www.eric-senjaya.co.nr


Potret Pecinan di Bandung
Maret 11, 2008, 4:58 am
Diarsipkan di bawah: Riset Imlek 2008

Potret Pecinan Bandung tempo doeloe. Sumber:http://blogs.unpad.ac.id/tantiskober/

Ekspedisi Cheng Hoo ke Gang Goan An

Dayeuh Bandung rame-rame teuing

Beuki loba bangsa bae

Arab Jawa Melayu

Sumawonten Cina mah leuwih

Raos putra sapuluh tikel bihari

Sagala jenis aya

(Rd. H. Muh Sueb,”Surat ka Kotaraja”, 8 Oktober 1907

dalam buku Wajah Bandoeng Tempo Doeloe)

Kalimat di atas berarti: Kota Bandung ramai sekali. Semakin banyak bangsa-bangsa. Arab, Jawa, Melayu. Begitu pun bangsa Tionghoa lebih banyak. Menurut taksiran ananda sepuluh kali lipat dari semula. Semua bangsa ada.

Petikan surat dari seorang Kalipah di Bandung, Rd. H. Muh Sueb kepada Hoofd Penghulu, Haji Hasan Mustopa adalah salah satu bukti saat itu sudah banyak warga Tionghoa yang tinggal di Bandung. Menurut catatan sejarah, bangsa Tionghoa pertama kali datang ke Indonesia melalui ekspedisi Laksamana Haji Muhammad Cheng Hoo (1405-1433). Ketika itu, Cheng Hoo berkeliling dunia untuk membuka jalur sutra dan keramik. Cheng Hoo pun pernah menginjakkan kaki di pulau Jawa. Sejak ekspedisi itu, berangsur-angsur bangsa Tionghoa berdatangan dan membangun pecinan di beberapa daerah di pulau Jawa.

Kuncen Bandung, Haryoto Kunto dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (Granesia, 1984), menuturkan bahwa sebagian warga Tionghoa di Pulau Jawa pindah ke Bandung ketika terjadi perang Dipenogoro (1825). Setiba di Bandung, sebagian besar tinggal di kampung Suniaraja dan Jln. Pecinan lama. Mereka menetap dan mencari nafkah di sana.

Tahun 1885 mereka mulai menyebar ke Jln. Kelenteng. Pecinan di Jln. Kelenteng ditandai dengan pembangunan Vihara Satya Budhi. Menurut keterangan pengurus Vihara Satya Budhi, yang ditemui, Jumat (1/2), pecinan di Bandung seperti toko pada umumnya, tak ada asesoris khusus seperti pecinan di daerah lain di Indonesia. Warganya pun beragam, tak hanya keturunan Tionghoa.

Pecinan berkembang pesat di sekitar Pasar Baru sejak 1905. Umumnya warga Tionghoa menjadi pedagang. Salah satunya, Tan Sioe How yang mendirikan kios jamu “Babah Kuya” di Jln. Belakang Pasar, tahun 1910. Bisa dikatakan, toko Babah Kuya merupakan salah satu perintis toko di kawasan itu. Selain Babah Kuya, warga Tionghoa lain pun banyak yang mendirikan kios di wilayah ini.

Budayawan Tionghoa, Drs. Soeria Disastra, yang ditemui di kediamannya, mengatakan bahwa pecinan memang ada, tapi tidak ada batasan. Maksudnya, hubungan warga Tionghoa dan pribumi sekitar abad ke-19 dekat sekali. Akan tetapi, Belanda tidak senang melihat kedekatan itu. Belanda pun memisahkan Tionghoa dan pribumi dari segi ekonomi. Warga Tionghoa dijadikan perantara perekonomian bangsa Eropa dan pribumi. Menjual rempah-rempah dari pribumi ke Belanda untuk di ekspor. Lama-kelamaan kedekatan itu pun memudar.

Menurut Sie Tjoe Liong (75), generasi keempat pemilik kios “Babah Kuya”, kawasan pecinan di Bandung terbentuk karena faktor politik. Warga Pecinan tidak diizinkan berbaur dengan pribumi karena kebijakan pemerintah Hindia Belanda yang memisahkan pemukiman orang asing dengan pribumi. Kebijakan itu tidak hanya untuk warga Tionghoa tetapi juga untuk Arab dan Eropa.

Selain di Pasar Baru, kawasan pecinan juga tumbuh di Suniaraja dan Citepus tahun 1914. Setiap pecinan dipimpin oleh Wijkmeester. Wijkmeester untuk daerah Suniaraja adalah Thung Pek Koey, sedangkan untuk daerah Citepus Tan Nyim Coy. Wijkmeester dipimpin oleh seorang Luitennant der Chineeschen. Di Bandung, Luitennant-nya adalah Tan Djoen Liong (H.Buning,”Maleische Almanak”,1914).

Para pemimpin Tionghoa itu diabadikan di beberapa tempat. Misalnya di sekitar jalan Chinees-Wijk Citepus, ada pula gang Goan Ann di Andir dan Jap Lun.

***

Sie Tjoe Liong menjelaskan, ketika peristiwa Bandung Lautan Api (1946), kios-kios di Pasar Baru dibakar tentara Belanda. Wilayah Bandung terpisah menjadi bagian utara dan selatan. Kedua wilayah dibatasi rel kereta api yang membujur dari Cimahi hingga Kiara Condong. Wilayah utara dikuasai Belanda, sedangkan selatan oleh pribumi dan warga asing.

Akibat peristiwa itu, warga Tionghoa mengungsi ke kawasan Tegalega, Kosambi, Sudirman, dan Cimindi. Dengan demikian, dari Pasar Baru, kawasan pecinan meluas ke daerah-daerah tersebut. Warga Tionghoa dan pribumi pun bersatu kembali.

Belanda menyebut kawasan ini Groote Post Weg. Pada masa pemerintahan Orde Lama (1945-1968), pemerintah membatasi bidang ekonomi dan politik. Akan tetapi, menurut Soeria Disastra, dari segi kebudayaan pemerintah membuka pintu lebar-lebar. Lain lagi dengan pemerintahan orde baru (1968-1998), warga Tionghoa mengalami pembatasan di segala bidang, kecuali ekonomi. Lagi-lagi, jurang pemisah itu pun muncul lagi.

Akan tetapi, di zaman reformasi (1998-2008), kehidupan sudah lebih baik. Kebebasan yang diberikan mencakup hampir di segala bidang. “Pengakuan Imlek sebagai libur nasional adalah hal yang sangat berarti bagi kami, ” kata Soeria.

Saat ini, daerah Pecinan di Bandung semakin luas meliputi Jln. Pasar Baru, Jln. ABC, Jln. Banceuy, Jln. Gardu Jati, Jln. Cibadak dan Jln. Pecinan. Namun, Sie Tjoe Liong berpesan agar warga pribumi dan Tionghoa tetap akur.

“Sekarang mah ga ada pecinan teh. Sudah berbaur. Interaksi antara warga Tionghoa dan pribumi telah berlangsung lama. Kita adalah bangsa Indonesia,” kata dia.

Semoga imlek tahun tikus tanah ini dijadikan momentum untuk mempererat persaudaraan dan memperkaya kebudayaan. Bagi yang merayakan, semoga harapan di tahun baru ini tercapai. Gong Xi Fa Cai … (Eric Senjaya dan Hanif Hafsari Chaeza/Pusat Data Redaksi)


& Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

abdi janten terang,kang eric. Tiasa nyuhunkeun data lengkapna kang?

Komentar oleh ully

mangga,ngkin ku abdi di e-mail. Atanapi bade ka sukarno-hatta oge teu sawios.

Komentar oleh 574nk




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>