www.eric-senjaya.co.nr


H. M. Soeharto – Kalau Ajal Menjemput…

”Kalau tiba saatnya saya dipanggil oleh Yang Mahakuasa, maka mengenai diri saya selanjutnya sudah saya tetapkan: saya serahkan kepada istri saya.”

Soeharto menyatakan itu dalam autobiografinya, Soeharto: Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya (1989). Namun, ternyata Siti Hartinah (istri) meninggal dunia lebih dulu. Ibu Negara yang akrab dipanggil dengan nama Ibu Tien itu meninggal dunia pada 28 April 1996 akibat sakit jantung. Sepeninggal Ibu Tien, bintang ”Sang Jendral Besar” pun meredup. Kariernya sebagai presiden selama 30 tahun mulai terguncang, khususnya setelah terjadi krisis moneter pada Agustus 1997. Krisis tersebut berkembang menjadi krisis ekonomi pada 1998, yang berbuntut pada lengsernya Soeharto dari kursi kepresidenan pada Mei 1998.

Sekilas tak ada yang berbeda dengan Soeharto saat menjadi presiden maupun setelah dia lengser. Bahkan, saat mulai sakit-sakitan pun senyum khasnya tak pernah lepas. Wajarlah bila penulis O.G. Roeder menyebutnya sebagai ”The Smiling General” dalam bukunya The Smiling General .

Selain ”The Smiling General”, masih banyak sebutan lain untuk Pak Harto ini. Ada yang memuji, tak sedikit pula yang mencacinya.

Presiden Soekarno menyebutnya opsir koppig (opsir keras kepala). Ada yang menyebutnya sebagai pemimpin besar, ada pula yang menyebut hanya karena keberuntunganlah Soeharto bisa memimpin negeri ini. Sejarah dunia mencatat namanya sebagai salah seorang pemimpin yang terlama memimpin sebuah negara (32 tahun). Selain itu, ”The Asian Wall Street Journal” pada terbitannya tahun 1999 mengukuhkannya sebagai presiden terkaya di dunia dengan 1.247 perusahaan keluarga.

Dalam Soeharto. Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, ia mengakui bahwa dia bukanlah anak yang punya pertanda seorang calon pemimpin ketika dilahirkan. Ia hanyalah anak desa yang dilahirkan dari keluarga petani miskin yang tidak dipersiapkan orang tuanya untuk menjadi pemimpin bangsa.

Presiden Kedua Indonesia ini lahir di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, 8 Juni 1921 dari pasangan Kertosudiro (ayah) dan Sukirah (ibu). Pada masa kecilnya, Soeharto hidup prihatin, terutama setelah orang tuanya bercerai. Ia harus berpindah sekolah karena ayah tirinya berpindah rumah ke Kemusuk Kidul. Melihat hal itu, sang ayah kandung, Kertosudiro mengambil Soeharto dan menitipkan Soeharto kepada Prawirohardjo, suami bibinya (adik Kertosudiro).

Soeharto kemudian pindah ke Selogiri, 6 km dari Wonogiri, untuk melanjutkan sekolah lanjutan rendah (schakel school). Namun, Soeharto terpaksa meninggalkan sekolahnya di Wonogiri itu karena peraturan sekolah yang mengharuskan murid memakai celana pendek dan bersepatu. Padahal, Soeharto tak memiliki celana pendek dan sepatu.

Keprihatinan itu justru menempa watak Soeharto, khususnya melalui didikan Prawirohardjo. Soeharto dilatih untuk berpuasa Senin-Kamis dan tidur di tritisan (di bawah ujung atap di luar rumah). Berbagai filsafat Jawa pun menjadi santapan rohaninya. Pada masa itulah Soeharto mengenal tiga ”aja”, yaitu ”aja kagetan, aja gumunan, aja dumeh” yang berarti ”jangan kagetan, jangan heran, jangan mentang-mentang”.

Berkat didikan itu, Soeharto tumbuh menjadi orang yang tekun dan mulai menapaki kariernya di kemiliteran. Sebelumnya, dia pernah bekerja sebagai klerk di bank desa. Karier Soeharto di kemiliteran ternyata cukup cemerlang. Pada usia 26 tahun, Soeharto telah mencapai pangkat letnan kolonel. Pada saat itulah, dia dikunjungi keluarga Prawirowihardjo di rumahnya. Kunjungan keluarga Prawirowihardjo tak lain untuk mengenalkan Soeharto pada putri Wedana Wuryantoro, Siti Hartinah (24). Tidak lama setelah perkenalan, Soeharto menikah dengan Siti Hartinah pada 26 Desember 1947 di Solo. Pasangan itu dikarunia tiga putra dan tiga putri, yaitu Siti Hardijanti Hastuti (Tutut), Sigit Harjojudanto (Sigit), Bambang Trihatmodjo (Bambang), Siti Hediati Harjadi (Titiek), Hutomo Mandala Putra (Tommy), dan Siti Hutami Endang Adiningsih (Mamiek).

Soeharto dikenal luas dalam militer dengan serangan tiba-tibanya yang menguasai Yogyakarta pada 1 Maret 1949, hanya dalam satu hari. Namun, gerakan ini cenderung ditafsirkan sebagai simbol perjuangan rakyat Indonesia terhadap pasukan Belanda.

Jenderal Soeharto menjalankan fungsi kepresidenan sebagai pemimpin kepemerintahan setelah pertanggungjawaban Presiden Soekarno (NAWAKSARA) ditolak MPRS pada tahun 1967. Penunjukan Soeharto tersebut dilakukan melalui Supersemar (Surat Perintah Sebelas Maret) pada t 12 Maret 1967 yang belakangan dinilai kontroversial. Setahun kemudian, Soeharto dilantik sebagai presiden pada tanggal 27 Maret 1968 oleh MPRS. Soeharto dipilih kembali oleh suara MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998.

Selama menjabat sebagai presiden, Soeharto aktif dalam beberapa Yayasan Sosial, antara lain Yayasan Harapan Kita, Dharmais, Trikora, Supersemar, Dana Gotong Royong Kemanusiaan, Amal Bhakti Muslim Pancasila, Dakab, Dana Sejahtera Mandiri. Pada kedelapan Yayasan tersebut, dia menjabat sebagai ketua yayasan. Sementara itu, di Yayasan Purna Bhakti Pertiwi, Soeharto sebagai pelindung.

Pada tahun 1998, masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei, menyusul terjadinya Kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR RI oleh ribuan mahasiswa. Di akhir autobiografinya, Soeharto berwasiat, ”Kalau ajal menjemput, agar mereka yang sesudah kita benar-benar dapat menjamin kelangsungan hidup bangsa dan Negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila ini.”

(Eric Senjaya, Pusat Data Redaksi/Dari berbagai sumber)


2 Komentar sejauh ini
Tinggalkan Komentar

apabila ajal menjemput tiada lagi gunanya harta dan kekuasaan.Semua sirna begitu saja bak sinar matahari ilang ditutupi awan yang gelap…semoga kita semua selalu mengingat yg allah,bahwa apabila dia mau kita hari ini meninggal,tidak akan ada tawar menawar dgn uang….

Komentar oleh danish

Terimakasih komentarnya, mas danish. Mudah2an kita bisa mengambil hikmah dari perjalanan H.M. Soeharto. Semoga Allah mengampuni semua kesalahan kita sebelum ajal menjemput

Komentar oleh 574nk




Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.