www.eric-senjaya.co.nr


21 ORANG SIVITAS UNPAD TERIMA PENGHARGAAN
25 Maret 2008, 07:26
Filed under: Penghargaan

berita – 17 Agt 2007 Upacara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia (17/08) di halaman Universitas Padjadjaran dipimpin langsung oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia. Dalam acara tersebut sekaligus diberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi dibidangnya. Penghargaan yang diberikan langsung oleh Rektor tersebut meliputi, penghargaan untuk dosen berprestasi serta penghargaan bidang kemahasiswaan yang diberikan kepada 19 orang mahasiswa.Penghargaan untuk Dosen berprestasi, tahun ini diraih oleh Dr. Irwan Ary Dharmawan dari MIPA, Dr. Nanny Dewi, SE., M.Com., Ak dari Fakultas Ekonomi serta Dr. Didin Muhafidin, S.Ip., M.Si. dari Fisip.Selain itu, Mahmudin Nur Al-Gozaly dari Fakultas Hukum, Keyty S. Yoso dari Fakultas Sastra dan Budi Kurniawan Supangat dari FISIP, tahun ini berhasil terpilih sebagai Mahasiswa berprestasi Unpad pada pemilihan yang diadakan Mei lalu.Sementara itu dalam kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XX (Pimnas XX), di Universitas Lampung, Unpad berhasil meraih juara I pada PKM bidang Penelitian dari Fakultas MIPA. Saat itu Unpad diwaliki oleh Eric Senjaya, Stepanus Tangguh, Anita Anggraeni, Gema Parasti M dan Seni Susanti dari Fakultas MIPA yang dibimbing oleh Jajat Yuda Mindara, Drs.,M.S.Untuk Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) tingkat regional, Unpad meraih juara II pada bidang IPS dan sekaligus finalis pada LKTM tingkat nasional pada PIMNAS XX di Unila. Dalam bidang lain, Unpad juga mampu meraih juara umum III dalam MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional yang diadakan di Universitas Sriwijaya, Palembang. Hadir dalam peringatan tersebut, seluruh sivitas akademika Unpad, Mulai dari Dosen, Mahasiswa, juga staf administrasi yang terlihat khidmat mengikuti upacara hingga akhir.(afn)Sumber: www.unpad.ac.id/info_detail.aspx



Dari Pimnas XX – Ada “Elevator” Tenaga Air
25 Maret 2008, 07:26
Filed under: Penghargaan

PEKAN Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XX, belum lama lewat. Akan tetapi, karya-karya dari 175 kampus dengan 1.500 partisipan di Universitas Lampung (Unila), Provinsi Lampung, Juli lalu, tentunya sayang kalau dilewatkan begitu saja.
Imbauan untuk mendukung pengembangan karya-karya ilmiah mahasiswa yang menarik dari ajang ini, pantas dilayangkan ke berbagai pihak. Banyak hal bisa dilakukan, mulai dari turut memfasilitasi mematenkan, memassalkan, dan juga hal mendasar yaitu, menumbuhkan kecintaan riset di kampus. Mengarusutamakan iptek, memang merupakan salah satu jawaban agar Indonesia bisa bersaing di dunia internasional.
Para pemenang dari 5 cabang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) — masing-masing cabang dibagi lagi menjadi beberapa kelas — sudah diumumkan. Universitas Gadjah Mada (UGM) keluar sebagai juara umum, dengan perolehan 6 emas dan 4 perak. Disusul Institut Pertanian Bogor (IPB) yang meraih juara II dengan 4 emas, 7 perak, dan 3 perunggu, dan peringkat III, yaitu Universitas Brawijaya, dengan 2 emas, 4 perak, dan 1 perunggu. Berbeda dengan sebelumnya, kini tidak ada juara nasional untuk setiap cabang PKM, melainkan juara kelas saja. Berikut ini, sedikit cerita dari beberapa peserta yang dihimpun Kampus.

Qronis, belajar Iqro lewat animasi
Ini akan berguna untuk masyarakat Muslim, khususnya anak-anak, yang ingin belajar membaca Alquran. Sekelompok mahasiswa yang terdiri dari Ali Murtado Fauzarrohman, Dwi Tuti Supantari, Hadary Mallafi, Muhammad Amrul Ummami, dan Tamami Efendi, bukan sekadar prihatin pada minat anak-anak belajar membaca Alquran yang kurang, tapi turut memberi solusi. Mereka yang menamakan dirinya tim Tahta (Tari, Ali, Hadary, Tamami, dan Amrul) itu membuat metode belajar Alquran lewat animasi! Karya ini menyumbang perunggu dari kategori Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Pimnas XX kepada kampusnya, STT Telkom.
Penasaran pada ajang Pimnas, tertarik aplikasi komputerisasi, dan ingin tahu soal minat membaca Alquran, akhirnya membulatkan tekad mereka turut mendaftarkan proposal. Ternyata, proposal ini termasuk proposal yang lolos didanai Dirjen Dikti sekitar Rp 5 juta. Berdasarkan penelitian dengan pembagian kuesioner yang mereka lakukan, ada anggapan bahwa metode pembelajaran Alquran cenderung kurang menarik, khususnya untuk anak-anak.
Makanya, mereka pun mencoba bikin metode pembelajaran baru yaitu, metode pembelajaran Alquran dengan Qronis (Iqro Animasi). “Tujuan utamanya bukan supaya anak-anak itu langsung cerdas, namun supaya anak-anak tertarik aja dulu,” ucap Hadary, salah seorang anggota Tahta, dalam obrolan dengan Kampus, Sabtu (4/8).
Metode pembelajaran Qronis mengadopsi sistem populer Iqro, yang dipadatkan menjadi 3 level, yaitu, pengenalan huruf hijaiyah, belajar tanda baca, dan menyambungkan huruf. Kini, Qronis tersedia dalam bentuk CD interaktif dan website (http://www.qronis.web.id). Website ini sudah disajikan dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Tutorial yang ada di sana terbilang menarik, dengan suara dan gambar yang dinamis.
Berbicara tentang karya penelitian mahasiswa, Ali berpendapat, sering yang sudah dibuat, lalu menganggur saja. Oleh karenanya, ia tak mau alatnya bernasib seperti itu. Maka, demi benar-benar bisa diterapkan di masyarakat, ia berniat tidak mengomersialkan produk ini. “Kita rencananya akan bikinin hak ciptanya, supaya tidak dikomersialkan oleh pihak lain, lalu kita open ke masyarakat, supaya bisa mempelajari ini secara gratis. Silakan download secara gratis di website kami,” ujar mahasiswa angkatan 2005 ini, yang berharap bantuan dana untuk pengembangan Qronis lebih lanjut, bahkan kalau perlu dipublikasikan sampai ke luar negeri.

 Alat pengukur film tipis
Masih awam dengan film tipis? Mungkin kawan Kampus tidak akan bingung kalau film tipis dikaitkan dengan barang-barang keseharian, seperti keping CD, DVD, microprocessor, handphone, dsb. Berbagai perkakas elektronika semacam itu biasanya memiliki film tipis, yang kurang lebih berfungsi menyimpan data.
Sudah sejak beberapa lama, sekelompok dosen di Fisika Unpad berupaya fabrikasi film tipis. Bukan apa-apa. Mereka ingin turut serta menjajal prospek dalam bidang elektronika telekomunikasi yang kini terbilang cerah. Masalahnya, alat untuk mengukur tebalnya film tipis tersebut tidak dimiliki laboratorium. Sementara, pengadaan alat itu biasanya perlu mengimpor produk Jepang yang sangat mahal, sekitar Rp 200 juta.
Sekaligus memanfaatkan momen Pimnas, maka para mahasiswa pun “diutus” untuk melakukan penelitian pembuatan alat pengukur tebal film tipis. “Tujuannya sih sebagai alat alternatif dari yang sudah ada,” ucap Yun Romadho, salah seorang anggota tim Pimnas Unpad, yang mengajukan proposal “Kajian Awal Desain Sistem Pengukur Tebal Profil Lapisan Tipis Metode Elektromekanis Berbasis Komputer Sebagai Alternatif Pengukur Tebal Film Tipis”, ketika ditemui Kampus, Selasa (7/8).
Selain Yun, karya yang menyumbang emas dari kategori Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Pimnas XX kepada kampus Unpad, itu juga dikerjakan oleh Eric Senjaya, Anita Anggraeni, Gema Parasti, dan Rangga Karsana, semuanya dari Jurusan Fisika FMIPA Unpad.
Linier Variable Deference Transformer (LVDT) adalah salah satu transducer yang digunakan untuk pengukuran tebal profil film tipis menggunakan metode stylus-elektromekanis ini. Kalau data sudah terdeteksi, akan langsung dikonversikan ke komputer.
“Alat ini gunanya untuk mengukur tebal dan tipis film sesuai keinginan. Yang jelas, semakin tipis filmnya, semakin banyak bisa menyimpan data. Yang paling sulit, proses pengubahan data analog jadi digital. Sekarang kita sudah bikin rancang-bangun, dia bisa mengukur, mengubah data dari analog ke digital. Siapa yang mau, bisa pesan ke kita,” kata Gema, seraya berharap kampusnya mau membantu memfasilitasi soal hak cipta dan pengembangan lebih lanjut.

Bawal bawa hoki
Berbeda dengan kategori lain, dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) tidak perlu ada penelitian atau temuan. Yang penting adalah tercipta keterampilan berwirausaha dan berorientasi pada profit. Betty Rahmawati, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB 2004, berhasil menunjukkan skill-nya dalam hal entrepreneurship, dan turut memberi emas pada perolehan medali Pimnas XX untuk IPB lewat proposal, “Menangkap Peluang Usaha Pemasaran Larva Ikan Bawal Air”, yang dikerjakan bersama Hendar Arief Alfian.
Keakraban Betty pada bawal, bermula dari kebutuhan uang untuk biaya kuliahnya. Dua tahun lalu, ia bertemu dengan seseorang yang memerlukan larva ikan bawal sampai ratusan ribu. “Saya iya-kan aja bilang bisa menyediakan, padahal nggak tahu apa-apa,” kata Betty, yang sudah mencoba memenuhi kebutuhan sendiri dengan berjualan sejak SD, sambil tertawa.
Beruntung, ia bertemu dengan kakak kelasnya, yang memiliki farm besar di Bogor. Sebab, butuh modal besar untuk memenuhi permintaan tak terduga itu, ia pun mengajak Hendra. Keputusan mereka melakukan penangguhan bayar SPP, ternyata tidak sia-sia, karena penjualan itu sukses. Selanjutnya, usaha Betty adalah memenuhi permintaan larva ikan bawal para petani ikan. Kini, ia memenuhi pesanan dari Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Sukabumi, dsb. “Modal larvanya Rp 12/ekor, saya jual Rp 14/ekor,” katanya.
Kelompok betty bisa menang, boleh jadi karena ia sudah berpengalaman dan laporan kemajuannya juga bagus. Sepanjang proses pendanaan Dikti sejak Februari sampai Juni lalu, ia membukukan keuntungan sampai Rp 9.680.000,00. Untung yang diperoleh Betty terbilang lumayan, meski tergantung ketersediaan larva. Soal kendala, ia juga mengalami berbagai hal mulai dari ditipu sampai para petani yang tidak sanggup membayar tunai produknya. “Wirausahawan harus tahan banting dan jeli mencium peluang,” ujar Betty memberi resepnya dan mengatakan senang bisa turut membuka lahan kerja bagi orang lain.
Elevator tenaga air hemat energi
Suatu ketika, Ahmad Radikal, mahasiswa ITS 2005, mendengar keinginan orang tuanya untuk membangun rumah berlantai dua. Melihat seantero rumahnya yang terbilang sederhana, ia berpikir satu tangga tidak efisien karena memakan banyak ruang. Akan tetapi, tiba-tiba, eureka!, terlintas di pikirannya untuk menghadirkan bangunan modern di rumahnya, berupa lift. Berkat kesegaran idenya, karya “Hidropower Elevator: Media Transportasi Naik Turun dengan Tenaga Air”, yang dikerjakan Ahmad bersama Aulia Fajar, Naufal Budiman, dan Putra Miftahudin itu berhasil meraih emas PKMT Pimnas XX.
Lift/elevator itu memakai konsep hydropower (tenaga air). Kerjanya boleh dibilang tak beda dengan elevator yang biasa digunakan orang. Bedanya, energi yang digunakan adalah air dan juga efisien energi. “Kalau yang konvensional, power-nya bisa sampai 5.000 watt, kalau yang ini hanya 300 watt. Ini termasuk mempertimbangkan master plan pemerintah yaitu konservasi energi,” ujar Ahmad.
Kerja elevator bergantung air dan pemberat apung. Bila elevator dioperasikan ke atas, maka air akan turun. Pemberatnya turun menyesuaikan volume air dan sebaliknya. “Pokoknya mengambil sifat air yang bisa mengapungkan benda,” kata Ahmad.
Tim ini merancang elevator tersebut untuk dapat digunakan di rumah susun, ruko komersial, dan siapa pun yang membutuhkan. “Senang banget tanggapan atas alat ini luar biasa. Sekarang alat ini akan proses paten. Di luar soal itu, saya ingin memberi saran pada kampus agar mengoptimalkan sentra HaKI, serta membantu mengembangkan karya mahasiswa,” katanya. ***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Sumber:www.pikiran-rakyat.co.id



KEPUTUSAN TIM JURI PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL
25 Maret 2008, 07:23
Filed under: Penghargaan

KEPUTUSAN TIM JURI PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL

NOMOR : 06/SK/PIMNAS XX/2007

TENTANG HASIL PENILAIAN PRESENTASI, LOMBA POSTER ILMIAH PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA DAN PENETAPAN PEMENANG PRESENTASI LOMBA KARYA TULIS MAHASISWA PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL XX 2007 KETUA TIM JURI PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL XX TAHUN 2007

Menimbang : dst.nya, Mengingat :dst.nya, Memperhatikan :dst.nya,

MEMUTUSKAN Menetapkan

Pertama : Menentukan Hasil Penilaian Presentasi Karya Ilmiah Program Kreativitas Mahasiswa, Lomba Poster Ilmiah dan Lomba Karya Tulis Mahasiswa 2007 dengan urutan pemenang seperti yang tersebut dalam lampiran keputusan ini;

Kedua :Jika terdapat kekeliruan dalam keputusan ini akan diadakan perubahan sebagaimana mestinya;

Ketiga :Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Lampung, 21 Juli 2007

Tim Juri PIMNAS XX

Ketua,

Ttd. Prof. Dr. Surya Anwar

Lampiran : Keputusan Tim Juri Presentasi Karya Ilmiah Program Kreativitas Mahasiswa Nomor: 06/SK/PIMNAS XX/2007 Tanggal 21 Juli 2007

HASIL PENILAIAN TIM JURI PRESENTASI KARYA ILMIAH PROGRAM KREATIVITAS MAHASISWA DALAM RANGKA PENYELENGGARAAN PEKAN ILMIAH MAHASISWA NASIONAL XX TAHUN 2007 A. PEMENANG PENGHARGAAN PRESENTASI ILMIAH

I. PKM Bidang Penelitian (PKMP) 1 No.Judul Karya IlmiahPerguruan TinggiNama MahasiswaPemenang 1Formulasi Tablet Effervescent Rumput Laut yang Kaya akan Antioksidan dan MikronutrienUniversitas Gadjah Mada1. Dina Firhani Luhuringtyas 2. Dina Anitasari 3. Arif Rahmandita 4. Pipin KusumawatiPenyaji Terbaik I 2Inovasi Perancangan Biosensor Untuk Mendeteksi Kadar Asam Urat Dalam Urin.Universitas Brawijaya1. Achmad Nizar Baihaqi 2. Arfebriyan Wahyu Kresna 3. Ririn Widya Herlina 4. Umi AndariniPenyaji Terbaik II 3Usulan Perbaikan Perancangan Medial Arch Support pada Sepatu Ortopedi bagi Penderita Flat Foot dengan Menggunakan Analisis BiomekanikUniversitas Sebelas Maret1. Makarina Kusumastuti 2. Tettri Nur’aini 3. Tony Ardiansyah 4. Sabrina MatildaPenyaji Terbaik III

II. PKM Bidang Penelitian (PKMP) 2 No.Judul Karya IlmiahPerguruan TinggiNama MahasiswaPemenang 1Makna Filosofi dan Nilai-nilai yang terkandung dalam Tari Klana Raja Gaya YogyakartaUniversitas Negeri Yogyakarta1. Nur Indrawati 2. Ida Gustria Indah 3. Damar Kasyiyadi 4. Luvia PavitaningrumPenyaji Terbaik I 2Pengaruh MS-222 Pada Kosentrasi yang Berbeda Terhadap Laju Sintasan Ikan Botia Selama Proses PengangkutanUniversitas Muhammadiyah Pontianak1. Dian Anggriani 2. Haimimin 3. MuslimunPenyaji Terbaik II 3Pilarisasi dan Karakterisasi Bentonit-HDTMA dengan Campuran Logam Al-feUniversitas Surabaya1. Ninuk Liana Lay 2. Rico Tedyono 3. Hendy Susanto 4. Danang Catur PrakosoPenyaji Terbaik III

III. PKM Bidang Penelitian (PKMP) 3 No.Judul Karya IlmiahPerguruan TinggiNama MahasiswaPemenang 1Pemanfaatan Daun Jarak (Jatropha Curcas L.) Sebagai Bahan Antimikroba Alami Dan Pengaruhnya Terhadap Perfoma Serta Keseimbangan Mikroflora Saluran Pencernaan Ayam PedagingInstitut Pertanian Bogor1. Suthanty Ika Pratiwi 2. Devi Juariah 3. Indri Anita Ginting 4. Arif Ahmad Rifa’IPenyaji Terbaik I 2Homogenisasi Anoda Tumbal Zn As Cast Sebagai Langkah Optimasi Proteksi Korosi pada Baja Tulangan Struktur Beton di Lingkungan Air LautInstitut Teknologi Sepuluh November Surabaya1. Imam Fathurahman 2. Moch Ating Kurnia 3. I Made Arya Bayu S 4. HaizanPenyaji Terbaik II 3Hubungan Kemampuan penyesuaian Diri Terhadap Stress dengan Prestasi Belajar Siswa Pada Tahun Terakhir Masa AjarUniversitas Indonesia1. Andi Setiawan 2. Dasril Guntara 3. Zhajang Lili CharliPenyaji Terbaik III

IV. PKM Bidang Penelitian (PKMP) 4 No.Judul Karya IlmiahPerguruan TinggiNama MahasiswaPemenang 1Pemanfaatan Ekstrak Abu Ampas Tebu sebagai Sumber Kalium Pengganti KOH (Kalium Hidroksida) pada Proses Penjendalan dalam Pembuatan Agar-agar Kertas dari Rumput LautUniversitas Gadjah Mada1. Fakhrudin Al Rozi 2. Elly Puspitaningrum 3. Muhtadi 4. Hapsari RatnaningtyasPenyaji Terbaik I 2Diversifikasi Minyak Nilam (Patchouli Oil) Perdagangan Menjadi Bahan Dasar Senyawa Beraroma ( Parfum ) Dengan Nilai Ekonomi Tinggi.Universitas Brawijaya1. Kadek Windy Hapsari 2. Lilik Nasukhah 3. Rika Dian N.Penyaji Terbaik II 3Potensi Kulit Durian (Durio zibethinus Murr) sebagai Alternatif Baru Sumber Fiber PlantUniversitas Airlangga1. Hendry Candra Dewanto 2. Dimas Rizki Faluti 3. Andang Miatmoko 4. Rosda FebrianaPenyaji Terbaik III

V. PKM Bidang Penelitian (PKMP) 5

Kajian Awal Desain Sistem Pengukuran Profil Lapisan Tipis Metoda Elektromekanis Berbasis Komputer Sebagai Alternatif Pengukur Tebal Film TipisUniversitas Padjadjaran

1. Eric Senjaya 2. Gema Parasti M 3. Anita Anggraeni 4. Stephanus TangguhPenyaji Terbaik I

2Bakteri Asal Tanaman Cabai Pendegradasi Kutu KebulInstitut Pertanian Bogor1. Irni Mahagiani 2. Muhammad Noviarto BS 3. Andri Taruna 4. Lailatul ZuhriaPenyaji Terbaik II

3Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbasis Kontekstual (CTL)-Learning Cycle (LC) pada Materi Pokok Fungsi sebagai Implementasi per.Men. No. 22 Tahun 2006Universitas Negeri Malang1. Atik Agustina 2. Dwi Lestari 3. Magdalena Putri N.Penyaji Terbaik III



Kesejahteraan Petani Tergerus Inflasi
25 Maret 2008, 06:48
Filed under: Riset Panen Raya 2008

Sering kali kita mendengar mengenai petani yang merugi kala musim panen. Ada pula petani yang mengaku untung besar. Padahal, kita hanya mendengar informasi dari segelintir petani di daerah tertentu. Bagaimana cara mengetahui apakah petani sejahtera atau tidak?Hal ini dapat dilihat dari nilai tukar petani atau NTP. Nilai tukar petani menunjukkan daya tukar dari produk pertanian dengan barang dan jasa konsumsi. Nilai ini diperoleh dari perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) dan indeks harga yang dibayar petani (Ib). It merupakan sebuah indikator tingkat kesejahteraan petani dari sisi pendapatannya, sedangkan Ib dari sisi pengeluaran petani. Semakin tinggi NTP, semakin sejahtera pula para petani di Jawa Barat. Dengan syarat jika harga produk pertanian naik dengan hasil produksi yang tetap maka pendapatan petani dari hasil panennya juga akan bertambah. NTP juga bisa digunakan sebagai patokan kesejahteraan petani bila petani sebagai pemilik sekaligus penggarap. Jika petani sebagai penggarap, berapa pun perubahan NTP tidak banyak berpengaruh. Sebab, keuntungan terbesar diraih oleh pemilik.Dari hasil survei BPS Jabar, pada Desember 2007 terjadi kenaikan nilai tukar petani sebesar 1,03% yang asalnya 114 menjadi 116. Kenaikan ini terjadi karena ada kenaikan pada indeks harga yang diterima petani dan indeks harga yang dibayar petani. Kenaikan harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh petani dan biaya produksi hasil pertanian. NTP sebesar 116 artinya para petani mengalami surplus atau pendapatannya meningkat. Hal ini dipicu oleh kenaikan antara It dan Ib, tetapi besar kenaikan Ib tidak sebesar kenaikan It. Dengan kata lain, harga produksinya naik lebih besar daripada kenaikan harga konsumsinya sehingga pendapatan petani naik lebih besar daripada pengeluarannya. Dengan demikian, tingkat kesejahteraan petani bulan Desember 2007 lebih baik dibandingkan dengan tingkat kesejahteraan petani bulan sebelumnya. Sejalan dengan peningkatan NTP, serangan hama dan cuaca yang tidak bisa diprediksi pun harus mereka hadapi. Malah, NTP untuk musim panen raya tahun 2008 belum tentu meningkat. Salah satu penghambat peningkatan NTP tahun ini adalah inflasi.Naiknya harga barang konsumsi rumah tangga mendesak petani meningkatkan pengeluaran atau Ib, sehingga nilai Ib yang semakin besar membuat NTP akan tetap atau justru akan menurun. Artinya, kesejahteraan petani justru menurun di panen raya ini. Para petani berharap musim panen kali ini akan memberikan pemasukan yang lebih besar dan pengeluaran untuk konsumsi tidak terlalu besar agar tingkat kesejahteraan mereka meningkat pula. (Eric Senjaya/Nita Wulansari) ***



Usaha Penggilingan Terseok
25 Maret 2008, 06:47
Filed under: Riset Panen Raya 2008

HARGA gabah yang relatif tinggi pada musim panen kali ini membuat repot sejumlah pengusaha penggilingan. Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, situasinya kini berbalik membuat usaha penggilingan cukup terseok-seok menghadapi musim panen. Harga gabah kering pungut (GKP) siap giling di petani yang rata-rata Rp 2.300,00-2.500,00/kg, dirasakan masih memberatkan para pengusaha penggilingan. Dengan harga gabah sebesar itu, banyak pengusaha penggilingan harus menjual beras ke pasaran Pasar Induk Cipinang Jakarta dan Bandung, sedikitnya Rp 4.000,00/kg.Beberapa pemilik penggilingan menyebutkan, sebuah dilema membeli gabah dalam harga relatif tinggi, namun kadar air maksimal banyak yang belum memenuhi syarat. Ini membuat risiko biaya produksi bertambah karena harus mengeluarkan biaya tambahan untuk pengeringan. Ketua Persatuan Penggilingan Padi (Perpadi) Jabar, Abdul Harjo, menyebutkan, situasi ini menyulitkan para pengusaha penggilingan untuk menghitung usaha. Walau diakui masih ada untung, situasinya tak seperti tahun-tahun lalu, apalagi untuk menjual beras saat ini permintaan pasar sedang tak tinggi. “Banyak pengusaha penggilingan saat ini menggiling di bawah standar, apalagi yang modalnya terbatas. Efisiensi besar-besaran banyak dilakukan pengusaha penggilingan, untuk menyiasati agar memperoleh untung sesuai harapan,” kata Abdul Harjo, yang memiliki usaha penggilingan di Kab. Subang. Kondisi lainnya, menurut dia, para pengusaha penggilingan pun harus lebih aktif mencari pasokan gabah. Panen yang terjadi secara bertahap, membuat pasokan gabah di lapangan pun tak sekaligus melimpah. Kendati demikian, menurut pemilik penggilingan di Kec. Cibuaya, Kab. Karawang, Wahid, para pengusaha penggilingan di Pantura Jabar secara umum relatif cepat memperoleh pasokan gabah. Soalnya, para petani umumnya cepat-cepat menjual hasil panen, apalagi di daerah irigasi untuk modal menanam berikutnya.Disebutkan, per hari Minggu (23/3), harga beras super masih berkutat Rp 4.300,00-4.400,00/kg, sedangkan medium I Rp 4.200,00/kg, kelas di bawahnya Rp 3.900,00-4.000,00/kg. Harga tersebut dalam kondisi standar, namun efisiensi biaya produksi harus dilakukan, mengingat harga gabah berkualitas baik yang masih tinggi. “Membeli gabah berkualitas rendah dengan harga di bawah patokan pemerintah pun belum tentu menguntungkan. Kami menjadi terbebani tambahan biaya pengeringan sehingga proses penggilingan lebih lama,” katanya. **Sementara itu, terseok-seoknya usaha penggilingan juga dialami di jalur selatan, misalnya di Ciamis dan Banjar. Apalagi, ada perbedaan situasi dan karakteristik wilayah berikut perilaku petaninya. Pengusaha penggilingan padi di Desa Sumur Bandung, Kec. Cijeungjing, Kab. Ciamis, H. Pipin, mengaku usahanya masih untung meski penjualan dirasakan seret. Harga gabah yang mahal menjadi kendala utama, yang dirasakan pada musim panen seperti sekarang. “Biasanya saya menggiling gabah rata-rata 15 ton/hari, sekarang hanya separuhnya karena pembelian dan pasokan gabah terbatas. Kita dituntut kita kerja keras dan mau turun ke lapangan keliling mencari gabah dari petani,” ujarnya. Pasalnya, para petani di Ciamis dan Banjar, jarang yang suka menjual gabah di lokasi panen. Para petani di Ciamis dan Banjar terbiasa menabung gabah dan baru dijual pada saat memerlukan. Namun , mereka menjadi jarang kesulitan cadangan beras pada saat paceklik atau harga beras sedang melambung. (Kodar S./Undang S./Yoesef Adji/”PR”/Nita Wulansari/Eric Senjaya)***



Januari-April, Luas Panen Terbesar
25 Maret 2008, 06:42
Filed under: Riset Panen Raya 2008

BUTIR-BUTIR keringat menetes dari balik topinya. Topi tani yang dikenakannya sepertinya tidak mampu menahan teriknya panas mentari siang itu. Sambil ngeprik, petani bertopi itu bercanda dengan petani lain, menunjukkan ia sedang bergembira. Pria itu sedang senang karena sawah yang diolahnya kini sudah panen.“Yah, lumayan lah hasil panen ini bisa buat bayar sekolah anak,” kata Sumarni (35), seorang petani di Kabupaten Ciamis. Hasil panen kali ini cukup bagus. Ia memperoleh empat ton gabah kering panen. Hasil itu, ia dapat dari lahan seluas satu hektare. Bagi Sumarni, nilai gabah kering sebesar empat ton hanya cukup untuk hidup pas-pasan. Padahal, nilai empat ton itu menyumbang hasil panen keseluruhan, baik secara lokal di Kabupaten Ciamis maupun regional Jawa Barat. Bukan hanya Sumarni yang merayakan panen, hampir seluruh petani di Jawa Barat merayakannya. Masa panen raya di Jawa Barat yang terjadi sekitar bulan Februari-April, dikenal dengan musim panen rendeng. Terdapat lima kabupaten yang menjadi lumbung padi di Jawa Barat yaitu Kabupaten Indramayu, Karawang, Subang, Tasikmalaya, dan Ciamis. Dari data terakhir di BPS Jabar tahun 2006, Indramayu menghasilkan padi satu juta ton dengan luas panen 187.000 hektare, Karawang memproduksi padi 966.000 ton dengan luas panen 176.000 hektare, Subang memproduksi 913.000 ton padi dengan luas panen 167.000 hektar, Tasikmalaya menghasilkan 553.000 ton dengan luas panen 103.000 hektare dan Ciamis memproduksi 543.000 ton padi dengan luas panen 101.000 hektar. Daerah lumbung padi tersebut memberi kontribusi sekitar 43,74 % terhadap produksi padi di Jawa Barat, sedangkan untuk luas panen menyumbang 43,55 %. Berarti, hampir setengah dari produksi dan luas panen Jawa Barat didapat dari kelima kabupaten itu. Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Subang, luas panen padi sawah di Kabupaten Subang tahun 2007 adalah 179.068 ha dengan hasil produksi padi sawah mencapai 1.069.272 ton. Jika hasil produksi padi sawah untuk panen raya tahun 2008 mencapai hasil yang sama seperti tahun 2007, Kabupaten Subang memberi kontribusi 10,63% dari total prediksi produksi padi tahun 2008 Jawa Barat.Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, produksi padi sawah tahun 2007 sebanyak 1.211.350,95 ton. Luas panen di Kabupaten Karawang sebesar 198.749 ha. Kabupaten Karawang memberi kontribusi 12,05% untuk prediksi produksi padi tahun 2008.Berdasarkan data BPS Kab. Indramayu, produksi padi sawah tahun 2006 mencapai 1.006.991 ton, sedangkan luas panen 187.770 ha. Jika hasil Kab Indramayu memiliki kecenderungan sama dengan Kabupaten Karawang dan Subang, data produksi tahun 2007 sekitar 1.316.991. Jika hasil panen 2008 relatif stabil terhadap panen tahun 2007, berarti Kab Indramayu akan menyumbang 13,01%.Apalagi untuk daerah Kabupaten Tasikmalaya, Dinas Pertanian setempat mengembangkan sistem penanaman padi baru yang dinamakan system intensification rice atau SRI. Sistem ini tidak mengenal pergeseran cuaca hujan karena tidak terlalu membutuhkan air sehingga menghemat 50% pasokan air. Ditambah produksi yang dihasilkan sebanyak rata-rata 7,5 ton per hektare dibandingkan dengan sistem konvensional yang hanya menghasilkan rata-rata 5 ton per hektare. Begitu pula untuk Kabupaten Ciamis. Para petani di sana sudah mulai mengembangkan metode SRI. Hasil produksi padi SRI menurut Dinas Pertanian terus meningkat dari tahun ke tahun. Bahkan, hasil tahun 2007 mengalami peningkatan yang signifikan sebesar 12.276 ton dibandingkan dengan tahun 2006 sebesar 2.710 ton.Dari data produksi tahun 2007, Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis memproduksi masing-masing 681.034 ton dan 604.514,7 ton. Total produksi padi kedua kabupaten tersebut mengontribusi 12,79 % produksi padi Jabar tahun 2008 jika hasil produksinya tidak mengalami perubahan. Sampai bulan Februari 2008 saja, luas tanam di Kabupaten Tasikmalaya sudah mencapai 14.357 ha dan luas panen 20.694 ha dengan produktivitas padi sawah 59,27 % dan padi ladang 30,80 %. Lahan-lahan bukan sawah pun sudah diberdayakan untuk menanam padi. Sedikitnya, 98.291 hektare lahan yang terdiri atas pekarangan, tegal/kebun, dan ladang/huma.Secara regional, potensi luas panen padi di Provinsi Jawa Barat sekitar 1,88 juta hektare. Luas baku lahan di Jawa Barat adalah 3.548.978 hektare yang terdiri atas lahan sawah 930.158 hektare dan lahan kering 2.618.820 hektare. Jika kita menilik ke belakang, luas tanam padi Jawa Barat periode tanam Oktober-Desember 2007 sekitar 3,95 juta hektare. Berarti, pada Januari 2008 didapat panen padi sekitar 2,03 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara 1,15 juta ton beras.Menurut Data Badan Pusat Statistik Jawa Barat, produksi panen Jawa Barat tahun 2008 diperkirakan akan mencapai 10,05 juta ton GKG. Berdasarkan angka perkiraan tersebut, produksi beras tahun 2008 akan mencapai 6,35 juta ton. Kenaikan produksi padi ini disebabkan adanya kenaikan luas panen sebesar 2,26 %. Perkiraan kenaikan luas panen akan terjadi pada periode Januari-April, sementara periode Mei-Agustus dan September-Desember diperkirakan luas panen akan menurun. Data Dinas Pertanian Tanaman Pangan Jawa Barat sudah mengeluarkan total produksi padi tahun 2007, sebesar 10.142.561 ton. Dengan demikian, jika kondisi cuaca baik dan serangan hama dapat dikendalikan, angka ramalan BPS untuk tahun 2008 dapat tercapai.Berdasarkan pantauan “PR” terhadap lima daerah lumbung padi, secara keseluruhan daerah lumbung itu akan menyumbang 48,5 % lebih besar dari produksi tahun 2006. Dengan demikian, dapat dipastikan angka ramalan BPS Jabar untuk tahun 2008 bisa tercapai. (Eric Senjaya/Nita Wulansari) ***



Petani Nikmati Harga Gabah
25 Maret 2008, 06:40
Filed under: Riset Panen Raya 2008

MUSIM panen padi awal 2008 kini sudah mencapai puncaknya. Kesibukan petani menjemur hasil panen sudah terlihat di berbagai daerah, terutama di sentra-sentra produksi mulai daerah pantai utara Jawa Barat hingga di wilayah selatan.Ada situasi yang sama dengan 2007, ketika panen terjadi secara simultan atau bertahap pada kondisi hujan. Panen raya hanya sebatas sebutan karena hasil panen diperoleh relatif bertahap dan tak terjadi secara melimpah sekaligus.Selain yang dipanen, padi yang baru tanam kembali dan masih hijau pun ada sehingga luas panenan dan tanaman padi yang masih hijau pun relatif berimbang, terutama pada sentra-sentra produksi di pantura dan selatan Jabar.Informasi dari sejumlah petani di Subang, Karawang, Indramayu, Cirebon, Majalengka, Cianjur, Tasikmalaya, dan Ciamis mengungkapkan hasil yang relatif baik dari sisi produktivitas. Selepas kondisi penurunan produktivitas pada awal panen di awal bulan karena kondisi gabah yang hampa, panenan petani pada pertengahan Maret ini banyak yang mampu memperoleh 5,2-5,4 ton gabah kering pungut (GKP)/hektare, dengan gangguan hama tanaman relatif kecil.Secara teori, situasi panen secara bertahap akan mampu menstabilkan harga gabah dan beras sehingga pendapatan dan daya beli terperbaiki seperti 2007. Berbeda dengan saat masih terjadi panen raya sampai 2006, harga gabah anjlok namun petani kerepotan saat paceklik karena harga beras menjadi mahal. Walaupun panen awal tahun biasa terjadi saat masih musim hujan, namun situasi awal 2008 tak separah tahun lalu. Kondisi lahan yang kebanjiran relatif sedikit, bahkan pada daerah-daerah langganan banjir pun tak begitu terasa. Hanya, di Subang terjadi puso di beberapa kecamatan seperti Kecamatan Pusakanagara, Belanakan, Legon Kulon, dan Cikaum.Ada fenomena baru pada awal 2008 ini, pengaruh iklim yang terjadi secara sporadis pada musim panen rendeng. Hujan lebat yang diselingi panas terik membuat kualitas dan harga gabah yang tak seragam terjadi pada masing-masing daerah, di jalur pantura misalnya Subang, Karawang, Indramayu, Majalengka, sedangkan di jalur selatan di Ciamis dan Tasikmalaya.Petani yang beruntung panen pada kondisi cuaca terik mampu memperoleh kualitas GKP yang bagus sehingga harga jual mencapai Rp 2.300,00/kg-Rp 2.500,00/kg. Lain halnya yang panen pada kondisi hujan lebat dan nyaris kebanjiran, harga jual GKP anjlok ke Rp 1.600,00/kg-Rp 1.700,00/kg dari patokan pemerintah Rp 2.000,00/kg.Bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, harga GKP pada musim panen kali ini relatif lebih baik. Dengan demikian sebagian besar petani di Jabar, saat ini sedang menikmati tingginya harga gabah. Kabupaten Subang yang merupakan salah satu lumbung padi di Jawa Barat, diperkirakan hasil panen bulan Maret 2008 akan mencapai 5 hingga 6 ton/ha. Menurut Ir. Itja Misra, Kasubdin PUPH Dinas Pertanian Kabupaten Subang, luas tanam Desember 2007 lebih besar dibandingkan dengan Januari dan Februari 2008 sehingga realisasi panen Maret 2008 diperkirakan meningkat. Di sisi lain, wilayah selatan mengalami penurunan produksi. Berdasarkan data dari Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya dan Dinas Pertanian Kabupaten Ciamis, ada penurunan produksi padi di Kabupaten Tasikmalaya dan Ciamis. Oleh karena itu, luas panen di kedua kabupaten itu pun menurun. Di Karawang, menurut Rusmawi, Kabid Bina Sarana Usaha Padi Dinas Pertanian Kabupaten Karawang, kisaran Harga GKP di daerah ini antara Rp 1. 800,00/kg hingga Rp 2. 100,00/kg. Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang merupakan daerah sentra pertanian. Sektor pertanian menyumbang 13,37 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Indramayu. Sekitar 54,35 % dari luas wilayah Kabupaten Indramayu merupakan tanah sawah. Harga GKP di Kabupaten Indaramayu berkisar antara Rp 2.100,00/kg hingga Rp 2.500,00/kg.**Di jalur pantura Jabar, petani yang beruntung, misalnya petani asal Kec. Patrol Kab. Indramayu, Tarmedi. Dikatakan, karena pasokan air relatif bagus dan panen saat cuaca sedang terik, mampu memperoleh harga jual GKP masih Rp 2.400,00/kg-Rp 2.500,00/kg. “Sekarang petani semakin pandai menyiasati situasi sehingga tak lagi serempak melakukan penanaman. Mereka yang mengusahakan pada lokasi lahan yang aman serta mampu memanfaatkan situasi dan memperoleh nasib baik, banyak yang untung lumayan pada panen awal dan pertengahan Maret ini,” katanya. Begitu pula di jalur selatan Jabar, misalnya petani asal Banjarsari Kab. Ciamis, Ooh Iskandar yang mengatakan bahwa dengan produksi bagus untuk musim panen sekarang, ia memperoleh keuntungan. Untuk lahan satu hektare paling tidak telah mendapatkan keuntungan minimal Rp 5 juta.Begitu juga buruh tani atau yang biasa disebut tukang bawon, di daerah sentra padi menikmati hasil lebih baik. Misalnya Misan, buruh asal Lakbok, dari hasil bawon keluarga ini telah mendapatkan lebih dari 100 kg gabah.Lain halnya yang kurang beruntung, misalnya petani asal Desa Sumbersari Kec. Binong Kab. Subang, Abdul Wasid, yang mengaku malah rugi besar pada panen kali ini karena sawahnya kebanjiran. Selain harga jual GKP-nya hanya Rp 1.700,00/kg, ia harus bertanam sampai tiga kali dengan modal mencapai tujuh kali lipat. Seorang tokoh petani dan pebisnis tani asal Kec. Jatitujuh Kab. Majalengka, H. Rali mengatakan, pada masa panen kali ini indikasi kegairahan petani muncul karena harga hasil panen yang baik rata-rata dihargai di atas HPP. Ini dapat menjadi perangsang bagi petani, terutama untuk memperoleh pendapatan lebih baik dari usaha mereka. Namun di lain pihak, produk-produk yang kurang memenuhi syarat malah terus meluncur ke bawah HPP. Repotnya, banyak gabah petani yang belum segera dapat terjual karena mekanisme pembelian di lapangan kali ini belum secepat harapan. Disebutkan, salah satu gantungan harapan petani untuk menyelamatkan harga gabah adalah kepada Perum Bulog. Kecepatan dan kemampuan Perum Bulog untuk segera membeli gabah petani sangat dinantikan. Hanya, kata dia, masih ada “penyakit lama” Perum Bulog yang cenderung masih terlambat membeli gabah petani. Walau Dirut Perum Bulog sudah memerintahkan pembelian gabah sejak pertengahan Februari, namun sampai kini pembelian gabah petani dirasakan cenderung masih lamban. Menurut dia, banyak petani menantikan Perum Bulog berani mengambil inisiatif segera membeli gabah petani saat indikasi gabah segera menurun harganya. Namun, sejauh ini kecepatan pembelian gabah oleh Perum Bulog belum sesuai harapan, walaupun pada sebagian daerah sudah dilakukan.Menurut dia, dalam kondisi ini ada gambaran sejumlah perusahaan penggilingan saling menghindari risiko merugi membeli gabah dalam kondisi kurang baik. Hanya penggilingan-penggilingan yang memiliki fasilitas pengeringan (dryer) sendiri yang berani membeli lebih banyak gabah petani. “Akibatnya, pembelian gabah oleh banyak penggilingan pun ikut tersendat. Sepanjang masa awal panen, percepatan pembelian gabah paling lamban adalah saat ini, di mana lambannya pembelian oleh penggilingan seharusnya tertutupi oleh cepatnya pembelian oleh Perum Bulog,” kata H. Rali, yang juga menjadi Ketua Litbang Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jabar. Menurut dia, idealnya saat ini Perum Bulog sedang tinggi-tingginya membeli gabah dan beras petani. Tujuannya, memancing berbagai penggilingan untuk menjual beras sehingga efeknya berantai meningkatkan pembelian gabah petani. (Kodar S./Undang S./”PR”/Nita Wulansari/Eric Senjaya) ***




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 1.110 pengikut lainnya.