574nk’s Weblog


Juli 22, 2008, 10:18 am
Diarsipkan di bawah: Puisi | Tag:
Sore ini, 547nk diberi puisi dari seorang rekan. Temanya umum, cinta, namun puisi ini mampu menohok benak 574nk betapa luas arti cinta itu. Selain itu, 574nk juga menyadari bahwa kedekatan 574nk dengan seseorang hanya sebatas “SUKA”, bukan “CINTA”. Simak deh Puisinya, en selamat mengapresiasi …

Bila telapak tanganmu berkeringat,
Hatimu dag dig dug,
Suaramu bagai tersangkut di tenggorokan,
Itu bukan cinta, tetapi SUKA.

Bila tanganmu tidak dapat berhenti memegang dan menyentuhnya,
Itu bukan cinta tetapi BIRAHI.

Bila kamu menginginkannya karena tahu
Ia akan selalu berada di sampingmu,
Itu bukan cinta tetapi KESEPIAN.

Bila kamu menerima pernyataan cintanya
Karena kamu tak mau menyakiti hatinya,
Itu bukan cinta tetapi KASIHAN.

Bila kamu bersedia memberikan semua
Yang kamu sukai demi dia,
Itu bukan cinta tetapi KEMURAHAN HATI.

Bila kamu bangga dan selalu ingin memamerkannya
Kepada semua orang,
Itu bukan cinta tetapi KEMUJURAN.

Bila kamu mengatakan padanya bahwa ia adalah
Satu-satunya hal yang kamu pikirkan,
Itu bukan cinta tetapi GOMBAL.

Kamu MENCINTAINYA,
Ketika kamu MENERIMA KESALAHAN DIA,
Karena itu adalah bagian dari kepribadiannya.

Ketika kamu RELA MEMBERIKAN HATIMU, KEHIDUPANMU, BAHKAN KEMATIANMU;

Ketika HATIMU TERCABIK BILA IA SEDIH,
dan BERBUNGA BILA IA BAHAGIA;

Ketika kamu MENANGIS UNTUK KEPEDIHANNYA
Biarpun ia cukup tegar menghadapinya;

Ketika kamu tertarik kepada orang lain
Tetapi kamu masih SETIA bersamanya.

CINTA adalah PENGORBANAN;

MENCINTAI berarti MEMBERI DIRI.

CINTA adalah KEMATIAN ATAS EGOISME dan EGOSENTRISME.

Kadang itu menyakitkan, tetapi itulah harga yang harus dibayar…
Untuk sebuah CINTA…

Semua diatas adalah kata perumpamaan, tapi

Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi
dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan.
Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.


FROM : Sumi-e

—right to copy—



Check out my Slide Show!
Juli 15, 2008, 3:31 am
Diarsipkan di bawah: Uncategorized



Poligami
Juli 8, 2008, 2:24 am
Diarsipkan di bawah: Puisi | Tag: , ,

Pagi ini 574nk dapet e-mail dari seorang rekan. Pas dibuka, isinya puisi. Setelah dibaca, menarik juga isinya. Bagus juga neh bwar di blog, hehehe… Tapi, setelah 574nk konfirmasi kepada sang pengirim, dia tak tahu siapa yang menulisnya. Padahal tadinya 574nk mo izin dulu puisinya mo diposting disini. Ya sudah lah, yang penting kita bisa mengapresiasi karya seseorang ini. (574nk) ***

***********
PUISI SUAMI MINTA IZIN POLIGAMI DARI ISTRI

Istriku,
Jika engkau bumi, akulah matahari
Aku menyinari kamu
Kamu mengharapkan aku
Ingatlah bahtera yg kita kayuh, begitu penuh riak gelombang
Aku tetap menyinari bumi, hingga kadang bumi pun silau
Lantas aku ingat satu hal
Bahwa Tuhan mencipta bukan hanya bumi, ada planet lain yg juga mengharap
aku sinari
Jadi..
Relakanlah aku menyinari planet lain, menebar sinarku
Menyampaikan faedah adanya aku, karna sudah kodrati
dan Tuhan pun tak marah…


***********

PUISI BALASAN DARI SANG ISTRI

Suamiku,
Bila kau memang mentari, sang surya penebar cahaya
Aku rela kau berikan sinarmu kepada segala planet yg pernah TUHAN
ciptakan karna mereka juga seperti aku butuh penyinaran dan akupun juga
Tak akan merasa kurang dengan pencahayaanmu
Akan tetapi,
Bila kau hanya sejengkal lilin yg berkekuatan 5 watt, jangan bermimpi
menyinari planet lain !
Karena kamar kita yg kecil pun belum sanggup kau terangi
Bercerminlah pd kaca di sudut kamar kita, di tengah remang-remang
Pencahayaanmu yg telah aku mengerti utk tetap menguak mata
Coba liat siapa dirimu… MENTARI atau lilin ? PLIS DEH…



Cinta Laura
Juni 25, 2008, 10:18 am
Diarsipkan di bawah: Geulis | Tag: , , , , , , , , , ,

“Bahasa Indonesia saya buruk sekali, jadi Cinta will be going to Australia to improve Bahasa Indonesia Cinta”

Hal itu diungkapkan Cinta Laura di salah satu acara infotainment. Aktris bernama lengkap Cinta Laura Kiehl ini belum lama tinggal di Indonesia. Sehingga, bahasa Indonesianya masih tercampur dengan bahasa Inggris dan logat Inggrisnya pun masih kental.

Aksen Cinta yang kebarat-baratan itulah yang justru menjadi ciri khas Cinta Laura di mata masyarakat. Bahkan, ucapan Cinta di media massa banyak menjadi kutipan. Kutipan, “mana ujan, becek, gak ada ojek” mampu menggiring benak masyarakat kepada Cinta Laura. Kutipan ini juga menjadi ring back tone sebuah operator seluler. Bahkan, kutipan ini juga dijadikan judul lagu Cinta Laura yang diciptakan oleh Ahmad Dhani.

Sebelum menjadi bintang sinetron, gadis kelahiran Quakenbruck, Jerman 15 tahun silam ini memulai kariernya di dunia hiburan Indonesia sebagai finalis Top Model 2006. Kebetulan, salah seorang juri acara itu adalah Sanjay Maulani, seorang casting director di MD Entertainment.

Alhasil, Cinta pun langsung ditawari main sinetron. Cinta pun menerima tawaran untuk menjadi bintang utama dalam sinetron Cinderella, produksi MD Entertainment. Sebagai persiapan syuting, Cinta segera mengambil kursus bahasa Indonesia dan latihan akting.

Usaha Cinta membuahkan hasil. Kemunculan perdana dia di sinetron ini membuat namanya melambung. Selain itu, Cinta berhasil meraih penghargaan SCTV Awards dengan kategori Aktris Ngetop tahun 2007.

Selain sebagai publik figur, Cinta kini tengah mengajar bahasa Inggris kepada anak-anak kurang mampu.(Eric 574nk)***



Sukarno M. Noor

Siapa tak kenal Rano Karno? Lewat Karno’s Film, peninggalan ayahnya, ia memproduksi Si Doel Anak Sekolahan yang fenomenal. Bersama saudara-saudaranya, Rubi, Tino, Santi, Suti dan Nurli Karno, mereka bahu membahu mewujudkan obsesi sang ayah, Soekarno M. Noor.

Ano, panggilan akrab Sukarno M. Noor, adalah aktor kawakan yang berdedikasi tinggi pada seni akting. Selama lebih dari 30 tahun, Ia mengalami pasang surut dunia perfilman Indonesia.

Semasa hidup, sebelum ia wafat karena penyakit kanker hati pada 26 Juli 1986, berkali-kali ia mendapat penghargaan di bidang perfilman. Salah satunya, hadiah Surjo Sumanto, hadiah dewan film nasional yang bergengsi di dunia film dan hanya bisa diraih sekali seumur hidup.

Ano lahir 13 September 1931 di Jakarta, sebagai anak pertama dari dua bersaudara yang semuanya pria. Masa kecil Ano tidaklah mulus. Ano pernah hidup dari berjualan sabun, cabai, dan air teh. Ayah Ano, Mohammad Noor, adalah seorang wartawan. Ketika Ano berusia tiga tahun, sang ayah meninggalkan Ano dan keluarga untuk selamanya. Sehingga, sekitar tahun 1934 Ibu Ano, Djanimah, membawa Ano beserta adiknya, Ismed M. Noor, mudik ke Bonjol Sumatera Barat.

Sebagai anak tertua, tentu saja Ano berkewajiban menjadi tulang punggung keluarga. Karena itu, sejak kecil ia sudah terbiasa membantu ibunya mencari nafkah. Ia harus berjalan kaki pulang pergi Bonjol-Lubuksikaping yang berjarak sekitar 42 kilometer setiap hari untuk berjualan sabun dan cabai rawit. Darah dagangnya rupanya cukup kuat, Ano pun pernah berjualan air teh di Stasiun Kereta Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Bersama adik dan ibunya, Ano kemudian hijrah ke Medan. Ketika Ano menempuh SMA di Medan, bakatnya bermain sandiwara mulai muncul. Dia mulai menerjunkan diri ke dunia pentas. Jiwa senimannya yang sangat besar itu kemudian mendorongnya untuk kembali ke kota kelahirannya tercinta, Jakarta. Walau ayah ibunya berasal dari Bonjol, Sumatera Barat, Ano selalu mengaku orang Betawi asli.

”Ya, bagaimana saya mau mengatakan saya orang Sumatera, kalau saya lahir dan besar disini (Jakarta)?” tuturnya pada Majalah Flamboyan tahun 1973.

Setelah lulus SMA, sekitar 1950-1953, merupakan masa perjuangan terberat Ano. Walaupun ia sudah bekerja di kantor pos, Hampir setiap hari Ano mengunjungi studio-studio film. Misalnya saja, Persari, Perfini, Tang & Wong Bros, Bintang Surabaya, dan Golden Arrow didatanginya agar ia bisa menjadi pemain film.

Ano menapaki karier dunia hiburan tahun 1953. Ia harus rela kehilangan pekerjaannya di Kantor Pos demi menjadi pemain sandiwara dan hiburan. Ano ingin membuktikan bahwa ia bukanlah orang yang mencari popularitas melalui keindahan fisik semata. Tak heran , Ia dijuluki ”Bad Boy of The Screen.”

Akhirnya, Ano berhasil di dunia perfilman nasional. Jejak Ano di dunia perfilman pun diikuti oleh anak-anak dia, Rano Karno, Suti Karno, dan Tino Karno. (Eric 574nk/dari berbagai sumber)***



Mama Lauren
Juni 14, 2008, 6:34 am
Diarsipkan di bawah: profil tokoh | Tag: , , , , , , , ,

Antara ”Penglihatan” dan ”Pendengaran”

Mama yang satu ini kehadirannya selalu ditunggu-tunggu masyarakat, biasanya menjelang tahun baru. Di malam pergantian tahun, wanita yang akrab disapa mama Lauren ini tak pernah absen meramalkan apa yang akan terjadi di tahun berikutnya. Darimana Lauren mendapatkan ”kemampuan” itu? Bagaimana liku-liku dia menapaki hidup hingga puncak kesuksesan?

Lauren dilahirkan di negeri Belanda, tepatnya di kota Eindhoven. Di usia tiga bulan, Lauren sudah ditinggal ibunya. Beberapa tahun kemudian, ayahnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas. Sejak itu, Lauren tinggal bersama nenek buyutnya, Antoineta, di Belgia. Antoineta lah orang yang paling berperan penting dalam kehidupan masa kecil Lauren.

Lauren memperoleh ”pendengaran” itu pertama kali tahun 1939. Lauren yang tengah mengikuti pelajaran di kelas satu SD tiba-tiba mendengar bisikan. Bisikan itu menyuruhnya cepat-cepat keluar dari kelas. Lauren kaget dan segera menyampaikan apa yang dia dengar kepada ibu guru. Namun, ibu guru menganggap Lauren sedang mempermainkannya. Tak pelak lagi, Lauren dimarahi dan diusir pulang.

Beberapa hari kemudian, Lauren mendengar kabar sekolahnya hancur terkena bom. Ratusan orang tewas dalam peristiwa itu. Memang, ketika itu Perang Dunia II belum lama pecah.

Sejak saat itulah Lauren mulai menyadari bahwa dirinya berbeda. Sebelum peristiwa-peristiwa mengerikan benar-benar terjadi, konon Lauren sudah terlebih dulu mengetahuinya lewat ”penglihatan” atau ”pendengaran”. Tak jarang Lauren dianggap gadis kecil yang aneh. Bahkan, Lauren sempat dijuluki nenek sihir yang naik sapu terbang.

Saat berusia 12 tahun, Lauren benar-benar meyakini bahwa dia memiliki indera keenam. Antoinet menjelaskan kepada Lauren bahwa mereka adalah keturunan kaum gypsy. Mereka dianugerahi bakat khusus untuk bisa melihat masa depan.

Perjalanan indah Lauren dan Antoineta juga tak bertahan lama. Ketika Lauren berusia 13 tahun, Ia harus merelakan kepergian Antoineta yang sangat dicintainya. Di usia 16 tahun, Lauren hidup sebatang kara.

Sepeninggal Antoineta, seorang kerabat memasukkan Lauren ke sebuah asrama. Akan tetapi, ketika Lauren tinggal di sana, ia gerah dengan aturan asrama. Lauren pun kabur setelah seminggu tinggal di asrama.

Di masa pelariannya, Lauren harus berjuang mati-matian untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pekerjaan pertama dia menjadi pencuci piring di sebuah restoran. Semenjak pagi hingga siang ia habiskan di restoran. Seusai bekerja, Lauren pergi sekolah hingga pukul 15.00 sore. Pukul 17.00 Lauren kembali bekerja sebagai kasir di toko sepatu hingga pukul 20.00 malam. Sedikit waktu yang tersisa di malam hari dia gunakan untuk belajar. Kehidupan seperti itu berlangsung selama beberapa tahun.

Lauren mulai mendapat sedikit angin segar ketika lulus SMU. Ia berkenalan dengan Prof. Van der Berg, seorang ahli parapsikologi dari Universitas Leuven. Berg dan istrinya mengajak Lauren untuk tinggal bersama mereka. Bersama Berg, Lauren diajak untuk mengenal kehidupan di Afrika. Bahkan, atas bantuan Berg, Lauren menempuh ilmu para-psikologi di Universitas Leuven, Belgia.

Di Universitas ini, Lauren bertemu dengan seorang mahasiswa jurusan arsitektur, dialah Natakusuma. Pria asal Indonesia itu akhirnya melamar Lauren sebagai istrinya. Tahun 1952, di usia 20 tahun, Lauren resmi menjadi istri Nata. Mereka pun hijrah ke Indonesia.

Tepatnya tahun 1953, Lauren meninggalkan negeri kelahirannya menuju Indonesia. Di tempat yang serba asing ini, Lauren berusaha beradaptasi, bahasa, makanan, maupun budaya.

Selama lima tahun, mereka terus berpindah-pindah dari satu rumah kontrakan ke rumah kontrakan lain. Baru pada tahun 1958, Nata mengajak Lauren pindah ke Kotabumi, Lampung Utara. Selama dua tahun mereka tinggal di daerah perkebunan.

Di kota ini Lauren melahirkan buah perkawinan mereka, Mario Lorens Natakusuma, di RS Xaverius, Tanjung Karang. Lengkaplah sudah keluarga Lauren dengan kehadiran Mario.

Namun, kebahagiaan pernikahan itu tak bertahan lama. 23 Februari 1973, Nata meninggalkan keluarga untuk selamanya. Tak tanggung-tanggung, semua harta disita oleh bank karena perusahaan yang didirikan Nata bangkrut. Dia meninggalkan banyak utang sehingga rumah mereka pun ikut disita. Satu-satunya perhiasan yang tersisa hanyalah sebuah cincin kawin. Lauren merasa tidak kuat lagi menjalani hidup. Ditinggal suami untuk selamanya tanpa harta sepeser pun. Di kehidupan Lauren tahun-tahun berikutnya, Mario, anak kesayangan Lauren, juga meninggalkan Lauren untuk selamanya. Lauren adalah wanita yang tabah. Ia harus merelakan kepergian ibu, ayah, nenek, suami, serta anak satu-satunya.

Mama Lauren dan dunia Entertainment

Geliat mama Lauren memasuki dunia entertainment bisa dibilang kebetulan. Ya, ceritanya pada tahun 1978, terjadi perampokan di sebuah pabrik di Cibinong. Sang manajer pabrik teringat akan kemampuan Lauren dan berniat untuk membuktikannya. Alhasil, Lauren diminta untuk ”melihat’ siapa yang terlibat dalam perampokan tersebut. Dengan mudah Lauren mengetahui bahwa dalang perampokan adalah satpam pabrik itu sendiri.

Rupanya, cerita itu di muat sebuah harian di Jakarta. Bahkan, pengasuh harian itu menawari Lauren untuk ”buka praktik” di kantor mereka di kawasan Tanah Abang. Berangsur-angsur, kehidupan Lauren membaik.

Di tempat praktik itulah, Lauren bertemu dengan seorang pelaut asal Tapanuli, Hendrik Pasaribu. Lauren dan Hendrik akhirnya menikah 29 Mei 1982. Seiring dengan itu, profesi Lauren sebagai paranormal pun makin bersinar. Mungkin, karena ramalan-ramalan Lauren dianggap jitu, orang makin banyak datang mencarinya untuk minta bantuan. Bayangkan, tujuh hari dalam seminggu Lauren melayani kliennya. Di usia Lauren yang kini hampir genap 76 tahun, pada 29 Mei 2007, Lauren dan Hendrik merayakan perkawinan perak.

Kliennya tak hanya masyarakat biasa, selebritis pun banyak yang konsultasi dengan Lauren. Bahkan, Lauren sering menghiasi wajah media cetak dan elektronik di tanah air ketika terjadi peristiwa bom Bali dan Tsunami di Aceh.

Lauren sering berpesan bahwa sebenarnya ulah manusia sendiri yang membuat hidup ini menjadi makin berat. Bumi makin panas dan berbagai bencana alam terjadi. Dalam ’penglihatan’ Lauren masih ada 12 gunung lagi yang akan meletus di tahun 2008. (Eric 574nk/dari berbagai Sumber)***



Luluk Purwanto
Juni 14, 2008, 6:30 am
Diarsipkan di bawah: profil tokoh | Tag: , , , , , , ,

Ikat Kepala, Biola, dan Bus

Ikat kepala dari kain batik atau lurik senantiasa menemani setiap penampilan dari musisi jazz yang satu ini. Dialah Luluk Purwanto, anak kedua dari tiga bersaudara ini memang terlahir di keluarga musisi. Ibunya, Aysha Gani, vokalis musik klasik yang mengepalai sebuah sekolah musik. Julian Purwanto, ayahnya, juga seorang penyanyi klasik. Karena itulah, masa kecil Luluk amat dekat dengan seni.

Luluk dilahirkan di solo, tetapi dibesarkan di Yogyakarta. Tak heran bila Luluk selalu saja merindukan Yogya. Kota ini yang membentuk dan membesarkannya. Ia tinggal di kawasan Kadipaten, tak jauh dari keraton.

Sedari kecil, tak pernah terbesit di benak Luluk untuk menjadi seorang violis. Sang ibu selalu mendorong Luluk untuk kursus biola. Satu hal yang membuat Luluk bersemangat adalah penjual jajanan pasar di depan tempat kursus biolanya. Kue-kue itu yang membuatnya rajin berlatih. Guru kursusnya malah membelanjakan biaya kursus Luluk untuk kue-kue itu. Asal, murid kebanggaannya itu mau berlatih.

Luluk juga sempat belajar musik klasik pada Karnaji Kristanto dan Nicolay Varfolomeye. Ketika Luluk kuliah di The Sydney Conservatorium of Music, Australia, ia selalu memainkan biola. Karena itulah, ia memilih spesialisasi di jenis alat musik gesek ini. Ia kemudian mengasah kemampuan musiknya di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Luluk akhirnya lulus 1987. Seusai kuliah, ia memutuskan untuk menikah dengan Rene van Helsdingen. Musisi asal Belanda ini semakin membenamkan Luluk dalam kehidupan bermusik.

Setelah menikah dengan Rene, Luluk memutuskan hijrah ke Belanda. Namun, ia tak pernah lupa pada Indonesia. Ia selalu membawa oleh-oleh bila mudik ke tanah air. Entah dalam bentuk konser atau gebrakan lain.

Tahun 1997 misalnya, ia menggelar show unik sampai ke pelosok daerah di Indonesia. Luluk menaiki bus yang bernama The Stage Bus yang dirancang untuk pertunjukkan musik. Ia tampil dengan The Helsdingen Trio, yang pianisnya tak lain adalah suami Luluk.

Awalnya, bus itu ia buat bersama pelukis Marcus di Belanda, kemudian mereka bawa keliling Eropa, Australia, dan Indonesia. Dengan bus itu pula, Luluk mengadakan tur konser panjang Amerika tahun 2002.

Hingga kini Luluk masih tinggal di Amsterdam bersama suaminya. Luluk masih memendam satu keinginannya, pulang kampung dan membuat pondok musik di Yogya. (Eric 574nk/dari berbagai sumber)***



Undang-Undang No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik
Juni 2, 2008, 3:01 am
Diarsipkan di bawah: payung hukum | Tag: , ,

Ada dua hal pokok yang bisa kita pegang dalam Undang-Undang ini. Pertama, definisi dari Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data elektronik. Data itu tak terbatas pada tulisan saja. Bisa berupa suara, gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange (EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks, telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti. Intinya, data itu bisa dimengerti oleh orang yang mengaksesnya. Kedua, yang dimaksud Transaksi Elektronik adalah perbuatan hukum yang dilakukan dengan menggunakan Komputer, jaringan Komputer, dan/atau media elektronik lainnya.

Menilik Pasal 4, pemanfaatan Teknologi Informasi dan Transaksi Elektronik bisa dilaksanakan asal bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, mengembangkan perdagangan dan perekonomian nasional dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelayanan publik, membuka kesempatan seluas-luasnya kepada setiap Orang untuk memajukan pemikiran dan kemampuan di bidang penggunaan dan pemanfaatan Teknologi Informasi seoptimal mungkin dan bertanggung jawab. Terakhir, memberikan rasa aman, keadilan, dan kepastian hukum bagi pengguna dan

penyelenggara Teknologi Informasi.

Sementara itu, bagi pelaku usaha yang menawarkan produk melalui Sistem Elektronik ada pula payung hukumnya. Yakni, harus menyediakan informasi yang lengkap dan benar berkaitan dengan syarat kontrak, produsen, dan produk yang ditawarkan. Hal itu diatur dalam Pasal 9.

Tak hanya itu, penjelasan mengenai nama domain, hak kekayaan intelektual, dan perlindungan hak pribadi sudah tercantum dalam UU ini, tepatnya pasal 23. Pasal 23 ayat 1 membolehkan setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, dan/atau masyarakat untuk memiliki Nama Domain berdasarkan prinsip pendaftar pertama. Namun, pemilikan dan penggunaan Nama Domain sebagaimana dimaksud pada ayat (1) harus didasarkan pada iktikad baik, tidak melanggar prinsip persaingan usaha secara sehat, dan tidak melanggar hak Orang lain. Sehingga, setiap penyelenggara negara, Orang, Badan Usaha, atau masyarakat yang dirugikan karena penggunaan Nama Domain secara tanpa hak oleh Orang lain, berhak untuk mengajukan gugatan pembatalan Nama Domain itu.

Untuk para pemilik situs internet, jangan kuatir mengenai Hak cipta. Sebab, Pasal 25 menyatakan bahwa Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang disusun menjadi karya intelektual, situs internet, dan karya intelektual yang ada di dalamnya dilindungi sebagai Hak Kekayaan Intelektual berdasarkan ketentuan Peraturan Perundang-undangan.

Selain itu, ada beberapa hal yang dilarang dalam UU no 11 ini. Menurut Pasal 27, setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan, memiliki muatan perjudian, memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama Baik, serta memiliki muatan pemerasan dan/atau pengancaman.

Tak hanya itu, hal yang dilarang juga diatur pada pasal 28 dan 29. Menurut pasal 28, setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan berita bohong dan menyesatkan yang mengakibatkan kerugian konsumen dalam Transaksi Elektronik. Selain itu, menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Sementara menurut Pasal 29 Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi.

Sehingga, bila ada yang dilarang, berarti ada konsekuensi bila seseorang melanggarnya. Sebut saja pasal 45. Menurut pasal ini, setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Selain itu, setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah). Kemudian, setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana dengan pidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp2.000.000.000,00 (dua miliar rupiah).

Konsekuensi lain dijelaskan dalam Pasal 52. Ayat 1 dari pasal ini mengatur tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1) menyangkut kesusilaan atau eksploitasi seksual terhadap anak dikenakan pemberatan sepertiga dari pidana pokok. Dalam hal tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 sampai dengan Pasal 37 dilakukan oleh korporasi dipidana dengan pidana pokok ditambah dua pertiga.

Demikian sekilas UU no 11 tahun 2008 ini. Saya tak membahas semua pasal, hanya mengangkat beberapa ketentuan yang sekiranya diperlukan. Mudah-mudahan bermanfaat bagi rekan-rekan yang memerlukan. (Eric 574nk/Sumber:UU no 11 Tahun 200 8)



Inu Kencana Syafiie

”Kamus Manusia”

Peluncuran buku Inu Kencana for President yang ditulis Tasaro beberapa hari yang lalu di Gedung Landmark, Bandung, menyegarkan ingatan pada tokoh yang satu ini. Nama Inu Kencana Syafiie biasanya dikaitkan bila “sesuatu” terjadi di tubuh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Padahal, sejalan kesibukannya sebagai dosen di IPDN, Inu sangat senang menulis buku dan novel.

Hingga saat ini, Inu telah menyelesaikan 59 buku dan 2 novel. Bahkan, sejak 1990 hingga 2007 sebanyak 25 karyanya telah diterbitkan, termasuk buku IPDN Undercover. Tema tulisan Inu beragam, ada tentang Islam, ilmu pemerintahan, filsafat, dan tema lainnya.

“Saat ini saya sedang merampungkan buku terbaru, judulnya Kamus Manusia. Buku ini bercerita tentang perilaku manusia, perilaku baik maupun buruk. Ada 1001 tokoh yang saya ceritakan di sini,” tutur Inu.
Tokoh yang Inu ceritakan beragam, mulai dari orang biasa sampai dengan artis dangdut Inul Daratista pun termasuk di dalamnya. Inu beralasan bahwa pengambilan tokoh-tokoh itu bisa mewakili masa tertentu.

Tentang makna angka 1001 pada tokoh yang dia ceritakan di buku ini, Inu menjelaskan bahwa 1001 itu artinya banyak. “Kalau satu kan sedikit, dua lumayan, maka 1001 artinya banyak,” kata Inu sambil tersenyum.

Buku setebal 1.000 halaman ini rencananya akan diterbitkan oleh Salamadinah. Judulnya pun mungkin diganti menjadi Rohnya Zaman karena bercerita tentang orang populer yang mewakili sebuah masa. Selain itu, jumlah halaman pun akan dikurangi agar buku ini bisa didapat masyarakat dengan harga yang lebih murah. “Itu terserah penerbit saja,” ujar Inu.

Selain menulis, bapak tiga orang anak ini memang sangat gemar membaca. Itulah salah satu resep mengapa dia sangat produktif menulis buku. Ketika ditanya mengenai tema buku yang paling sering dibaca, Inu menjawab singkat, “Filsafat.”

Inu menambahkan, “Filsafat dapat menjawab mengenai permasalahan apa pun yang sifatnya mendasar.” Filsafat pula yang mempertemukan Inu pada prinsip, “Saya berada pada titik nol, sedangkan Allah pada kemampuan tak terhingga.” (Eric Senjaya)***



Endang Sukandar

Kembali ke Kampus

Kalah suara dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Kabupaten Sumedang tidak membuat H. Endang Sukandar sedih berkepanjangan. Endang yang menjadi kandidat no. 2 bersama Donny Ahmad Munir dengan nama Esa-Doamu itu kembali akan menjalani kehidupan rutinnya, back to campus.

“Saya akan kembali ke kampus untuk mengajar. Di samping itu, saya juga tengah membimbing mahasiswa membuat skripsi sekaligus menjadi penguji sidang akhir mahasiswa,” kata Endang, yang ditemui di Sumedang beberapa waktu lalu.

Ketua Yayasan Pendidikan Sebelas April Sumedang itu mengajar mata kuliah psikologi pendidikan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sebelas April, Sumedang. Ia juga tercatat sebagai pengajar bidang studi manajemen dan perilaku organisasi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Sebelas April, Sumedang.

Kesibukan kakek enam cucu ini memang patut diacungi jempol. Betapa tidak, di usianya yang ke-59, ia tak berleha-leha, melainkan tetap bekerja. “Setiap pagi, saya biasanya bercocok tanam palawija di sawah. Menjelang siang, saya mengajar di kampus,” ujar Endang.

Sebelumnya, Endang adalah anggota Fraksi Partai Golkar di DPRD Jawa Barat. Namun, karena mengikuti Pilbup Sumedang, statusnya di DPRD Jabar masih belum ada kejelasan. Hanya, ia kini sudah tidak lagi berada di dalam partai berlambang pohon beringin itu.

Endang yang kini kembali menjadi “rakyat” Sumedang, sangat berharap bupati terpilih (Don Murdono-red.) periode 2008-2013 ini dapat mengemban amanah dengan baik.

“Saya sangat percaya, beliau kan sudah pernah menjadi bupati. Apalagi didampingi adik saya, Opik, yang notabene mantan Ketua DPRD dan Ketua DPD Golkar Sumedang. Beliau-beliau ini pasti sudah mengetahui apa yang diinginkan masyarakat Sumedang,” kata Endang. (Eric 574nk)***