketua IKAPI Jabar/PBB).

Tak hanya itu, anggota DPR RI yang ikut kembali dari Golkar, yakni Popong Otje Djundjunan, Happy Bone Zulkarnaen, Daday Hudaya, dan Eggi Hamzah.

Di dapil Jabar 2 (Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat), sepuluh kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 175 caleg. Di antaranya muncul nama artis Derry Drajat (PAN), Theresia E.E Pardede yang lebih dikenal dengan nama Tere (PD), Rieke Diah Pitaloka (PDIP), Rachel Mariam Sayidina (Partai Gerindra).

Dari kalangan tokoh populer muncul nama Nu`man Abdul Hakim (mantan Wagub Jabar/PPP). Selain itu, ada pula anggota DPR RI yang mencalonkan kembali, yaitu Taufiq Kiemas (PDIP), Ferry Mursyidan Baldan (Golkar), dan Dedy Djamaludin Malik (PAN).

Di dapil Jabar 3 (Kab. Cianjur dan Kota Bogor), sembilan kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 172 caleg. Di dapil ini muncul nama artis Sabrina Piscalia dari Partai Pemuda Indonesia. Dari kalangan tokoh populer ada Suryadharma Ali (Menteri KUKM/PPP).

Di dapil Jabar 4 (Kab./Kota Sukabumi), empat kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 126 caleg, termasuk oleh artis Inggrid Maria Palupi Kansil (PD).

Di dapil Jabar 5 (Kab. Bogor), sembilan kursi DPR RI akan diperebutkan 197 caleg. Di dapil ini muncul nama artis Marini K.S. atau Marini Zumarnis (PAN) dan Muchin Umar Alatas atau Muchsin Alatas (Partai Hanura).

Selain artis, ada pula tokoh penting lain, seperti Drs. H.A.M. Ruslan (Ketua DPRD Jabar) dan Agus Utara Effendi (mantan Bupati Bogor). Keduanya dari Golkar. Kemudian, anggota DPR RI yang mencalonkan kembali, yaitu Nugraha Besoes, Airlangga Hartarto (keduanya dari Golkar), dan Max Sopacua (PD).

Di dapil Jabar 6 (Kota Bekasi dan Kota Depok), enam kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 169 caleg. Di dapil ini tidak muncul nama artis. Tokoh yang muncul adalah Didik J. Rachbini (pengamat ekonomi/PAN). Sementara anggota DPR RI yang mencalonkan kembali di dapil Jabar 6 adalah Dedi Djamaludin Malik (PAN).

Di dapil Jabar 7 (Kab. Purwakarta, Karawang, dan Kab. Bekasi), sepuluh kursi DPR RI diperebutkan oleh 194 caleg. Muncul nama artis Nurul Arifin (Golkar), M. Taufik Hidayat atau lebih dikenal sebagai Tito Sumarsono (PAN), Imam G. Manik atau yang akrab disapa El Manik (Partai Matahari Bangsa), dan Hendra Cipta (Partai Republik Nusantara).

Di dapil Jabar 8 (Kab./Kota Cirebon dan Kab. Indramayu), sembilan kursi diperebutkan oleh 162 caleg. Nama artis yang ada di dapil 8, yakni Nurul Komar (PD) dan Yuyun Sukowati Dewi (Partai Indonesia Sejahtera). Sementara, anggota DPRD Jabar yang ikut bertarung adalah Tetty Kadi Bawono (Golkar).

Lalu, di dapil Jabar 9 (Kab. Majalengka, Sumedang, dan Kab. Subang), delapan kursi DPR RI diperebutkan oleh 154 caleg. Artis yang bertarung di dapil ini adalah Primus Yustisio (PAN). Selain itu, tokoh populer yang ikut bertarung, Tutty Hayati Anwar (mantan Bupati Majalengka/Golkar).

Di dapil Jabar 10 (Kab. Ciamis, Kuningan, dan Kab. Banjar) tujuh kursi DPR RI diperebutkan oleh 130 caleg. Artis yang meramaikan dapil Jabar adalah Cucu Suryaningsih atau yang akrab disapa Evie Tamala (PPP). Sementara tokoh populer yang ikut adalah Eka Santosa (anggota DPR RI/PDIP).

Terakhir, untuk dapil Jabar 11 (Kab./Kota Tasikmalaya dan Kab. Garut), sepuluh kursi DPR RI diperebutkan oleh 171 caleg. Dari kalangan artis muncul nama Gitalis Dwi Natania atau Gita KDI (PKB).

Dengan strategi popularitas ini, parpol berpeluang mendulang banyak kursi di DPR RI. Akan tetapi, bisa saja peluang ini berbalik. Menilik hasil Pemilu 2004 dan beberapa pilkada di Jabar, seorang caleg artis atau tokoh populer belum tentu dipercaya dan dipilih.

Pemilih menyadari bahwa popularitas harus disertai tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap caleg bersangkutan serta kualitas parpol yang mengusungnya. (Eric Senjaya/Gandara Panji Nugraha, Pusat Data Redaksi)***



Popularitas tidak Menjadi Jaminan
14 November 2008, 02:36
Filed under: Pemilu 2009

FENOMENA artis menjadi calon legislatif (caleg) bukan hal baru lagi. Sejak empat bulan lalu, media massa sibuk memberitakan artis-artis ibu kota yang dipinang oleh berbagai partai politik. Hampir semua stasiun televisi, melalui beragam acara, baik yang bersifat hiburan maupun berita, berkali-kali menayangkan topik tersebut.

Fenomena ini mengundang berbagai pertanyaan. Dari masalah kapabilitas artis itu, pengenalan artis terhadap daerahnya, hingga penerimaan masyarakat terhadap status selebriti menjadi bahan pertanyaan di benak warga.

popularitas-tidak

Untuk menjawab salah satu pertanyaan tersebut, Lembaga Survey Indonesia (LSI) mencoba menganalisis fenomena tersebut dengan melakukan survei ke beberapa daerah. Survei tersebut disebar di tujuh belas provinsi di Indonesia, ke berbagai lapisan masyarakat, kelompok, jenis kelamin, desa/kota, usia, pendidikan, agama, etnis, dan pendapatan.

Salah satu poin yang dinyatakan dalam survei adalah mengenai penerimaan masyarakat terhadap artis dibandingkan dengan politisi. Masyarakat diminta untuk memilih salah satu dari sepuluh politisi dan sepuluh artis jika pemilihan anggota DPR diadakan saat ini juga.

Hasil survei tersebut menyatakan bahwa 49% masyarakat tidak tahu siapa yang akan dipilih. Salah seorang politisi terkemuka mendapatkan 18,5%, sedangkan posisi empat besar lainnya diduduki para selebriti dengan perolehan 5,6%, 5,2%, 4,5%, dan 3,4%. Nama politisi muncul kembali di urutan keenam dengan perolehan 2,9%.

Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap artis/selebriti sebenarnya tidaklah seramai yang diberitakan. Jika digabungkan, suara masyarakat yang memilih kalangan selebriti hanya sebesar 26,5% (untuk 10 artis). Sementara politisi mendapat 24,1% (untuk 10 politisi). Bila dibandingkan dengan suara masyarakat yang memilih tidak tahu (49%), nilai yang diperoleh artis dan politisi ini dapat dikatakan kecil.

Hal ini dapat diartikan bahwa masyarakat tidak memiliki kecenderungan terhadap kalangan tertentu. Baik politisi maupun artis, yang memiliki nama populer di masyarakat, tidak serta-merta mendapat penerimaan yang baik di masyarakat. Hal ini pun membuktikan bahwa popularitas, walau memiliki peranan penting, bukanlah jaminan sukses untuk berkarier di dunia politik. Selain itu, hasil ini pun dapat diartikan bahwa pemberitaan yang bombastis di televisi tidak dapat mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat.

Partai politik sudah sewajarnya mencermati hal ini. Jumlah caleg dalam daftar calon tetap (DCT) di daerah pemilihan Jabar, yang mencapai angka ribuan, tentu saja membawa aroma persaingan yang ketat. Oleh karena itu, parpol-parpol sudah seharusnya memiliki strategi pemasaran yang tepat untuk mempromosikan calon-calonnya. Popularitas saja tidak cukup.

Begitu pula dengan kaderisasi parpol yang perlu mendapat perhatian. Selayaknya kader partai politiklah yang duduk di posisi “nomor jadi”, bukan artis atau politisi yang memiliki popularitas tinggi agar caleg yang terpilih semakin berkualitas. (Vetriciawizach/Eric Senjaya, Pusat Data Redaksi)***



Sarjana Dominasi Caleg Jabar
29 Oktober 2008, 03:04
Filed under: Pemilu 2009 | Tag: , , , ,

Untuk figur wakil rakyat yang kelak duduk di kursi DPRD Jabar, selain track record politik yang memadai, seyogianya pendidikan menjadi salah satu pertimbangan masyarakat. Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Data Redaksi “PR” dari KPU Jabar, ada beberapa tingkat pendidikan bagi caleg yang tertera di Daftar Caleg Sementara (DCS). Tingkat pendidikan caleg dibagi menjadi lulusan SLTA atau sederajat, Diploma 3 (D-3/ahli madya), Strata 1 (S-1/sarjana), Strata 2 (S-2/magister), dan Strata 3 (S-3/doktor).
Dari total 1.581 orang caleg Jabar di DCS yang tersebar di 11 daerah pemilihan Jabar, mereka bisa dibagi menjadi caleg yang lulusan SLTA, D-3, S-1, S-2, dan S-3. Berdasarkan pembagian tersebut, caleg berpendidikan S-1 berjumlah paling banyak yaitu 811 orang (51,3%). Diikuti caleg berpendidikan SLTA sebanyak 476 orang (30,11%), caleg lulusan S-2 sebanyak 177 orang (11,2%). Di urutan ke empat dan ke lima diduduki caleg lulusan D-3 dan S-3. Caleg D-3 tercatat ada 113 orang (7,15%) dan caleg S-3 sebanyak empat orang (0,25%).
Dari 811 Caleg DPRD Jabar yang berpendidikan S-1, Partai Amanat Nasional adalah partai yang menyumbang caleg terbanyak dengan 66 orang caleg (8,14%). Diikuti Partai Keadilan Sejahtera sebanyak 65 orang (8,01%), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 60 orang (7,4%), dan Partai Persatuan Pembangunan dengan 59 orang (7,27%).
Kemudian, untuk caleg yang berpendidikan SLTA, dari total 476 caleg, Partai Demokrasi Pembaruan memiliki jumlah terbanyak, yaitu 42 orang (8.82%). Diikuti oleh PDIP 31 orang (6.51%), Partai Keadilan Bangsa 29 orang (6.09), dan PKS 25 orang (5.25).
Selanjutnya, untuk caleg yang berijazah S-2, dari total 177 orang, Partai Golkar mencetak angka tertinggi. PG menempatkan 26 orang (14.69%). Setelah PG, penyumbang caleg S-2 terbesar lainnya adalah PPP 21 orang (11.86%), PKB 13 orang (7.34%) dan Partai Hati Nurani Rakyat 12 orang (6.78%).
Untuk caleg D-3, dari 113 orang caleg, PG kembali mencetak angka tertinggi dengan menyumbang 15 orang (13.27%). PG diikuti oleh PDIP 10 orang (8.85%), Partai Hanura 8 orang (7.08%), PKS 7 orang (6.19%).
Terakhir, untuk caleg berijazah tertinggi atau S-3 tercatat ada empat orang. keempat orang ini berasal dari Partai Karya Persatuan Indonesia, Partai Damai Sejahtera, PDIP, dan Partai Buruh, yang menyumbang masing-masing satu orang.
Setelah mengamati pendidikan calon wakil rakyat Jabar ini, sejatinya masyarakat bisa menyikapi dengan arif. (Eric Senjaya/Gandara Panji Nugraha/Pusat Data Redaksi)***



Caleg Tua Masih Mendominasi

Yang muda yang tidak dipercaya, belum tua belum boleh bicara. Tagline (slogan) iklan rokok ini terngiang kembali menjelang Pemilu Legislatif (Pileg) 2009.

Para calon anggota legislatif (caleg) berusia muda tentu berusaha meyakinkan masyarakat dengan “menentang” tagline ini. Kaum muda menjanjikan perubahan. Sementara, parpol yang mayoritas calegnya berusia tua, tentu berusaha mengamini tagline itu. Alasannya, yang tua lebih berpengalaman.

Sejak lama, dikotomi pemimpin tua dan pemimpin muda memang marak diperbincangkan. Bagaimana posisi caleg muda dan caleg tua dalam daftar calon sementara (DCS) 2009?

Sebelum menganalisis caleg muda dan caleg tua, perlu ditetapkan batasan usia terlebih dahulu. Penetapan rentang usia caleg itu didasarkan Peraturan KPU No. 18/2008 tentang Pedoman Pencalegan.

Pada klasifikasi biodata singkat bakal calon anggota DPR/DPRD provinsi/DPRD kab./kota, tercantum tiga kategori usia caleg. Kategori pertama, caleg yang berusia 21 -30 tahun, kemudian 31 -50 tahun. Terakhir, caleg yang berusia 51 tahun ke atas.

Dari tiga kategori itu, bisa dikatakan, caleg muda adalah caleg yang berusia 21-30 tahun dan caleg tua adalah caleg yang berumur di atas 51 tahun. Setelah ditetapkan batasan usia antara caleg tua dan caleg muda, barulah bisa diamati persentase keduanya dalam pertarungan caleg Jabar.

Menilik data Klarifikasi Biodata Singkat Bakal Calon Anggota DPRD Jabar dari KPU Jabar, dari 38 partai peserta Pemilu 2009, hanya 32 partai yang memasukkan caleg muda. Parpol yang tidak mengajukan caleg muda adalah Partai Perjuangan Indonesia Baru, Partai Pemuda Indonesia, Partai Penegak Demokrasi Indonesia, Partai Merdeka, dan Partai Buruh

caleg-tua1

Dari 32 parpol itu, jumlah seluruh caleg muda berdasarkan DCS adalah 174 orang. PKB dan PDIP adalah dua partai yang terbanyak memasukkan caleg muda, masing-masing menyumbang 17 orang (9,77%).

Disusul Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) dan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK), masing-masing menyumbang 10 orang (5,75%). Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia menyumbang 9 orang (5,17%).

Sementara itu, caleg yang berusia 51 tahun ke atas atau caleg tua, dari 38 parpol hanya 36 parpol yang mengajukan caleg tua. Dua parpol yang tak mengajukan caleg tua adalah Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia serta Partai Perjuangan Indonesia Baru.

Dari 36 parpol, jumlah total caleg tua yang ada di DCS adalah 413 orang. Mayoritas caleg tua berasal dari Partai Golkar. PG memiliki 65 orang caleg berusia tua (15,7%), diikuti oleh PPP dengan jumlah 35 orang (8,5%).

Caleg berusia tua terbanyak setelah PG dan PPP adalah caleg dari Partai Demokrat (PD) sebanyak 26 orang (6,3%), PDIP 24 orang (5,8%) dan Hanura 23 orang (5,6%).

Berdasarkan jumlah caleg muda dan caleg tua itu, PKB menyandang gelar penyumbang caleg muda terbanyak, sementara Partai Golkar sebagai penyumbang caleg tua terbanyak.

Menilik data klasifikasi caleg berdasarkan usia ini, ada satu hal yang harus dipegang oleh parpol, yakni penetapan caleg muda atau tua jangan diinterpretasikan sebatas penarik suara.

Pada posisi tersebut, para caleg tidak hanya bertarung dengan caleg tua atau caleg muda. Akan tetapi, bertarung dengan keinginan pribadi untuk menjaga amanah rakyat yang dipercayakan padanya. (Eric Senjaya/Gandara Panji Nugraha/Pusat Data Redaksi)***



“Kemenangan” Golput 2009
13 Oktober 2008, 05:47
Filed under: Pemilu 2009, Riset Pilkada 2008

Belakangan media diramaikan oleh angka 40% untuk golput pada Pemilu Legislatif 2009. Hal ini terlontar bukan tanpa alasan, angka golput pada pilkada yang terjadi belakangan rata-rata berada di kisaran itu.

Namun, golput tidak dapat diprediksi naik atau turun. Pasalnya, menurut Heri Suherman, Kabag Hukum dan Humas KPU Provinsi Jawa Barat, tidak berpartisipasi bukan berarti golput. Bisa saja karena alasan teknis.

Heri menambahkan bahwa angka golput untuk Pileg 2009 tak bisa ditakar. Yang bisa, berapa angka yang berpartisipasi atau tidak berpartisipasi? Apakah naik atau turun dari angka Pileg 2004?

Untuk menakar besar angka partisipasi Pileg 2009, bisa digunakan jumlah partisipan Pemilu 1971 hingga 2004. Alasannya, ada kecenderungan yang menarik dari perjalanan tingkat partisipasi pemilu di tanah air. (lihat grafik 1).

golput1

Menilik grafik 1, jumlah partisipan terbesar selama pemilu di Indonesia terjadi pada pemilu pertama, 1971. Tercatat tingkat partisipasi masyarakat sebesar 94% dari total pemilih. Artinya, mereka yang tidak berpartisipasi hanya sebesar 6%.

Tingginya angka partisipasi pada Pemilu 1971 karena merupakan pemilu pertama di era Orde Baru. Pemilu 1971 merupakan pengalaman pertama rakyat Indonesia melakukan pemilu karena pada era Orde Lama belum pernah dilangsungkan pemilu. Oleh karena itu, masyarakat sangat antusias menyambut pemilu pertama ini. Mereka berharap ada perubahan yang berarti bagi kehidupan masyarakat.

Namun, dalam pemilu berikutnya tahun 1977, tingkat partisipasi menurun menjadi 90,6%. Artinya, yang tidak berpartisipasi meningkat 3,4% menjadi 9,4%. Berarti, ada kekecewaan dari masyarakat yang tengah berpartisipasi pada Pemilu 1971. Sebagian tak merasakan perubahan yang berarti sehingga memutuskan untuk tidak berpartisipasi.

Hal ini senada dengan pemilu berikutnya 1982, 1987, 1992, dan 1997. Angka partisipasi semakin menurun, sedangkan angka golput makin tinggi.

Akan tetapi, pada pemilu berikutnya tahun 1999, tingkat partisipasi masyarakat kembali menanjak menjadi 93,3%. Hanya 6,7% yang tidak berpartisipasi. Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama di era reformasi, dengan lengsernya Soeharto sebagai presiden. Masyarakat begitu antusias dalam pemilu ini karena berharap terjadinya perubahan dalam kehidupan politik dan bermasyarakat dalam era reformasi.

Lagi-lagi Pemilu 2004 mengalami kemunduran dalam hal partisipasi pemilih. Tingkat partisipasi masyarakat menurun tinggal 84,4% atau mengalami persentasi penurunan sebanyak 4,9% dari total pemilih. Angka pemilih yang tidak berpartisipasi pada Pemilu 2004 merupakan yang tertinggi sepanjang perjalanan pemilu di negeri ini, mencapai 15,9%.

Masyarakat tampaknya kecewa dengan hasil pemilu sebelumnya. Kekecewaan pertama terjadi pada pemilu kedua (1977) di era Orde Baru yang dirasa tak membawa perubahan. Disusul oleh pemilu kedua di Orde Reformasi (1999). Orde Reformasi yang diharapkan membawa angin segar dalam perubahan di negeri ini, ternyata tak terbukti.

Menilik perjalanan inilah, bisa diprediksi berapa angka pemilih yang partisipasi atau yang tidak berpartisipasi dalam Pileg 2009. Oleh sebab itu, untuk menakar tingkat partisipasi Pileg 2009, digunakan data partisipasi Pemilu 1971 hingga 2004. Data disajikan pada grafik 1.

Namun, angka perolehan Pemilu 1977 dan 1999 harus dinormalisasi. Maksudnya, angka Pemilu 1977 disesuaikan dengan angka Pemilu 1971 dan 1982. Sementara angka pemilu 1999 disesuaikan dengan Pemilu 1997 dan Pemilu 2004.

Pasalnya, data Pemilu 1977 dan 1997 merupakan data pencilan (outliner), yaitu data yang dianggap menyimpang dari distribusi data secara keseluruhan sehingga hasil Pemilu 1971 hingga 2004 setelah datanya dinormalisasi disajikan pada grafik 2.

Mengapa angka partisipasi 1977 dan 2004 harus dinormalisasi? Dengan menormalisasi perolehan pada dua periode pemilu itu, kita bisa mendapatkan kecenderungan (tren) dari tingkat partisipasi dan golput di Indonesia. Kecenderungan itu bisa digunakan untuk menakar angka golput Pemilu 2009.

golput2

Pada Grafik 2 ini, garis biru tipis adalah tingkat partisipasi pemilu yang dinormalisasi, sedangkan garis hitam tebal adalah kurva pendekatan. Berdasarkan kurva pendekatan, dapat dilihat prediksi tingkat partisipasi untuk Pileg 2009 diperkirakan di atas 80% dan yang tidak berpartisipasi di bawah 20%.

Meski ini sekadar hitung-hitungan biasa, angka ini senada dengan Heri yang juga menaksir angka partisipasi sebesar 80%. Heri memprediksi angka ini berdasarkan angka partisipasi Pemilu 2004 yang bertengger di angka 84,1%. Sementara penurunan dari 84,1% menjadi 80% diprediksi dari tingkat partisipasi pada pilkada dan pilgub yang mencapai 67%.

Namun, angka partisipasi 80% ini belum tentu sesuai dengan hasil rekapitulasi suara Pileg 2009. Pasalnya, angka ini didapat dengan asumsi kondisi sosial pemilih stabil dengan pemilu sebelumnya. Sementara aspek sosial pemilih selalu berfluktuasi dan tentu tak mudah diprediksi. (Eric Senjaya/Pusat Data Redaksi)***



Peta Kekuatan Partai Politik Pemilu 2009 di Jawa Barat
13 Oktober 2008, 05:40
Filed under: Pemilu 2009 | Tag: , , ,

Partai Golkar (PG) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Ya, dua partai besar inilah yang selalu duduk di urutan teratas pemilu di Indonesia. Sejak pemilu Orde Baru hingga reformasi, kinerja kedua mesin politik ini memang tak bisa dipandang sebelah mata. Tak pelak, gerak-gerik mereka di Pemilu 2009 mengundang banyak analisis politik.

Memang, sebagian warga Jabar kerap menaksir hasil pemilu berdasarkan perolehan suara kedua parpol ini. Konon, bila Golkar menang, berarti PNS akan sejahtera. Sementara PDIP yang menang, berarti wong cilik yang menjadi prioritas.

Sejak lama, dominasi dua mesin politik itu di Jawa Barat tampak kontras. Ini bisa dilihat dari banyaknya daerah basis massa dari masing-masing parpol. Suatu daerah biasanya identik dengan parpol tertentu. Semisal Kabupaten Purwakarta identik sebagai basis massa Golkar, sementara Kabupaten Subang identik dengan PDIP.

peta-kekuatan

Menilik catatan KPU, pada Pemilu 1999, PDIP menguasai 32,6 persen dari lebih dari 23 juta suara sah yang masuk di Jabar. Perolehan suara terbesar PDIP berasal dari Kabupaten Subang 43,7 persen, sementara terkecil dari Kabupaten Garut 17,9 persen. Bisa dikatakan bahwa Kabupaten Subang dan Kabupaten Garut adalah dua dari semua basis massa PDIP di Jabar.

Lain halnya dengan Golkar. Di Pemilu 1999, partai berlambang pohon beringin ini hanya mengantungi 23,4 persen suara. Penyumbang suara terbanyak berasal dari Kabupaten Purwakarta 39,0 persen dan terkecil dari Kabupaten Cirebon 12,6 persen.

Menariknya, belakangan hampir semua daerah basis massa ini mulai berubah haluan. Kabupaten/kota yang sebelumnya identik dengan parpol tertentu mulai mengubah pilihannya.

Anomali ini bisa dilihat dengan membandingkan hasil Pemilu 1999 dan Pemilu 2004. Sebagian besar pemilih tidak mencoblos parpol yang sama. Bisa dari basis massa Golkar yang beralih menjadi PDIP, atau sebaliknya.

Oleh karena itu, perolehan suara PDIP di Pemilu 2004 menurun tajam dibandingkan dengan Pemilu 1999. Malah, penurunan suara PDIP itu terjadi di semua kabupaten/kota se-Jabar.

Pasalnya, banyak basis massa PDIP berubah menjadi Golkar. Ini terjadi di Kabupaten Bandung, Ciamis, Indramayu, Karawang, dan Kabupaten Subang, serta Kota Cirebon. Malah, di Kota Sukabumi, Depok, Bekasi, dan Kota Tasikmalaya, PDIP tak masuk urutan tiga teratas.

Alhasil, banyak suara PDIP yang diserap Golkar. Tak pelak, di Pemilu 2004 Golkar berhasil menggondol 17,67 persen suara, diikuti PDIP 11,09 persen.

Selain saling menggembosi suara antara Golkar dan PDIP itu, perolehan suara mereka pun semakin berkurang dengan kehadiran Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Kondisi ini dibuktikan dengan eksistensi PKS yang duduk di tiga teratas di beberapa daerah yang semula adalah basis massa Golkar dan PDIP. Sebut saja Kota Bandung, Kabupaten/Kota Bekasi, Kabupaten/Kota Bogor, Kota Depok, dan Kabupaten Kuningan.

Untungnya, Golkar dan PDIP masih memiliki basis massa militan. Golkar memiliki basis massa militan di Kabupaten Cianjur, Kabupaten Garut, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Sukabumi, dan Kabupaten Tasikmalaya. Sementara itu, PDIP memiliki basis massa di Kabupaten Subang, Kabupaten Cirebon, dan Kabupaten Majalengka.

Selain itu, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memiliki basis massa di Kota Tasikmalaya. Diikuti PKS yang memiliki basis massa di Kota Bandung, Kota Depok, dan Kota Bekasi.

Dengan demikian, berdasarkan basis massa itu, setidaknya gambaran awal peta politik Jabar bisa didapat. Dengan catatan bahwa Pemilu 2009 akan senada dengan Pemilu 2004 dan Pemilu 1999 dari segi basis massa pemilih.

Peta politik 2009

Kini, masyarakat Jabar akan dihadapkan pada Pemilu 2009. Tak hanya PDIP, Golkar, dan PKS saja yang akan bertarung. Tercatat 38 parpol yang akan bergelut.

Malah ada yang pecahan dari parpol besar. Seperti Hanura dan Gerindra yang berasal dari Golkar. Kemudian Partai Demokrasi Pembaruan dari PDIP. Yang berasal dari gabungan Golkar dan PDIP pun ada, yakni Partai Karya Perjuangan.

Tentu dengan pecahan parpol ini sedikitnya bisa memengaruhi perolehan suara parpol induknya yang semula. Meski menurut beberapa pakar politik perolehan suara parpol baru ini takkan melebihi angka 2,5 persen, namun bisa jadi menggembosi perolehan parpol asalnya.

Dengan demikian, tentu bagi parpol lama yang masih memiliki basis massa yang militan seperti Golkar dan PDIP, perlu diperluas jangkauan parpolnya agar bisa meraup suara di basis massa lawan politik.

Salah satu jalan, bisa melalui koalisi. Bila Golkar dan PDIP berkoalisi di Pemilu 2009, ada dua hal yang mungkin terjadi. Pertama, semakin jelas ideologi PDIP dan Golkar sebagai duet partai nasionalis. Kemudian, duet PDIP-Golkar juga akan melahirkan pemerintah yang kuat.

Presiden dari kedua partai itu tak akan mudah diintervensi DPR. Pasalnya, di Pemilu 2004 saja, kedua partai itu mendulang 237 kursi legislatif. Dengan adanya duet Golkar-PDIP tentu bisa mendapatkan suara mayoritas di DPR.

Tak hanya itu, mereka pun bisa memperkecil jumlah partai melalui peningkatan electoral threshold (suara minimal yang mesti diperoleh sebuah partai dalam pemilu agar partai itu bisa ikut pemilu berikutnya) agar pemilu berikutnya tak diikuti terlalu banyak parpol.

Sementara, beberapa pakar politik berasumsi bila kedua partai itu bersatu, mereka bisa mendulang 60 persen suara. Meski itu adalah perolehan yang menggiurkan, tetapi ajang ini semata-mata bukanlah sarana mendulang suara saja, tetapi lebih kepada hasil yang demokratis dan bisa mengemban amanah rakyat sebaik-baiknya. (Eric Senjaya/Pusat Data Redaksi)***



Menakar Kekuatan Caleg

Suhu politik Jawa Barat menjelang Pemilu Legislatif 2009 menghangat seiring penetapan calon legislatif oleh partai politik yang akan bertarung memperebutkan kursi DPR RI, DPRD provinsi, dan kursi DPRD kabupaten/kota. Meski daftar caleg itu rencananya baru akan disahkan KPU 9 September 2009, namun banyak kalangan yang mulai menakar peta kekuatan parpol berdasarkan calon legislatif yang diajukan parpolnya.
Cara menganalisis dan menakar peta kekuatan caleg dalam Pileg 2009 yang paling mudah adalah menggunakan perolehan suara Pileg 2004. Maksudnya, bila pemilih Jabar konsisten memilih caleg dari parpol yang sama antara Pileg 2004 dan 2009, tentunya hasil yang akan didapat tidak akan berbeda jauh.

peta-kekuatan-caleg-jabar

Menilik hasil pileg DPRD Provinsi Jabar 2004, berdasarkan data KPU, kursi terbanyak diraih Partai Golkar dengan 5.777.935 suara (28 kursi). Diikuti PDIP dengan 3.640.703 suara (19 kursi).
Bila pemilih konsisten terhadap parpol, akan didapat kursi untuk Pileg 2009 seperti disajikan dalam tabel. Sehingga, daftar caleg DPRD Jabar dengan nomor urut 10 besar dari partai Golkar, PDIP, PKS, dan PPP bisa bernapas lega. Sementara daftar caleg 10 besar dari partai dengan perolehan kursi di bawah 10 mungkin agak waswas. Apalagi caleg yang berasal dari parpol yang tak memperoleh kursi sama sekali dalam Pileg 2004.
Namun, yang harus diingat adalah kenyataan bahwa pemilih belum tentu setia dengan pilihannya seperti tahun 2004. Mungkin mereka ingin memilih parpol baru. Bisa saja pemilih Jabar jenuh dengan berbagai pesta pemilihan yang mereka ikuti.
Hal ini bisa dimengerti karena setelah Pileg 2004 itu, pemilih dihadapkan lagi dengan pilbup atau pilwalkot. Dilanjutkan dengan Pilgub Jabar yang dilaksanakan belum lama ini. Tak sedikit warga Jabar yang mengaku jenuh.
Ditambah dengan munculnya partai baru yang menjajakan visi dan misi yang menjanjikan, serta menawarkan wajah baru dan perubahan ke arah yang lebih baik. Hal itu semakin memberi keleluasaan kepada pemilih untuk menentukan partai yang dirasa sejalan dengan mereka. Bisa jadi kehadiran parpol baru ini menggembosi perolehan suara yang sebelumnya diraih parpol lama.
Malah, bukan mustahil pula bila pemilih beralih untuk golput lantaran catatan korupsi para anggota dewan legislatif yang notabene adalah orang yang mereka pilih pada pemilu legislatif tahun 2004. Sehingga, beberapa kemungkinan itu menyebabkan perubahan perolehan suara.
**
Bila Anda terbiasa pergi ke kantor menggunakan mobil sedan, suatu hari menggunakan motor, tentu hal itu akan mengundang pertanyaan. Bila Anda terbiasa pergi ke kantor menggunakan mobil sedan, suatu hari Anda masih menggunakan sedan tetapi tujuannya bukan ke kantor melainkan ke sekolah, itu pun mengundang pertanyaan.
Hal ini senada dengan fenomena yang terjadi belakangan. Bila Anda diibaratkan caleg, mobil sedan adalah parpol “A” dan motor adalah parpol “B”, kantor adalah pileg DPRD Kota “A”, sementara sekolah adalah pileg DPRD kota “B”.
Muncul dua fenomena yang menarik untuk ditelisik. Fenomena pertama adalah caleg yang bergelut di Pileg DPRD Kabupaten/Kota 2004, kembali mengikuti Pileg DPRD Kabupaten/Kota 2009 dengan daerah pemilihan yang sama tetapi dengan parpol pengusung yang berbeda. Jika diibaratkan, caleg yang seperti ini ibarat caleg ”kutu loncat”.
Fenomena lainnya adalah caleg yang mengikuti Pileg 2004, kembali tercatat dalam Pileg 2009 dengan parpol yang sama namun daerah pemilihan yang berbeda. Nah, fenomena caleg yang seperti ini bisa diibaratkan sebagai caleg yang ”diloncatkan” parpolnya.
Hal ini penting, mengingat dua fenomena itu menyebabkan peta kekuatan yang didapat caleg berbeda. Bisa menguntungkan atau malah merugikan caleg yang bersangkutan. Alasannya, salah satu penentu kekuatan caleg terletak pada kinerja mesin politik pengusungnya.
Dimulai dengan fenomena pertama. Misalkan seorang wakil rakyat di DPRD Kota Bandung yang diusung Partai Golkar dari Pemilu 2004, dalam Pemilu 2009 ia menjadi caleg dari PKS. Bagaimana menakar kekuatannya?
Menilik perolehan kursi DPRD Kota Bandung 2004, Partai Golkar mendapat enam kursi. Sehingga, bila sang caleg tadi berada pada urutan ke-10, dia tidak lolos menjadi anggota DPRD Kota Bandung.
Sementara, bila perolehan kursi antara Pileg 2009 sama dengan 2004, maka partai Golkar memperoleh 6 kursi dan PKS 11 kursi. Alhasil, caleg yang berpindah parpol menjadi PKS dan menjadi urutan ke-10 bisa menduduki kursi DPRD Kota Bandung.
Dengan demikian, caleg yang kembali mengikuti Pileg 2009 bisa diuntungkan dengan memilih parpol yang diprediksi akan mendapat jatah kursi lebih banyak dibandingkan dengan parpol pengusung sebelumnya dalam Pileg 2004. Begitu pula sebaliknya, caleg yang memilih parpol baru dengan perolehan kursi yang lebih sedikit dibandingkan dengan parpol sebelumnya tentu merugikan caleg yang bersangkutan.
Fenomena kedua, misalkan seseorang menjadi caleg DPRD Kota Bandung 2004, dia diusung Partai Golkar. Kemudian, pada Pileg 2009 dia kembali diusung Partai Golkar tetapi menjadi caleg DPRD Kota Bogor 2009. Bagaimana pula menakar kekuatannya?
Senada dengan analisis sebelumnya, bila si caleg itu berada pada urutan ke-10, maka dia tidak akan lolos menjadi anggota DPRD Kota Bandung. Menilik perolehan kursi Partai Golkar di Kota Bogor yang mendapat jatah 11 kursi pada Pileg 2004, bila perolehan kursi antara Pileg 2009 sama dengan 2004, maka si caleg yang berpindah daerah itu dan berada di urutan ke-10 bisa menduduki kursi DPRD Kota Bogor.
Dalam kondisi ini pun, caleg yang ikut dalam Pileg 2009 bisa diuntungkan dengan memilih parpol yang sama namun dengan daerah pemilihan yang diprediksi akan mendapat jatah kursi lebih banyak dibandingkan dengan daerah sebelumnya pada Pileg 2004. Begitu pula sebaliknya, caleg yang memilih daerah pemilihan baru dengan perolehan kursi yang lebih sedikit dibandingkan dengan daerah pemilihan sebelumnya tentu merugikan caleg yang bersangkutan.(Eric Senjaya/Pusat Data Redaksi)***

dimuat di HU Pikiran Rakyat



Bisnis Kenari Rawan Aksi Penipuan
29 September 2014, 23:54
Filed under: Uncategorized

KENDAL – Berkembangnya kelompok kicau burung di Tanah Air belakangan ini, mendorong terjadinya perubahan perilaku yang signifikan di tengah masyarakat. Sedikitnya perilaku ini mengerucut menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama, beternak burung untuk kepentingan bisnis. Kelompok kedua, memelihara untuk keperluan yang lebih tendensius lagi, yakni diikutkan dalam berbagai lomba kicau burung.

Kelompok kedua, demikian rajin mengikuti lomba yang diadakan diberbagai daerah. Sebab, burung yang berhasil memenangkan lomba, harganya langsung melangit. Lomba burung dengan komunitasnya, juga secara sadar maupun tidak, ikut andil ‘mendorong’ masyarakat antusias melihat kegiatan tersebut dari jarak dekat dan biasanya, pelan-pelan mereka menjadi tertarik pula.

Peluang yang terbuka lebar di dunia satwa khususnya burung kicau, di satu sisi memang menjanjikan banyak peluang bisnis, namun di sisi lain, tidak jarang membuat peternak atau pebisnis burung, terlibat dalam kasus tindak pidana penipuan. Bahkan, beberapa orang yang tertipu sudah sering menyampaikan ‘unek- uneknya’ melalui internet. Mereka berharap polisi mengambil tindakan tegas terhadap para penipu.

Beberapa aksi penipuan yang acapkali terjadi, dan paling sering dialami oleh para pemula, yakni para peternak (bird farm) maupun pedagang burung kenari, selalu menawarkan burungnya, seolah-olah keturunan F1, yaitu persilangan antara burung kenari impor dengan kenari yang sudah berkembang di Indonesia.

Burung keturunan F1, umumnya memiliki ciri- ciri, badannya relatif lebih besar, lebih panjang dan lebih tinggi posturnya, bila dibandingkan dengan kenari lokal. Namun, tidak jarang, karena minimnya pengetahuan yang dimiliki oleh para pemula, persilangan antara keturunan F1 dengan AF, diakui pihak penjual (termasuk bird farm) sebagai F1.

Seharusnya, persilangan antara F1 dengan AF, akan menghasilkan AF super. Bila F1 nya bagus, maka keturunan hasil persilangan antara F1 dengan AF, sekilas memiliki bentuk yang hampir sama dengan F1. Padahal, perbedaan harga antara F1 dengan AF, relatif besar. Biasanya, untuk F1 jantan rata-rata berkisar antara Rp 1,75 juta hingga Rp 2,5 juta. Sedangkan AF, sekitar Rp 500 ribu hingga Rp 750 ribu.

Dari segi hukum, barang siapa (seseorang) yang dengan sengaja melakukan aksi penipuan (termasuk jenis kenari AF dikatakan F1) dapat dikategorikan sebagai tindakan/ kejahatan pidana dengan ancaman hukuman sekitar 5 tahun. Para pemula yang merasa menjadi aksi penipuan, diharapkan agar melapor ke polisi supaya kasus serupa tidak terulang dan menimpa orang lain. Apalagi bila penawarannya melalui internet, mungkin bisa juga dijerat menggunakan UU IT.

Satu lagi aksi penipuan yang juga sering dijumpai melalui dunia maya adalah, dengan menawarkan jenis kenari tertentu, lengkap dengan nominal harganya. Setelah terjadi deal dari kedua belah pihak, selanjutnya pihak penjual (kadang juga mengaku sebagai pemilik bird farm), minta pembeli segera mengirimkan sejumlah uang yang telah disepakati melalui rekening karena barangnya akan dikirim via trevel.

Namun, begitu uangnya disetorkan, ternyata pihak penjual sama sekali tidak pernah mengirimkan burungnya. Mengingat bisnis melalui internet umumnya dilakukan oleh oleh pembeli dari luar kota, akhirnya bisnis kotor tersebut dibiarkan oleh korbannya. Sebab, bila dilaporkan ke polisi dan kasusnya dilanjutkan sampai ke meja hijau, akan banyak menyita biaya, tenaga serta waktu.

Masih banyak praktik kotor yang dilakukan oleh pedagang maupun bird farm untuk mengeruk keuntungan, seperti membuat sertifikat/ piagam juara palsu alias dibuat sendiri, maupun menjual burung yang tidak sesuai dengan kualifikasinya.

Oleh sebab itu, tidak ada salahnya bagi para kicau mania agar lebih berhati-hati lagi supaya tidak menjadi korban sia-sia berikutnya. Pastikan hanya membeli dari penjual atau peternak yang sangat terpercaya dan memiliki reputasi baik. Transaksi pun dilakukan setelah Anda memantau langsung kondisi dan spesifikasi kenari yang akan dibeli tanpa sistem transfer sejumlah uang.

Sumber : http://burungpekalongan.blogspot.com/2011/06/awas-bisnis-kenari-rawan-aksi-penipuan.html



Keunggulan Kenari AF
29 September 2014, 23:30
Filed under: Uncategorized

Foto1050

Kenari AF banyak digandrungi kicau mania karena posturnya yang mirip kenari yorkshire tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Bila dibandingkan dengan kenari lokal, tentu ukuran kenari AF lebih besar. Salah satu keunggulannya terletak pada kualitas suara dan postur yang baik dengan harga dibawah kenari Yorkshire dan turunannya.

Bayangkan, untuk kenari AF jantan bakalan berumur sekitar 1-3 bulan saja memiliki harga sekitar Rp 350 rb – Rp 500 rb tergantung kualitasnya.

Kenari AF pun tak pernah sepi peminat karena seperti yorkhire kenari ini juga memiliki ciri khas sendiri. Kenari AF merupakan persilangan turunan pertama dari kenari F1 vs kenari lokal /  AF, kenari jenis ini juga memiliki kualitas dan daya saing yang cukup tinggi.

Faktor lain kenapa kenari AF diminati adalah karena ukurannya yang kecil, kenapa? Karena pengalaman membuktikan bahwa burung dengan ukuran kecil memiliki mental yang lebih  suka berkicau alias lebih  gacor dari kenari berukuran besar.

Di perlombaan kenari, ukuran kenari tidak terlalu diperhatikan, faktor penilaian fisik terkadang hanya memperhatikan kelincahan dan bentuknya saja, selebihnya penilaian yang dituntut adalah kenari harus memiliki lagu yang indah, volume keras, gaya  dan tentunya gacor.

tulisan diolah dari www.buncir-birdclub.blogspot.com dan http://www.warungkenari.blogspot.com

Sumber foto : Peternak kenari AF Syahra Bird Farm Purwakarta



Rubrik Konsultasi Kenari AF – Syahra Bird Farm Purwakarta (SBF-PWK)
26 September 2014, 23:24
Filed under: Uncategorized

Foto1530

Punya pengalaman unik seputar kenari AF? Ingin berbagi pola pemeliharaan dan penangkaran kenari AF? Silahkan isi di rubrik ini.

Terima kasih



Syahra Bird Farm Purwakarta (SBF-PWK) – Pencetak kenari AF terbaik dan terpercaya
26 September 2014, 23:10
Filed under: Uncategorized

banner FB

Bismillahirrohmanirrohim,

Assalamualaikum wr. wb.

Maraknya event-event kontes kenari dan membanjirnya kicau mania di Purwakarta tidak diimbangi dengan jumlah penangkaran kenari yang ada. Apalagi peternak pencetak kenari AF yang terbilang sangat langka ditemui di purwakarta. Sekalipun ada, pola ternak dan perawatan yang diterapkan masih menggunakan metode konvensional dengan media pendukung seadanya.

Kami hadir menangkap kondisi ini sebagai peluang usaha yang menjanjikan. Dengan konsep peternakan modern dan perawatan yang maksimal, kami yakin produk kenari AF yang kami hasilkan adalah produk terbaik dengan harga kompetitif.

Demikian, kami tunggu kedatangan anda. Untuk pemesanan dan info lebih lanjut dapat menghubungi 0818 094 88 694.

Wassalamualaikum, wr. wb.

Hormat kami,

CEO SBF Purwakarta,

Untitled-1

Eric Senjaya, S.Si



2012 in review
4 Januari 2013, 13:10
Filed under: Uncategorized

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2012 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

600 people reached the top of Mt. Everest in 2012. This blog got about 6.900 views in 2012. If every person who reached the top of Mt. Everest viewed this blog, it would have taken 12 years to get that many views.

Click here to see the complete report.



Spare Part Alternatif untuk Suzuki Satria F 150

Memiliki tunggangan roda dua yang keren memang idaman setiap orang. Salah satu motor yang kini tengah digandrungi di Indonesia adalah Suzuki Satria F 150. Entah dari sisi style, komunitas, kapasitas mesin, atau sudut pandang lain, motor ini memang menjadi idaman kebanyakan anak muda.

Sebuah majalah otomotif terkemuka di Indonesia mencatat, Suzuki Satria FU 150 masih jadi bebek paling laris Suzuki di 2012. Sejak awal tahun hingga bulan Juni 2012, penjualannya tembus hingga 118.576 unit.

Bagi Anda yang memiliki motor jenis ini, perawatan adalah harga yang tak bisa ditawar. Maklum, barang yang diam saja rentan rusak apalagi kendaraan yang bergerak kesana kemari. Kondisi ini diperparah dengan pola berkendara yang tidak sesuai dengan ketentuan.

Dampaknya, motor kesayangan Anda harus diperbaiki di bengkel dan bisa jadi ada beberapa spare part yang mesti diganti karena aus atau rusak. Salah satu kendala pemilik motor ini adalah harga spare part yang harganya di atas spare part motor Suzuki jenis lain. Kendala lain, beberapa toko onderdil tidak menyediakan spare part satria F 150 dengan alasan harga atau langka. Padahal spare part yang dicari bisa jadi sama dengan spare part Suzuki yang banyak di pasaran seperti smash dan shogun.

Alternatifnya, kita bisa menggunakan spare part motor lain untuk digunakan pada Suzuki Satria F 150. Berdasarkan penelusuran di dunia maya, diskusi dengan mekanik, dan pengalaman memperbaiki motor jenis ini di bengkel milik sendiri, ada beberapa spare part Satria F 150 yang bisa disubstitusi dengan spare part motor jenis lain.

Spare part yang bisa disubstitusi itu diantaranya per kopling, pelat kopling, Tensioner, Handle rem dan kopling, kampas rem depan, kampas rem belakang, jarum pelampung, karet boot kaliper, coil ignition, regulator, Gear Set, Filter Oli, Seal Shockbraker depan, seal tutup shockbraker depan, seal selahan, Seal As gir depan, seal versneling, Seal Roda Belakang, As Roda depan, karet vakum karburator, Aki, dan busi.

Mungkin masih banyak spare part lain yang bisa di substitusi. Namun Spare part yang saya utarakan disini sudah di uji coba di bengkel saya sendiri dan hasilnya memuaskan.

Berikut tabel spare part pengganti untuk suzuki Satria F 150, semoga bermanfaat.

Spare Part Alternatif
Per Kopling Suzuki Satria 120R
Pelat Kopling Suzuki Thunder 125
Tensioner Suzuki Thunder 125
Handle Rem dan Kopling Honda Tiger
Kampas Rem Depan Honda Supra
Kampas Rem Belakang Honda Supra X 125.
Jarum Pelampung Suzuki Smash
Karet Boot Kaliper Honda Supra
Coil Ignition Suzuki Shogun 110
Regulator Suzuki Shogun 110
Gear Set Honda CS1
Filter Oli Suzuki Smash
Seal Shockbraker depan Suzuki Shogun 110
Seal Tutup Shockbraker depan Suzuki Shogun 110
Seal Selahan Suzuki Smash
Seal As Gir Depan Suzuki Thunder 125
Seal Versneling Suzuki Raider 125
Seal Roda Belakang Suzuki Smash
As Roda Depan Suzuki Shogun 125
Karet Vakum Karburator Suzuki Thunder 125
Aki Suzuki Shogun 125
Busi Honda Kharisma

(Eric Senjaya/Pemilik bengkel Syadza Motor Purwakarta)

 



FaceBook Nadine Candrawinata
28 Juli 2012, 14:34
Filed under: Geulis | Tag: ,

Facebook Nadine.. Disini

Ia dikenal masyarakat lewat ajang Putri Indonesia 2005. Saat itu Ia diutus propinsi DKI Jakarta. Bahkan, Ia berkesempatan mewakili Indonesia bertarung di Miss Universe 2006 yang berlangsung di Shrine Auditorium, Los Angeles, Amerika Serikat. Ia berhasil meraih juara kedua untuk Budaya Nasional Terbaik dan Putri Persahabatan.
Siapa lagi kalau bukan Nadine Chandrawinata. Perempuan keturunan Indonesia-Jerman ini, mengenakan gaun tradisional ala Ratu Kencono Wungu atau Tribhuwana Wijayatungga di Miss Universe itu.
Akibat keikutsertaannya dalam acara dunia itu, Bintang film REALITA, CINTA DAN ROCK’N ROLL (2006) ini didemo Mujahidah (anggota FPI) ke Polda Metro Jaya pada 19 Juli 2006. Nadine dituduh melanggar pasal 281 KUHP tentang kesusilaan dalam keikutsertaanya di ajang Miss Universe 2006.
Pemilik tinggi badan 174 cm yang juga kakak bintang sinetron kembar Marcel dan Mischa Chandrawinata ini masih tercatat sebagai mahasiswi London School.
(Eric Senjaya/Sumber:KPL)




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.236 pengikut lainnya.