www.eric-senjaya.co.nr


Bacharuddin Jusuf Habibie – Sang Jenius dari Timur

“Mutiara dari Timur”, begitu penulis Solichin Salam menyebutnya.

Kesuksesan “sang jenius” saat membuat dan mendesain prototype pesawat terbang

N-250 membuat namanya bersinar bak mutiara.

Adalah Prof. Dr. Ing. H. Bacharuddin Jusuf Habibie, tokoh yang akrab disapa Rudy Habibie atau B.J. Habibie ini memang memiliki sejuta prestasi yang gemilang.

Habibie menjabat Asisten dan Research Scientist pada Institut Konstruksi Ringan di Technische Hochscule Aachen (1960-1965), Sarjana Ahli pada MBB – Messerchmitt Bolkow Blohm (1960-1965), Kepala Departemen MBB pada bagian Riset untuk Ilmu Pengetahuan Dasar Kekuatan Rangka dan Konstruksi (1966-1969), Kepala Divisi Metode dan Teknologi Pesawat Komersial dan Pesawat Angkut Militer, MBB (1969-1973), dan Wakil Presiden Direktur Aplikasi Teknologi MBB.

Di samping itu, Habibie menjadi anggota kehormatan dari “Gesellschaft Fuer Luft Und Raumfahrt” (Lembaga Penerbangan dan Angkasa Luar), Jerman Barat; Fellow “Royal Aeronautical Society “, Inggris; Anggota dari “The Royal Swedish Academy of Engineering Sciences”; Anggota dari “Academie Nationale de I’airet de I’Espace”, Perancis. Kemudian, Habibie diangkat sebagai Anggota Kehormatan dari “National Academy of Engineering”, Amerika Serikat.

Prestasi tersebut dia dapat dengan perjalanan panjang. Pada mulanya, ia belajar teknik mesin di Institut Teknologi Bandung selama satu tahun (1954-1955). Kemudian, pada 1955-1965 dia melanjutkan studi teknik penerbangan, spesialisasi konstruksi pesawat terbang di Technische Berechnung, Aachen, Jerman Barat. Dia menerima gelar diplom ingineur pada 1960 (skripsinya berjudul, Berechnung Eines Fluegels). Lima tahun kemudian, pada 27 Juli 1965, ia mempertahankan thesisnya dalam bidang yang sama, konstruksi Pesawat Terbang dan memperoleh gelar doktor ingineur dengan predikat summa cum laude.

Setelah mendapat bekal yang cukup dari luar negeri, Habibie kembali ke Indonesia tahun 1974 dan menempati berbagai jabatan penting, antara lain sebagai Penasehat Direktur Utama Pertamina, Kepala Divisi Advanced Technology dan Teknologi Penerbangan Pertamina sekaligus sebagai Penasihat Pemerintah dalam bidang yang sama. Pada bulan April 1976, Ia diangkat sebagai Direktur Utama PT Industri Pesawat Terbang Nurtanio.

Karirnya semakin menanjak, di tahun 1986, Ia menjabat Menteri Negara Riset dan Teknologi RI, Ketua Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Ketua Otorita Pengembangan Daerah Industri Pulau Batam, Dirut PT Industri Pesawat Terbang “Nusantara”, Dirut PT PAL-Indonesia, Dirut PT Pindad, Anggota MPR-RI, Ketua Institut Aeronotika dan Astronoptika Indonesia, Anggota Dewan Komisaris Pemerintah Pertamina, Ketua Dewan Pembina dan Pengelola Industri-Industri Strategis dan Industri Hankam, Ketua Dewan Pembina Pertahanan Indonesia, Ketua Dewan Riset Nasional, Ketua Dewan Pembina Yayasan Pengembangan Teknologi Indonesia, Ketua Dewan Pembina Persatuan Insinyur Indonesia, serta Anggota Dewan Pembina Golkar.

Puncak kariernya diperoleh pada 21 Mei 1998, dia berhasil menjabat Presiden. Sebelum menjabat Presiden, Habibie adalah Wakil Presiden (Maret 1998 – 21 Mei 1998) dalam Kabinet Pembangunan VII di bawah Presiden Soeharto dan Menteri Negara Riset dan Teknologi sejak tahun 1978 sampai Maret 1998.

Presiden RI ketiga ini dilahirkan di Pare-Pare, Sulawesi Selatan pada 25 Juni 1936. Dia adalah anak keempat dari delapan bersaudara, lahir dari pasangan Alwi Abdul Jalil Habibie dan RA. Tuti Marini Puspowardojo. Habibie menikah dengan Hasri Ainun Habibie pada tanggal 12 Mei 1962, dikaruniai dua orang putra yaitu Ilham Akbar dan Thareq Kemal.

Kertas-Kertas Karyanya terdiri dari 48 papers yang bersifat ilmiah yang diterbitkan dalam majalah internasional, ceramah, maupun rapat internasional. Karya dalam bidang : Thermodynamics, Konstruksi, Instationair Aeroynamics, dan Fracture Mechanics and Construction. Habibie ikut aktif dalam beberapa proyek dengan menghitung dan mendesain pesawat terbang, antara lain: 1. Fokker F-28; 2. VTOL (Vertical take off & Landing) Pesawat Angkut DO-31; 3. Pesawat Pengangkut Militer Transall C-130; 4. Hansa Jet 320 (Pesawat Eksekutif); 5. Airbuss A-300. Disamping itu, secara tidak langsung ikut berpartisipasi dalam menghitung dan mendesain : 1. Helikopter BO-105; 2. Multi Role Combat Aircraft(MRCA); 3. Beberapa proyek missile dan satelit.

Berbagai publikasi telah dia lakukan, diantaranya :

1. Proceedings of the International Symposium on Aeronautical Science and Technology of Indonesia / B. J. Habibie; B. Laschka [Editors]. Indonesian Aeronautical and Astronautical Institute; Deutsche Gesellschaft für Luft- und Raumfahrt 1986

2. Eine Berechnungsmethode zum Voraussagen des Fortschritts von Rissen unter beliebigen Belastungen und Vergleiche mit entsprechenden Versuchsergebnissen, Presentasi pada Simposium DGLR di Baden-Baden,11-13 Oktober 1971

3. Beitrag zur Temperaturbeanspruchung der orthotropen Kragscheibe, Disertasi di RWTH Aachen, 1965

4. Sophisticated technologies : taking root in developing countries, International journal of technology management : IJTM. – Geneva-Aeroport : Inderscience Enterprises Ltd, 1990

5. Einführung in die finite Elementen Methode,Teil 1, Hamburger Flugzeugbau GmbH, 1968

6. Entwicklung eines Verfahrens zur Bestimmung des Rißfortschritts in Schalenstrukturen, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1970

7. Entwicklung eines Berechnungsverfahrens zur Bestimmung der Rißfortschrittsgeschwindigkeit an Schalenstrukturen aus A1-Legierungen und Titanium, Hamburger Flugzeugbau GmbH, Messerschmitt-Bölkow-Blohm GmbH, 1969

8. Detik-detik Yang Menentukan – Jalan Panjang Indonesia Menuju Demokrasi, 2006 (memoir mengenai peristiwa tahun 1998)

Disamping itu, ada pula publikasi tentang B.J. Habibie, diantaranya :

1. Hosen, Nadirsyah, Indonesian political laws in Habibie Era : Between political struggle and law reform, ,Nordic journal of international law, ISSN 0029-151X, Bd. 72 (2003), 4, hal. 483-518

2. Rice, Robert Charles, Indonesian approaches to technology policy during the Soeharto era : Habibie, Sumitro and others, Indonesian economic development (1990), hal. 53-66

(Eric Senjaya – Pusat Data Redaksi /Dari berbagai Sumber)


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Saya angkat jempol untuk orang yang satu ini. kapan lagi ada orang yang seperti dia? kapan lagi ada habibie habibie lain. yang ada sekarang ini hanya orang orang yang pandai,pintar dan jenius untuk korup. kini negri ini dipenuhi orang jenius untuk korup, bukan jenius untuk kemjuan ilmu dan pengetahuan.

Komentar oleh ahim

mungkinkah masih ada orang seperti dia di indonesia tercinta ini

Komentar oleh eric




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>