Belakangan media diramaikan oleh angka 40% untuk golput pada Pemilu Legislatif 2009. Hal ini terlontar bukan tanpa alasan, angka golput pada pilkada yang terjadi belakangan rata-rata berada di kisaran itu.
Namun, golput tidak dapat diprediksi naik atau turun. Pasalnya, menurut Heri Suherman, Kabag Hukum dan Humas KPU Provinsi Jawa Barat, tidak berpartisipasi bukan berarti golput. Bisa saja karena alasan teknis.
Heri menambahkan bahwa angka golput untuk Pileg 2009 tak bisa ditakar. Yang bisa, berapa angka yang berpartisipasi atau tidak berpartisipasi? Apakah naik atau turun dari angka Pileg 2004?
Untuk menakar besar angka partisipasi Pileg 2009, bisa digunakan jumlah partisipan Pemilu 1971 hingga 2004. Alasannya, ada kecenderungan yang menarik dari perjalanan tingkat partisipasi pemilu di tanah air. (lihat grafik 1).

Menilik grafik 1, jumlah partisipan terbesar selama pemilu di Indonesia terjadi pada pemilu pertama, 1971. Tercatat tingkat partisipasi masyarakat sebesar 94% dari total pemilih. Artinya, mereka yang tidak berpartisipasi hanya sebesar 6%.
Tingginya angka partisipasi pada Pemilu 1971 karena merupakan pemilu pertama di era Orde Baru. Pemilu 1971 merupakan pengalaman pertama rakyat Indonesia melakukan pemilu karena pada era Orde Lama belum pernah dilangsungkan pemilu. Oleh karena itu, masyarakat sangat antusias menyambut pemilu pertama ini. Mereka berharap ada perubahan yang berarti bagi kehidupan masyarakat.
Namun, dalam pemilu berikutnya tahun 1977, tingkat partisipasi menurun menjadi 90,6%. Artinya, yang tidak berpartisipasi meningkat 3,4% menjadi 9,4%. Berarti, ada kekecewaan dari masyarakat yang tengah berpartisipasi pada Pemilu 1971. Sebagian tak merasakan perubahan yang berarti sehingga memutuskan untuk tidak berpartisipasi.
Hal ini senada dengan pemilu berikutnya 1982, 1987, 1992, dan 1997. Angka partisipasi semakin menurun, sedangkan angka golput makin tinggi.
Akan tetapi, pada pemilu berikutnya tahun 1999, tingkat partisipasi masyarakat kembali menanjak menjadi 93,3%. Hanya 6,7% yang tidak berpartisipasi. Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama di era reformasi, dengan lengsernya Soeharto sebagai presiden. Masyarakat begitu antusias dalam pemilu ini karena berharap terjadinya perubahan dalam kehidupan politik dan bermasyarakat dalam era reformasi.
Lagi-lagi Pemilu 2004 mengalami kemunduran dalam hal partisipasi pemilih. Tingkat partisipasi masyarakat menurun tinggal 84,4% atau mengalami persentasi penurunan sebanyak 4,9% dari total pemilih. Angka pemilih yang tidak berpartisipasi pada Pemilu 2004 merupakan yang tertinggi sepanjang perjalanan pemilu di negeri ini, mencapai 15,9%.
Masyarakat tampaknya kecewa dengan hasil pemilu sebelumnya. Kekecewaan pertama terjadi pada pemilu kedua (1977) di era Orde Baru yang dirasa tak membawa perubahan. Disusul oleh pemilu kedua di Orde Reformasi (1999). Orde Reformasi yang diharapkan membawa angin segar dalam perubahan di negeri ini, ternyata tak terbukti.
Menilik perjalanan inilah, bisa diprediksi berapa angka pemilih yang partisipasi atau yang tidak berpartisipasi dalam Pileg 2009. Oleh sebab itu, untuk menakar tingkat partisipasi Pileg 2009, digunakan data partisipasi Pemilu 1971 hingga 2004. Data disajikan pada grafik 1.
Namun, angka perolehan Pemilu 1977 dan 1999 harus dinormalisasi. Maksudnya, angka Pemilu 1977 disesuaikan dengan angka Pemilu 1971 dan 1982. Sementara angka pemilu 1999 disesuaikan dengan Pemilu 1997 dan Pemilu 2004.
Pasalnya, data Pemilu 1977 dan 1997 merupakan data pencilan (outliner), yaitu data yang dianggap menyimpang dari distribusi data secara keseluruhan sehingga hasil Pemilu 1971 hingga 2004 setelah datanya dinormalisasi disajikan pada grafik 2.
Mengapa angka partisipasi 1977 dan 2004 harus dinormalisasi? Dengan menormalisasi perolehan pada dua periode pemilu itu, kita bisa mendapatkan kecenderungan (tren) dari tingkat partisipasi dan golput di Indonesia. Kecenderungan itu bisa digunakan untuk menakar angka golput Pemilu 2009.

Pada Grafik 2 ini, garis biru tipis adalah tingkat partisipasi pemilu yang dinormalisasi, sedangkan garis hitam tebal adalah kurva pendekatan. Berdasarkan kurva pendekatan, dapat dilihat prediksi tingkat partisipasi untuk Pileg 2009 diperkirakan di atas 80% dan yang tidak berpartisipasi di bawah 20%.
Meski ini sekadar hitung-hitungan biasa, angka ini senada dengan Heri yang juga menaksir angka partisipasi sebesar 80%. Heri memprediksi angka ini berdasarkan angka partisipasi Pemilu 2004 yang bertengger di angka 84,1%. Sementara penurunan dari 84,1% menjadi 80% diprediksi dari tingkat partisipasi pada pilkada dan pilgub yang mencapai 67%.
Namun, angka partisipasi 80% ini belum tentu sesuai dengan hasil rekapitulasi suara Pileg 2009. Pasalnya, angka ini didapat dengan asumsi kondisi sosial pemilih stabil dengan pemilu sebelumnya. Sementara aspek sosial pemilih selalu berfluktuasi dan tentu tak mudah diprediksi. (Eric Senjaya/Pusat Data Redaksi)***
Diarsipkan di bawah: Pemilu 2009
FENOMENA artis menjadi calon legislatif (caleg) bukan hal baru lagi. Sejak empat bulan lalu, media massa sibuk memberitakan artis-artis ibu kota yang dipinang oleh berbagai partai politik. Hampir semua stasiun televisi, melalui beragam acara, baik yang bersifat hiburan maupun berita, berkali-kali menayangkan topik tersebut.
Fenomena ini mengundang berbagai pertanyaan. Dari masalah kapabilitas artis itu, pengenalan artis terhadap daerahnya, hingga penerimaan masyarakat terhadap status selebriti menjadi bahan pertanyaan di benak warga.

Untuk menjawab salah satu pertanyaan tersebut, Lembaga Survey Indonesia (LSI) mencoba menganalisis fenomena tersebut dengan melakukan survei ke beberapa daerah. Survei tersebut disebar di tujuh belas provinsi di Indonesia, ke berbagai lapisan masyarakat, kelompok, jenis kelamin, desa/kota, usia, pendidikan, agama, etnis, dan pendapatan.
Salah satu poin yang dinyatakan dalam survei adalah mengenai penerimaan masyarakat terhadap artis dibandingkan dengan politisi. Masyarakat diminta untuk memilih salah satu dari sepuluh politisi dan sepuluh artis jika pemilihan anggota DPR diadakan saat ini juga.
Hasil survei tersebut menyatakan bahwa 49% masyarakat tidak tahu siapa yang akan dipilih. Salah seorang politisi terkemuka mendapatkan 18,5%, sedangkan posisi empat besar lainnya diduduki para selebriti dengan perolehan 5,6%, 5,2%, 4,5%, dan 3,4%. Nama politisi muncul kembali di urutan keenam dengan perolehan 2,9%.
Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa penerimaan masyarakat terhadap artis/selebriti sebenarnya tidaklah seramai yang diberitakan. Jika digabungkan, suara masyarakat yang memilih kalangan selebriti hanya sebesar 26,5% (untuk 10 artis). Sementara politisi mendapat 24,1% (untuk 10 politisi). Bila dibandingkan dengan suara masyarakat yang memilih tidak tahu (49%), nilai yang diperoleh artis dan politisi ini dapat dikatakan kecil.
Hal ini dapat diartikan bahwa masyarakat tidak memiliki kecenderungan terhadap kalangan tertentu. Baik politisi maupun artis, yang memiliki nama populer di masyarakat, tidak serta-merta mendapat penerimaan yang baik di masyarakat. Hal ini pun membuktikan bahwa popularitas, walau memiliki peranan penting, bukanlah jaminan sukses untuk berkarier di dunia politik. Selain itu, hasil ini pun dapat diartikan bahwa pemberitaan yang bombastis di televisi tidak dapat mencerminkan kondisi sebenarnya di masyarakat.
Partai politik sudah sewajarnya mencermati hal ini. Jumlah caleg dalam daftar calon tetap (DCT) di daerah pemilihan Jabar, yang mencapai angka ribuan, tentu saja membawa aroma persaingan yang ketat. Oleh karena itu, parpol-parpol sudah seharusnya memiliki strategi pemasaran yang tepat untuk mempromosikan calon-calonnya. Popularitas saja tidak cukup.
Begitu pula dengan kaderisasi parpol yang perlu mendapat perhatian. Selayaknya kader partai politiklah yang duduk di posisi “nomor jadi”, bukan artis atau politisi yang memiliki popularitas tinggi agar caleg yang terpilih semakin berkualitas. (Vetriciawizach/Eric Senjaya, Pusat Data Redaksi)***
Diarsipkan di bawah: Pemilu 2009
LAIN dulu, lain sekarang. Dulu, tokoh populer adalah sosok yang menyita perhatian banyak orang. Kini, tokoh populerlah yang mesti memerhatikan orang banyak. Paling tidak, hal seperti itu harus dilakukan oleh tokoh-tokoh populer yang kini ikut menyemarakkan panggung politik tanah air.
Sederet nama tokoh populer muncul menjadi caleg DPR RI. Kelak, mereka menjadi wakil rakyat di Senayan yang sejatinya memerhatikan rakyat.
Tokoh-tokoh populer yang akan bertarung memperebutkan kursi DPR ini beragam, dari kalangan artis, tokoh politik, hingga pejabat pemerintahan. Para tokoh ini menjadikan popularitasnya sebagai salah satu modal untuk memenangi pertarungan politik.
Popularitas artis diyakini mampu mendongkrak perolehan suara partai politik pada Pemilu 2009. Fenomena ini bukan barang baru, mengingat pada Pemilu 2004 tercatat 25 artis yang maju menjadi caleg DPR RI di semua dapil yang diusung oleh 14 partai politik. Pada Pemilu 2009, untuk dapil Jabar saja tercatat sedikitnya 20 artis menjadi caleg DPR RI, diusung 12 parpol.
Selain dari kalangan artis, terdapat pula tokoh berbagai bidang yang memiliki popularitas tinggi. Seperti mantan pejabat, pakar, akademisi, atau yang sebelumnya menjadi anggota DPR RI atau DPRD provinsi. Artinya, caleg tak hanya dituntut memiliki kredibilitas, popularitas pun menjadi harga tak bisa ditawar.
Berdasarkan data KPU yang dihimpun Pusat Data Redaksi “PR”, dari 11 dapil Jabar tercatat 1.806 caleg dari 38 parpol yang akan bertarung menghadapi Pemilu 2009. Dari jumlah itu, muncul sederet nama yang berasal dari kalangan artis dan sebagian lagi dari tokoh populer.

Di dapil Jabar 1 (Kota Cimahi dan Kota Bandung), tujuh kursi di DPR RI akan diperebutkan oleh 156 caleg. Dari kalangan artis muncul oleh Tengku Firmansyah (PKB), Marissa Haque (PPP), dan Ahmad Wijaya atau yang akrab dipanggil Bangkit Sanjaya (Golkar).
Sementara dari kalangan tokoh populer muncul nama Setia Permana (mantan Ketua KPU Jabar/PDIP), Dadang Garnida (mantan Kapolda Jabar/Partai Barisan Nasional), Agus Yasmin (Ketua DPRD Kab. Bandung/Golkar), dan Anwaruddin (Ketua IKAPI Jabar/PBB).
Tak hanya itu, anggota DPR RI yang ikut kembali dari Golkar, yakni Popong Otje Djundjunan, Happy Bone Zulkarnaen, Daday Hudaya, dan Eggi Hamzah.
Di dapil Jabar 2 (Kab. Bandung dan Kab. Bandung Barat), sepuluh kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 175 caleg. Di antaranya muncul nama artis Derry Drajat (PAN), Theresia E.E Pardede yang lebih dikenal dengan nama Tere (PD), Rieke Diah Pitaloka (PDIP), Rachel Mariam Sayidina (Partai Gerindra).
Dari kalangan tokoh populer muncul nama Nu`man Abdul Hakim (mantan Wagub Jabar/PPP). Selain itu, ada pula anggota DPR RI yang mencalonkan kembali, yaitu Taufiq Kiemas (PDIP), Ferry Mursyidan Baldan (Golkar), dan Dedy Djamaludin Malik (PAN).
Di dapil Jabar 3 (Kab. Cianjur dan Kota Bogor), sembilan kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 172 caleg. Di dapil ini muncul nama artis Sabrina Piscalia dari Partai Pemuda Indonesia. Dari kalangan tokoh populer ada Suryadharma Ali (Menteri KUKM/PPP).
Di dapil Jabar 4 (Kab./Kota Sukabumi), empat kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 126 caleg, termasuk oleh artis Inggrid Maria Palupi Kansil (PD).
Di dapil Jabar 5 (Kab. Bogor), sembilan kursi DPR RI akan diperebutkan 197 caleg. Di dapil ini muncul nama artis Marini K.S. atau Marini Zumarnis (PAN) dan Muchin Umar Alatas atau Muchsin Alatas (Partai Hanura).
Selain artis, ada pula tokoh penting lain, seperti Drs. H.A.M. Ruslan (Ketua DPRD Jabar) dan Agus Utara Effendi (mantan Bupati Bogor). Keduanya dari Golkar. Kemudian, anggota DPR RI yang mencalonkan kembali, yaitu Nugraha Besoes, Airlangga Hartarto (keduanya dari Golkar), dan Max Sopacua (PD).
Di dapil Jabar 6 (Kota Bekasi dan Kota Depok), enam kursi DPR RI akan diperebutkan oleh 169 caleg. Di dapil ini tidak muncul nama artis. Tokoh yang muncul adalah Didik J. Rachbini (pengamat ekonomi/PAN). Sementara anggota DPR RI yang mencalonkan kembali di dapil Jabar 6 adalah Dedi Djamaludin Malik (PAN).
Di dapil Jabar 7 (Kab. Purwakarta, Karawang, dan Kab. Bekasi), sepuluh kursi DPR RI diperebutkan oleh 194 caleg. Muncul nama artis Nurul Arifin (Golkar), M. Taufik Hidayat atau lebih dikenal sebagai Tito Sumarsono (PAN), Imam G. Manik atau yang akrab disapa El Manik (Partai Matahari Bangsa), dan Hendra Cipta (Partai Republik Nusantara).
Di dapil Jabar 8 (Kab./Kota Cirebon dan Kab. Indramayu), sembilan kursi diperebutkan oleh 162 caleg. Nama artis yang ada di dapil 8, yakni Nurul Komar (PD) dan Yuyun Sukowati Dewi (Partai Indonesia Sejahtera). Sementara, anggota DPRD Jabar yang ikut bertarung adalah Tetty Kadi Bawono (Golkar).
Lalu, di dapil Jabar 9 (Kab. Majalengka, Sumedang, dan Kab. Subang), delapan kursi DPR RI diperebutkan oleh 154 caleg. Artis yang bertarung di dapil ini adalah Primus Yustisio (PAN). Selain itu, tokoh populer yang ikut bertarung, Tutty Hayati Anwar (mantan Bupati Majalengka/Golkar).
Di dapil Jabar 10 (Kab. Ciamis, Kuningan, dan Kab. Banjar) tujuh kursi DPR RI diperebutkan oleh 130 caleg. Artis yang meramaikan dapil Jabar adalah Cucu Suryaningsih atau yang akrab disapa Evie Tamala (PPP). Sementara tokoh populer yang ikut adalah Eka Santosa (anggota DPR RI/PDIP).
Terakhir, untuk dapil Jabar 11 (Kab./Kota Tasikmalaya dan Kab. Garut), sepuluh kursi DPR RI diperebutkan oleh 171 caleg. Dari kalangan artis muncul nama Gitalis Dwi Natania atau Gita KDI (PKB).
Dengan strategi popularitas ini, parpol berpeluang mendulang banyak kursi di DPR RI. Akan tetapi, bisa saja peluang ini berbalik. Menilik hasil Pemilu 2004 dan beberapa pilkada di Jabar, seorang caleg artis atau tokoh populer belum tentu dipercaya dan dipilih.
Pemilih menyadari bahwa popularitas harus disertai tingkat kepercayaan masyarakat yang tinggi terhadap caleg bersangkutan serta kualitas parpol yang mengusungnya. (Eric Senjaya/Gandara Panji Nugraha, Pusat Data Redaksi)***
Diarsipkan di bawah: Polling Eric_574nk | Tag: Eric Senjaya, GOlkar, GOLPUT, Megawati, PAN, Parpol, Partai Demokrat, PDIP, Pemilu 2009, PKS, Polling, PPP, Susilo Bambang Yudhoyono
Diarsipkan di bawah: Pemilu 2009, Riset Pilkada 2008 | Tag: GOlkar, PDIP, Pemilu 2009, Pemilu Legislatif
MASYARAKAT yang cerdas dalam memilih wakil-wakilnya di legislatif menjadi salah satu output yang diharapkan dari pesta demokrasi, Pemilu Legislatif 2009, sehingga tidak terjebak memilih “kucing dalam karung”.
Untuk “menaksir” para caleg, selain melihat track record caleg yang sudah berpengalaman menjadi anggota dewan, ada tiga unsur lagi yang dapat dijadikan faktor untuk diamati, yaitu rentang usia, domisili, dan latar belakang pendidikan.

Faktor persentase usia caleg diperlukan untuk mengamati “pertarungan” kaum muda yang menjanjikan perubahan dengan kaum tua yang lebih berpengalaman. Sementara, faktor domisili caleg digunakan untuk memetakan kedekatan antara caleg dan masyarakat, juga pengenalan caleg akan karakteristik masalah daerah pemilihan (dapil) masing-masing. Pendidikan caleg juga menjadi salah satu pertimbangan dalam menakar kualitas caleg.
Lalu, bagaimana profil usia, domisili, dan pendidikan para caleg pada Pemilu Legislatif 2009?
Komisi Pemilihan Umum (KPU) membagi rentang usia caleg berdasarkan Peraturan KPU No. 18/2008 yaitu yang berusia 21-30 tahun, kemudian 31-50 tahun, dan yang berusia 51 tahun ke atas. Dari tiga kategori itu, bisa diasumsikan, caleg muda adalah caleg yang berusia 21-30 tahun dan caleg tua yang berumur 51 tahun ke atas.
Menilik data Klarifikasi Biodata Singkat Bakal Calon Anggota DPRD Jabar dari KPU Jabar, dari 38 partai peserta Pemilu 2009, hanya 32 partai yang memasukkan caleg muda. Enam partai yang tak mengajukan caleg muda adalah Partai Perjuangan Indonesia Baru (PPIB), Partai Pemuda Indonesia (PPI), Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI), Partai Merdeka, dan Partai Buruh.
Dari 32 partai itu, jumlah seluruh caleg muda berdasarkan Daftar Calon Tetap (DCT) adalah 174 orang. Sementara jumlah caleg berusia tua jauh lebih besar, 413 orang. Dengan demikian, bisa dikatakan bahwa caleg sepuh dan mungkin sudah berpengalaman dalam berpolitik jumlahnya mendominasi wajah calon anggota legislatif di Jabar.
Partai Keadilan Bangsa (PKB) dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah dua partai yang terbanyak memasukkan caleg muda. PKB dan PDIP masing-masing menyumbang 17 orang (9,77%). Angka ini diikuti oleh Partai Demokrasi Pembaruan (PDP) dan Partai Demokrasi Kebangsaan (PDK). PDP dan PDK masing-masing menyumbang 10 orang (5,75%). Kemudian, Partai Nasional Benteng Kerakyatan Indonesia menyumbang 9 orang (5,17%).
Sementara itu, caleg yang berusia 51 tahun ke atas atau caleg tua, diajukan oleh 36 dari 38 partai. Dua partai yang tak mengajukan caleg tua adalah Partai Pengusaha dan Pekerja Indonesia (PPPI) serta Partai Perjuangan Indonesia Baru. Mayoritas caleg tua berasal dari Partai Golkar (PG), yakni 65 orang (15,7%). Diikuti oleh PPP sebanyak 35 orang (8,5%), Partai Demokrat 26 orang (6,3%), PDIP 24 orang (5,8%) dan Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) 23 orang (5,6%).
Selain faktor usia, faktor domisili juga turut mewarnai wajah demokrasi di Jabar. Dari faktor domisili ini muncul istilah caleg lokal dan “caleg impor”. Caleg lokal adalah caleg yang berdomisili sesuai dapil, sementara caleg impor adalah caleg yang berdomisili di luar dapil.
Caleg lokal tampaknya harus bersaing ketat dengan “caleg impor”. Pasalnya, ada 643 orang (41%) caleg yang tidak berdomisili di dapil tempat ia dicalonkan. Sementara caleg lokal berjumlah 936 orang (59%).
Caleg impor yang tidak mengenali daerah pemilihannya bisa berdampak buruk bagi kehidupan berdemokrasi di Jabar. Salah satunya adalah tidak tersalurkannya aspirasi rakyat karena wakil rakyatnya kurang memahami karakteristik daerah dan apa yang diperlukan rakyatnya.
Partai Golkar, PDIP, serta Partai Hanura adalah penyumbang terbesar caleg-caleg yang tidak berdomisili di dapil bersangkutan. Partai Golkar menyumbangkan 59 orang, sementara PDIP dan Hanura masing-masing 38 dan 37 orang.
Mengenai pendidikan caleg DPRD Jabar. Berdasarkan data yang dihimpun Pusat Data Redaksi “PR” dari KPU Jabar, ada beberapa tingkat pendidikan bagi caleg yang tertera di DCT yaitu lulusan SLTA atau sederajat, diploma tiga (D-3/ahli madya), strata satu (S-1/sarjana), strata dua (S-2/magister), dan strata tiga (S-3/doktor).
Berdasarkan pembagian tersebut, caleg berpendidikan S-1 berjumlah paling banyak yaitu 811 orang (51,3%). Diikuti caleg berpendidikan SLTA sebanyak 476 orang (30,11%), caleg lulusan S-2 sebanyak 177 orang (11,2%). Di urutan keempat dan kelima diduduki caleg lulusan D-3 dan S-3. Caleg D-3 tercatat ada 113 orang (7,15%) dan caleg S-3 sebanyak empat orang (0,25%).
Politisi senior Tjetje Hidayat Padmadinata mengatakan, semenjak Pemilu 1951, 1971, 1977, hingga Pemilu 2004 lalu, belum banyak perubahan yang terjadi di masyarakat. “Masyarakat awam pada umumnya tidak mau ambil pusing dengan figur calon anggota legislatif. Keberpihakan masyarakat awam pada umumnya adalah pada partai peserta pemilu,” ujar Tjetje.
Mengenai kriteria caleg yang ideal, Tjetje mengatakan, calon yang baik adalah calon yang mengenal dan dikenal masyarakatnya. “Konteksnya dengan DPRD Jawa Barat adalah calon legislatif di Jawa Barat dan dari Jawa Barat.”
Setelah mengamati usia, domisili, dan pendidikan calon wakil rakyat Jabar, sejatinya masyarakat Jabar bisa menyikapinya dengan arif. Apa pun atau siapa pun yang ditawarkan, kedewasaan dan kecerdasan memilih menjadi kuncinya. (Eric Senjaya/Vetriciawizach/Pusat Data Redaksi “PR”)***
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Selasa, 16 Desember 2008 | 08:52 WIB
A Wisnu Nugroho
Tanggal 9 September 2009, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono genap berusia 60 tahun. Sebutan ”eyang” kini disandangnya setelah Almira Tunggadewi Yudhoyono, cucunya, lahir pada 17 Agustus 2008.
Usia tidak pernah berbohong. Tumpukan rambut putih di kepala Presiden yang tersisir rapi ke kanan kian bertambah dibandingkan tahun sebelumnya. Rambut itu dibiarkan memutih tanpa upaya menutupinya.
Selain kesadaran bertambahnya usia, makin banyaknya rambut putih di kepala dimaknai Presiden sebagai dampak dari banyaknya waktu yang dipakai untuk bekerja. Moto ”state that never sleep” membimbingnya. Rapat pagi, siang, atau malam di hari kerja atau di hari libur adalah bagian dari konsekuensinya.
Untuk tersitanya banyak waktu keluarga pembantunya di tengah-tengah hari libur, Presiden pernah minta maaf secara pribadi. Anggota keluarga pembantunya tersenyum, menyambut permintaan maafnya.
Setelah kunjungan ke Sumatera Barat dan Sumatera Selatan, Presiden menggelar rapat kabinet di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (14/12). Dampak krisis keuangan global yang tak ringan membuat intensitas rapat meningkat, seperti pada awal pemerintahan.
”Semakin banyaknya rambut putih di kepala merupakan tanda kami terus bekerja,” ujar Presiden di teras Kantor Presiden, Jakarta, yang diguyur gerimis, akhir pekan lalu.
Banyaknya jumlah rambut putih di kepala mungkin sama dengan banyaknya jumlah berbagai jenis rapat yang dipimpinnya selama empat tahun memerintah. Ada rapat koordinasi, rapat kabinet terbatas, rapat kabinet paripurna, rapat kabinet paripurna yang diperluas, dan berbagai rapat lainnya.
Berbagai jenis rapat yang dapat digelar di mana saja dan kapan saja juga menurunkan berat badan Presiden. Waktu makan kerap terlewat. Gulai kikil yang disiapkan untuk makan siang Jumat lalu, misalnya, baru disantap sekitar pukul 15.00.
”Berat badan saya naik turun selama empat tahun terakhir. Namun, belakangan ini berat badan saya turun,” ujar Presiden saat menunggu kedatangan Perdana Menteri Malaysia Abdullah Ahmad Badawi.
Dengan rapat itu, Presiden hendak menunjukkan kepada rakyat, pemerintah bekerja keras. Hasil kerja itu biasanya diumumkan seusai rapat. Jika hasilnya kabar gembira, Presiden yang mengumumkannya.
Penurunan harga bahan bakar bersubsidi jenis premium dan solar, misalnya. Selain mengumumkan kebijakan umum, angka ratusan rupiahnya disebut juga. Kabar gembira seperti ini pastinya tidak akan menambah rambut putih di kepala atau menurunkan berat badannya.
Di setiap tantangan tersedia juga peluang. Di setiap musibah juga ada berkah. Musibah resesi keuangan dunia mungkin belum sangat terasa. Namun, berkahnya berupa merosotnya harga minyak mentah dunia telah dinikmati dan dirayakan bersama. Pengumuman turunnya harga premium dan solar adalah awal dari perayaan itu.
Kebanyakan rakyat menyambutnya dengan gembira. Sambutan gembira penting, mengingat keinginan Yudhoyono untuk maju kembali dalam Pemilihan Presiden 2009 telah dinyatakannya.
Rektor Universitas Paramadina, Jakarta, Anies R Baswedan menganalogikan tahun 2009 sebagai tahun ”ujian nasional” bagi kepemimpinan Presiden Yudhoyono. Setelah empat tahun menghadapi ”ujian lokal” dengan adanya kesempatan membuat perbaikan, 2009 menjadi masa penentuan kelulusan.
Tidak ringannya ”ujian nasional” pasti akan menambah helai rambut putih dan menurunkan berat badannya. Karena itu, perlu beberapa kali kabar gembira untuk mencegahnya?
Wisnu Nugroho A
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
elasa, 16 Desember 2008 | 12:24 WIB
KARAKAS, SELASA — Presiden Venezuela Hugo Chavez yang anti-AS, Senin (15/12), menyanjung wartawan Irak yang melemparkan sepatunya ke Presiden AS George W Bush sebagai pria berani.
Chavez, yang selama bertahun-tahun juga melontarkan penghinaan terhadap presiden AS, mengatakan, ia tersenyum lebar selama pemutaran gambar mengenai peristiwa tersebut selama pertemuan kabinet yang ditayangkan stasiun televisi Venezuela.
“Untung (sepatu) itu tidak mengenai dia. Saya tidak mendorong orang melempar sepatu ke siapa pun, tapi sungguh, betapa berani pelempar sepatu itu,” katanya.
Wartawan Irak Muntazer Al-Zaidi melemparkan kedua sepatunya ke Bush dan menyebut dia “anjing” selama konferensi pers di Baghdad pada Minggu. Ulahnya itu membuat Zaidi langsung terkenal di seluruh dunia dan mendapat dukungan luas di Timur Tengah.
Chavez adalah pengkritik perang AS melawan teror di Irak dan Afghanistan dan sering kali menyebut Bush “Keledai”, “Pemabuk”, atau “Bapak Bahaya”.
Ia paling terkenal menyebut Bush “Iblis”, selama pidato di markas PBB di New York, sambil mengendus udara dan mengatakan masih tercium bau belerang setelah Bush meninggalkan podium.
Selama 10 tahun memangku jabatan, Chavez getol menggalang dukungan banyak negara, termasuk Iran, Kuba, dan Rusia guna membuat lemah pengaruh Washington di pentas dunia.
Stasiun televisi Venezuela pada hari Senin dilaporkan menayangkan kembali cuplikan peristiwa pelemparan sepatu itu.
ONO
Sumber : Ant
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
elasa, 16 Desember 2008 | 12:24 WIB
KARAKAS, SELASA — Presiden Venezuela Hugo Chavez yang anti-AS, Senin (15/12), menyanjung wartawan Irak yang melemparkan sepatunya ke Presiden AS George W Bush sebagai pria berani.
Chavez, yang selama bertahun-tahun juga melontarkan penghinaan terhadap presiden AS, mengatakan, ia tersenyum lebar selama pemutaran gambar mengenai peristiwa tersebut selama pertemuan kabinet yang ditayangkan stasiun televisi Venezuela.
“Untung (sepatu) itu tidak mengenai dia. Saya tidak mendorong orang melempar sepatu ke siapa pun, tapi sungguh, betapa berani pelempar sepatu itu,” katanya.
Wartawan Irak Muntazer Al-Zaidi melemparkan kedua sepatunya ke Bush dan menyebut dia “anjing” selama konferensi pers di Baghdad pada Minggu. Ulahnya itu membuat Zaidi langsung terkenal di seluruh dunia dan mendapat dukungan luas di Timur Tengah.
Chavez adalah pengkritik perang AS melawan teror di Irak dan Afghanistan dan sering kali menyebut Bush “Keledai”, “Pemabuk”, atau “Bapak Bahaya”.
Ia paling terkenal menyebut Bush “Iblis”, selama pidato di markas PBB di New York, sambil mengendus udara dan mengatakan masih tercium bau belerang setelah Bush meninggalkan podium.
Selama 10 tahun memangku jabatan, Chavez getol menggalang dukungan banyak negara, termasuk Iran, Kuba, dan Rusia guna membuat lemah pengaruh Washington di pentas dunia.
Stasiun televisi Venezuela pada hari Senin dilaporkan menayangkan kembali cuplikan peristiwa pelemparan sepatu itu.
ONO
Sumber : Ant
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Selasa, 16 Desember 2008 | 04:37 WIB
MUNTAZER al-Zaidi (28), Senin (15/12), mendadak terkenal. Dia bahkan dianggap sebagai “pahlawan”, terutama oleh kelompok anti-AS dan anti-Presiden AS George W Bush, setelah melemparkan sepatu ke arah Bush, Minggu. Tidak ada yang tahu motif wartawan koresponden stasiun TV Al-Baghdadia di balik pelemparan sepatu itu.
Zaidi tiba-tiba saja marah dan melemparkan sepatunya secara bergantian ketika Bush dan Perdana Menteri Irak Nuri al-Maliki bersiap-siap menjawab pertanyaan wartawan. Kolega-kolega Zaidi menuturkan, selama ini Zaidi kerap menyampaikan laporannya dari Distrik Sadr City, Baghdad, Irak. Daerah itu termasuk ”markas” tokoh radikal Syiah, Moqtada al-Sadr.
Pernah diculik
Bahkan, menurut teman-temannya, Zaidi pernah diselamatkan Tentara Mahdi, milisi Sadr, ketika diculik selama lebih dari dua hari oleh kelompok bersenjata, November 2007. Selama diculik, kedua matanya ditutup dengan kain dan tidak makan atau minum. Ia dipukuli hingga pingsan dan tidak pernah tahu identitas penculiknya. Ia dicerca dengan pertanyaan seputar pekerjaannya, tetapi kelompok itu tidak meminta uang tebusan.
Rekan-rekan Zaidi mengakui, Zaidi membenci Bush dan menuding Bush bertanggung jawab atas pertumpahan darah di Irak setelah invasi AS tahun 2003. Tidak jelas apakah ia kehilangan anggota keluarga akibat gejolak kekerasan di Irak.
Saking bencinya pada AS dan Bush, Zaidi disebut-sebut pernah ingin melancarkan serangan. Tidak jelas apakah itu serangan bersenjata atau hanya sekadar melempar sepatu.
Namun, menurut rekannya di Al-Baghdadia kantor Baghdad, Zaidi memang sejak lama ingin melemparkan sepatunya ke arah Bush jika ada kesempatan. ”Ketika dia bilang ingin melakukan itu, kami semua tidak ada yang percaya. Dia membenci AS. Benci tentara AS. Benci Bush,” kata rekan Zaidi yang tidak mau disebutkan namanya itu.
Lulusan Baghdad University itu telah bekerja di Al-Baghdadia selama tiga tahun. Salah seorang pejabat di Al-Baghdadia mengaku, keluarganya pernah ditahan pada masa rezim Saddam. Kini Zaidi ditahan Pemerintah Irak. Jika terbukti bersalah menghina kepala negara yang tengah berkunjung, ia terancam minimal hukuman dua tahun penjara atau 15 tahun penjara jika terbukti melakukan percobaan pembunuhan. (REUTERS/AFP/AP/LUK)
Sumber : Kompas Cetak
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Selasa, 16 Desember 2008 | 09:30 WIB
BAGHDAD, SENIN — Ribuan warga Irak turun ke jalan untuk menuntut dibebaskanya reporter yang melempar Presiden Bush dengan sepatu, Senin (15/12) waktu setempat.
Sebelumnya, pejabat saluran televisi Irak, Al-Baghdadia, juga menyerukan agar wartawannya bernama Muntazer al-Zaidi tersebut dibebaskan.
Zaidi melemparkan sepatunya ke arah Presiden George W Bush dalam konferensi pers di Baghdad, Minggu (14/12).
Massa berkumpul di Distrik Sadr City, Baghdad, mengelu-elukan Muntazer al-Zaidi sebagai pahlawan dan menuntut dibebaskan dari penahanan. Sebaliknya, pejabat Irak menggambarkan insiden itu mempermalukan.
Pernyataan yang rilis oleh Pemerintah Irak mengatakan, aksi Zaidi, yang juga memaki Presiden Bush, mengancam reputasi wartawan Irak dan jurnalisme Irak pada umumnya.
Manajemen stasiun televisi Baghdadia mengatakan, Zaidi harus dibebaskan karena dia melaksanakan kebebasan berpendapat, sesuatu yang dijanjikan Amerika kepada rakyat Irak ketika menggulingkan Saddam Hussein.
Lemparan sepatu hampir saja mengenai Presiden Bush, dan Zaidi yang langsung diringkus oleh penjaga keamanan sekarang ditahan.
Memuji tindakan
Saudara laki laki pelaku pelemparan, Uday, memuji tindakan Zaidi yang ingin dilakukan orang orang lain. “Jutaan warga Irak dan jutaan orang lain di dunia ingin melakukan apa yang Zaidi kerjakan atau aksi yang sama dengan itu,” kata Uday.
“Alhamdulilah dia memiliki keberanian untuk melakukannya dan membalas dendam orang Irak terhadap pihak yang merusak dan menduduki negaranya serta membunuh penduduknya,” katanya.
Lebih dari 5 juta orang menjadi yatim piatu akibat (kebijakan) Bush menginvasi Irak pada 2003. “Lebih dari 5 juta orang menjadi yatim piatu karena Bush dan para pembantunya. Kami mengatakan Alhamdulilah karena Zaidi membuat kami bangga,” kata Uday.
Sementara itu, saudara laki laki lain, Durgham, mengatakan Zaidi hanya menyampaikan pesan warga Irak kepada pendudukan Amerika yang diwakilkan Presiden Bush.
Menurut Durgham, Zaidi tidak bermaksud mengejek Al-Maliki atau Pemerintah Irak. “Dalam hatinya, Zaidi memiliki pesan yang ingin disampaikan semua warga Irak kepada kekuatan pendudukan lewat Presiden Bush,” katanya.
ONO
Sumber : BBC
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Selasa, 16 Desember 2008 | 15:05 WIB
Umumnya, perempuan berselingkuh bukan karena sekadar iseng. Ada beberapa alasan yang membuat mereka memutuskan untuk melakukan hal ini. Apa saja ya?
1. Balas dendam
Kalau Anda mengkhianati cintanya, dia juga bisa melakukannya, bahkan lebih hebat dari Anda. Kalaupun sampai ketahuan oleh Anda, mungkin memang dia sengaja. Masing-masing perempuan memang punya caranya sendiri dalam menghadapi perselingkuhan yang dilakukan kekasihnya dan patah hati yang dirasakannya. Dia bisa melakukannya sembunyi-sembunyi di belakang Anda, bisa juga sengaja “memamerkannya”.
2. Urutan kesekian
Layaknya seorang kekasih, si dia ingin selalu jadi nomor satu dalam hidup Anda. Bukan nomor dua, apalagi nomor-nomor berikutnya. Dialah prioritas dan ratu di hati Anda.
3. Kekerasan
Kini, banyak perempuan yang makin sadar pentingnya penghargaan atas dirinya sendiri, salah satunya dengan bersikap tegas ketika pasangannya melakukan tindak kekerasan (umumnya secara fisik) kepadanya. Mungkin awalnya dia akan mencoba bertahan, tapi bila Anda kembali mengulangi tindakan Anda ini, mereka akan meninggalkan Anda. Mereka yakin, masih banyak pria lain yang bisa menghargainya jauh lebih baik daripada Anda.
4. Hambar
Perempuan menyukai hal-hal detail, misalnya hari ulangtahunnya, hari jadi Anda berdua, atau hal-hal istimewa lainnya. Hati-hati bila Anda menganggap semua ini sebagai hal remeh, apalagi bila selama ini si dia selalu mengurus semua kebutuhan dan rela berkorban demi Anda. Bila Anda tak pernah menghargai apa yang sudah ia lakukan untuk Anda dan mengabaikan hal-hal yang dianggapnya penting, bersiaplah menghadapi pertengkaran hebat.
5. Seks
Meski Anda kaya dan selalu memberinya perhatian penuh, ketidakpuasannya dalam urusan seks tak bisa diabaikan begitu saja. Ini berbahaya bagi sebuah perkawinan. Karena itu, segera cari solusinya.
6. Cadangan
Ketika putus cinta, umumnya perempuan lebih “menderita” menghadapi hari-harinya yang panjang sebelum akhirnya ia bangkit lagi. Karena itu, ketika melihat tanda-tanda hubungan yang dijalaninya tidak bisa dipertahankan lagi dan akan segera berakhir, bukan tak mungkin ia mulai mencari pengganti Anda. Jadi, kalau Anda memang benar-benar mencintainya, perbaikilah hubungan Anda segera.
7. Pria bermasalah
Maksudnya, banyak hal-hal di sekeliling Anda yang membuat pasangan Anda merasa “gerah” dan ikut menanggung “beban” itu. Sebab, selain menjalin hubungan dengannya yang tentunya tak lepas dari masalah, Anda juga masih harus menangani mantan kekasih Anda yang terus “meneror”, keluarga yang selalu ikut campur pada urusan Anda, belum lagi ulah teman-teman yang melibatkan Anda dalam masalahnya. Akan makin lengkap “penderitaannya” bila Anda termasuk anak mama. Alih-alih memberi perhatian dan berbagi kasih sayang dengan kekasih, Anda malah sibuk sendiri.
8. Hubungan jalan di tempat
Umumnya, ketika menjalin hubungan dengan pasangannya, perempuan menginginkan adanya hubungan yang berkomitmen yang berujung pada pernikahan. Bila hubungan yang dijalani sudah sekian lama, tapi tak ada peningkatan ke jenjang berikutnya, mereka akan berpikir Anda tidak menginginkan hubungan ini berlanjut. Jadi, buat apa menunggu Anda lebih lama?
9. Bosan
Hal yang satu ini bisa muncul karena dia terperangkap rutinitas di rumah atau hubungan yang Anda jalani dengannya membosankan baginya karena Anda tak memberinya perhatian yang dia harapkan dan waktu Anda lebih banyak dihabiskan untuk hal lain ketimbang bersamanya. Padahal, perempuan menyukai kejutan dan selalu ingin dianggap istimewa.
10. Hubungan tidak seserius yang diduga
Awalnya mungkin Anda memang senang menjalani hubungan dengannya, tapi ternyata Anda tidak menikmati dan tak merasa ingin terikat dengannya. Tak heran bila Anda masih mencoba “melirik” sana-sini, padahal dia sudah menyerahkan seluruh perasaannya kepada Anda.
Hasuna Daylailatu
Sumber : Shine
Diarsipkan di bawah: Uncategorized
Jumat, 28 November 2008 | 13:38 WIB
NEW DELHI, JUMAT — Jumlah korban tewas dalam serangkaian serangan terkoordinasi oleh teroris di Mumbai meningkat menjadi 130 orang, Jumat (28/11). “Kami sekarang membenarkan 130 orang tewas,” kata Hassan Gafoor, Kepala Kepolisian Mumbai kepada AFP.
Gafoor menandaskan bahwa operasi-operasi masih dilakukan untuk menangkap sisa-sisa orang bersenjata dari dua hotel mewah itu dan satu tempat pusat Yahudi. Diduga jumlah korban tewas akan terus bertambah.
Dia mengatakan, seorang gerilyawan luka dan masih di bawah pengamanan petugas keamanan di Hotel Taj Mahal dan dua lainnya di Hotel Oberoi/Triudent. Jumat pagi, puluhan anggota pasukan komando berpakaian hitam dikirimkan ke tempat serangan dan kompleks perumahan Yahudi yang diserang.
ONO
www.kompas.com
Sumber : Ant
www.eric-senjaya.co.nr























