www.eric-senjaya.co.nr


Dari Pimnas XX – Ada “Elevator” Tenaga Air
Maret 25, 2008, 7:26 am
Filed under: Penghargaan

PEKAN Ilmiah Mahasiswa Nasional (Pimnas) XX, belum lama lewat. Akan tetapi, karya-karya dari 175 kampus dengan 1.500 partisipan di Universitas Lampung (Unila), Provinsi Lampung, Juli lalu, tentunya sayang kalau dilewatkan begitu saja.
Imbauan untuk mendukung pengembangan karya-karya ilmiah mahasiswa yang menarik dari ajang ini, pantas dilayangkan ke berbagai pihak. Banyak hal bisa dilakukan, mulai dari turut memfasilitasi mematenkan, memassalkan, dan juga hal mendasar yaitu, menumbuhkan kecintaan riset di kampus. Mengarusutamakan iptek, memang merupakan salah satu jawaban agar Indonesia bisa bersaing di dunia internasional.
Para pemenang dari 5 cabang Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) — masing-masing cabang dibagi lagi menjadi beberapa kelas — sudah diumumkan. Universitas Gadjah Mada (UGM) keluar sebagai juara umum, dengan perolehan 6 emas dan 4 perak. Disusul Institut Pertanian Bogor (IPB) yang meraih juara II dengan 4 emas, 7 perak, dan 3 perunggu, dan peringkat III, yaitu Universitas Brawijaya, dengan 2 emas, 4 perak, dan 1 perunggu. Berbeda dengan sebelumnya, kini tidak ada juara nasional untuk setiap cabang PKM, melainkan juara kelas saja. Berikut ini, sedikit cerita dari beberapa peserta yang dihimpun Kampus.

Qronis, belajar Iqro lewat animasi
Ini akan berguna untuk masyarakat Muslim, khususnya anak-anak, yang ingin belajar membaca Alquran. Sekelompok mahasiswa yang terdiri dari Ali Murtado Fauzarrohman, Dwi Tuti Supantari, Hadary Mallafi, Muhammad Amrul Ummami, dan Tamami Efendi, bukan sekadar prihatin pada minat anak-anak belajar membaca Alquran yang kurang, tapi turut memberi solusi. Mereka yang menamakan dirinya tim Tahta (Tari, Ali, Hadary, Tamami, dan Amrul) itu membuat metode belajar Alquran lewat animasi! Karya ini menyumbang perunggu dari kategori Program Kreativitas Mahasiswa Teknologi (PKMT) Pimnas XX kepada kampusnya, STT Telkom.
Penasaran pada ajang Pimnas, tertarik aplikasi komputerisasi, dan ingin tahu soal minat membaca Alquran, akhirnya membulatkan tekad mereka turut mendaftarkan proposal. Ternyata, proposal ini termasuk proposal yang lolos didanai Dirjen Dikti sekitar Rp 5 juta. Berdasarkan penelitian dengan pembagian kuesioner yang mereka lakukan, ada anggapan bahwa metode pembelajaran Alquran cenderung kurang menarik, khususnya untuk anak-anak.
Makanya, mereka pun mencoba bikin metode pembelajaran baru yaitu, metode pembelajaran Alquran dengan Qronis (Iqro Animasi). “Tujuan utamanya bukan supaya anak-anak itu langsung cerdas, namun supaya anak-anak tertarik aja dulu,” ucap Hadary, salah seorang anggota Tahta, dalam obrolan dengan Kampus, Sabtu (4/8).
Metode pembelajaran Qronis mengadopsi sistem populer Iqro, yang dipadatkan menjadi 3 level, yaitu, pengenalan huruf hijaiyah, belajar tanda baca, dan menyambungkan huruf. Kini, Qronis tersedia dalam bentuk CD interaktif dan website (http://www.qronis.web.id). Website ini sudah disajikan dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris. Tutorial yang ada di sana terbilang menarik, dengan suara dan gambar yang dinamis.
Berbicara tentang karya penelitian mahasiswa, Ali berpendapat, sering yang sudah dibuat, lalu menganggur saja. Oleh karenanya, ia tak mau alatnya bernasib seperti itu. Maka, demi benar-benar bisa diterapkan di masyarakat, ia berniat tidak mengomersialkan produk ini. “Kita rencananya akan bikinin hak ciptanya, supaya tidak dikomersialkan oleh pihak lain, lalu kita open ke masyarakat, supaya bisa mempelajari ini secara gratis. Silakan download secara gratis di website kami,” ujar mahasiswa angkatan 2005 ini, yang berharap bantuan dana untuk pengembangan Qronis lebih lanjut, bahkan kalau perlu dipublikasikan sampai ke luar negeri.

 Alat pengukur film tipis
Masih awam dengan film tipis? Mungkin kawan Kampus tidak akan bingung kalau film tipis dikaitkan dengan barang-barang keseharian, seperti keping CD, DVD, microprocessor, handphone, dsb. Berbagai perkakas elektronika semacam itu biasanya memiliki film tipis, yang kurang lebih berfungsi menyimpan data.
Sudah sejak beberapa lama, sekelompok dosen di Fisika Unpad berupaya fabrikasi film tipis. Bukan apa-apa. Mereka ingin turut serta menjajal prospek dalam bidang elektronika telekomunikasi yang kini terbilang cerah. Masalahnya, alat untuk mengukur tebalnya film tipis tersebut tidak dimiliki laboratorium. Sementara, pengadaan alat itu biasanya perlu mengimpor produk Jepang yang sangat mahal, sekitar Rp 200 juta.
Sekaligus memanfaatkan momen Pimnas, maka para mahasiswa pun “diutus” untuk melakukan penelitian pembuatan alat pengukur tebal film tipis. “Tujuannya sih sebagai alat alternatif dari yang sudah ada,” ucap Yun Romadho, salah seorang anggota tim Pimnas Unpad, yang mengajukan proposal “Kajian Awal Desain Sistem Pengukur Tebal Profil Lapisan Tipis Metode Elektromekanis Berbasis Komputer Sebagai Alternatif Pengukur Tebal Film Tipis”, ketika ditemui Kampus, Selasa (7/8).
Selain Yun, karya yang menyumbang emas dari kategori Program Kreativitas Mahasiswa Penelitian (PKMP) Pimnas XX kepada kampus Unpad, itu juga dikerjakan oleh Eric Senjaya, Anita Anggraeni, Gema Parasti, dan Rangga Karsana, semuanya dari Jurusan Fisika FMIPA Unpad.
Linier Variable Deference Transformer (LVDT) adalah salah satu transducer yang digunakan untuk pengukuran tebal profil film tipis menggunakan metode stylus-elektromekanis ini. Kalau data sudah terdeteksi, akan langsung dikonversikan ke komputer.
“Alat ini gunanya untuk mengukur tebal dan tipis film sesuai keinginan. Yang jelas, semakin tipis filmnya, semakin banyak bisa menyimpan data. Yang paling sulit, proses pengubahan data analog jadi digital. Sekarang kita sudah bikin rancang-bangun, dia bisa mengukur, mengubah data dari analog ke digital. Siapa yang mau, bisa pesan ke kita,” kata Gema, seraya berharap kampusnya mau membantu memfasilitasi soal hak cipta dan pengembangan lebih lanjut.

Bawal bawa hoki
Berbeda dengan kategori lain, dalam Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKMK) tidak perlu ada penelitian atau temuan. Yang penting adalah tercipta keterampilan berwirausaha dan berorientasi pada profit. Betty Rahmawati, mahasiswa Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan (FPIK) IPB 2004, berhasil menunjukkan skill-nya dalam hal entrepreneurship, dan turut memberi emas pada perolehan medali Pimnas XX untuk IPB lewat proposal, “Menangkap Peluang Usaha Pemasaran Larva Ikan Bawal Air”, yang dikerjakan bersama Hendar Arief Alfian.
Keakraban Betty pada bawal, bermula dari kebutuhan uang untuk biaya kuliahnya. Dua tahun lalu, ia bertemu dengan seseorang yang memerlukan larva ikan bawal sampai ratusan ribu. “Saya iya-kan aja bilang bisa menyediakan, padahal nggak tahu apa-apa,” kata Betty, yang sudah mencoba memenuhi kebutuhan sendiri dengan berjualan sejak SD, sambil tertawa.
Beruntung, ia bertemu dengan kakak kelasnya, yang memiliki farm besar di Bogor. Sebab, butuh modal besar untuk memenuhi permintaan tak terduga itu, ia pun mengajak Hendra. Keputusan mereka melakukan penangguhan bayar SPP, ternyata tidak sia-sia, karena penjualan itu sukses. Selanjutnya, usaha Betty adalah memenuhi permintaan larva ikan bawal para petani ikan. Kini, ia memenuhi pesanan dari Tasikmalaya, Subang, Cianjur, Sukabumi, dsb. “Modal larvanya Rp 12/ekor, saya jual Rp 14/ekor,” katanya.
Kelompok betty bisa menang, boleh jadi karena ia sudah berpengalaman dan laporan kemajuannya juga bagus. Sepanjang proses pendanaan Dikti sejak Februari sampai Juni lalu, ia membukukan keuntungan sampai Rp 9.680.000,00. Untung yang diperoleh Betty terbilang lumayan, meski tergantung ketersediaan larva. Soal kendala, ia juga mengalami berbagai hal mulai dari ditipu sampai para petani yang tidak sanggup membayar tunai produknya. “Wirausahawan harus tahan banting dan jeli mencium peluang,” ujar Betty memberi resepnya dan mengatakan senang bisa turut membuka lahan kerja bagi orang lain.
Elevator tenaga air hemat energi
Suatu ketika, Ahmad Radikal, mahasiswa ITS 2005, mendengar keinginan orang tuanya untuk membangun rumah berlantai dua. Melihat seantero rumahnya yang terbilang sederhana, ia berpikir satu tangga tidak efisien karena memakan banyak ruang. Akan tetapi, tiba-tiba, eureka!, terlintas di pikirannya untuk menghadirkan bangunan modern di rumahnya, berupa lift. Berkat kesegaran idenya, karya “Hidropower Elevator: Media Transportasi Naik Turun dengan Tenaga Air”, yang dikerjakan Ahmad bersama Aulia Fajar, Naufal Budiman, dan Putra Miftahudin itu berhasil meraih emas PKMT Pimnas XX.
Lift/elevator itu memakai konsep hydropower (tenaga air). Kerjanya boleh dibilang tak beda dengan elevator yang biasa digunakan orang. Bedanya, energi yang digunakan adalah air dan juga efisien energi. “Kalau yang konvensional, power-nya bisa sampai 5.000 watt, kalau yang ini hanya 300 watt. Ini termasuk mempertimbangkan master plan pemerintah yaitu konservasi energi,” ujar Ahmad.
Kerja elevator bergantung air dan pemberat apung. Bila elevator dioperasikan ke atas, maka air akan turun. Pemberatnya turun menyesuaikan volume air dan sebaliknya. “Pokoknya mengambil sifat air yang bisa mengapungkan benda,” kata Ahmad.
Tim ini merancang elevator tersebut untuk dapat digunakan di rumah susun, ruko komersial, dan siapa pun yang membutuhkan. “Senang banget tanggapan atas alat ini luar biasa. Sekarang alat ini akan proses paten. Di luar soal itu, saya ingin memberi saran pada kampus agar mengoptimalkan sentra HaKI, serta membantu mengembangkan karya mahasiswa,” katanya. ***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Sumber:www.pikiran-rakyat.co.id


2 Komentar sejauh ini
Tinggalkan Komentar

Jakarta, 12 Juli, 2004

Manusia Sebenarnya Sedang Tidur
Oleh Marissa Haque Fawzi

Untuk Majalah Noor edisi September 2004.
Dalam sebuah perenungan panjang, tatkala kutatap lalu lalang manusia yang menyemut dalam sebuah perjalanan panjang Bintaro ke Jakarta Pusat, terbayang wajah-wajah banyak manusia melangkah dengan mata terpejam. Ah, mereka sedang tidur!
Annemarie Schimmel, seorang wanita keras hati namun halus budi yang dititipi Allah kecerdasan diatas rata-rata dengan kemampuan verbal yang sangat lancar, adalah salah seorang role model ku didunia Sufisme/Tasawuf. Dalam salah satu buku tulisannya yang berjudul Jiwaku adalah Wanita, didalam paragraf pembukanya diceritakan sebuah kisah tentang seorang guru India yang sedang berkunjung ke Damaskus, Syria. Buku yang diceritakan tersebut adalah sebuah buku tua terbitan 1872 dengan judul Padmanaba dan Hasan. Disana sang guru India tersebut memperkenalkan awal langkah misteri kehidupan spiritual kepada seorang anak laki_laki yang bernama Hasan yang membawanya kesebuah ruang bawah tanah. Ada sebuah keranda yang berdampingan dengan bekas singgasana Raja teronggok, dikelilingi sekumpulan harta benda ratna mutu manikam yang tak ternilai. Pada keranda tersebut terpatri kata-kata “…sebenarnya manusia itu semua sedang tidur, ketika mereka meninggal dunia, pada saat itulah mereka sebenarnya terbangun.” Schimmel kemudian baru menyadari belakangan bahwa ternyata sepenggal kata-kata yang terpatri tersebut adalah hadis Rasulullah Muhammad yang amat disukai dikalangan para Sufi dan penyair dunia Islam.
Didalam konteks posisiku sebagai anggota DPR terpilih periode 2004-2009 melalui partai Politik PDI Perjuangan, aku merasakan sepotong tulisan yang saya kutip diatas dari buku Annemarie Schimmel, adalah sebuah metafora pula dari penggalan lain langkah kehidupanku dalam kaitan dengan dunia politik. Betapa kehidupan singkat manusia ini hanyalah sepenggal mimpi pendek bunga tidur yang akan menetukan sebuah kehidupan abadi lainnya setelah alam dunia ini. Betapa sesungguhnya mimpi pendek ini sangat silau dengan tipu daya yang menjerumuskan. Alangkah kita nantinya akan menyesali ayunan langkah kehidupan yang telah kita lakukan, saat kita menyadari bahwa dikala mati kelak tidak satupun harta dunia akan terbawa.
Menjadi seorang anggota DPR, merupakan amanah sekaligus ujian dan jebakan yang nyata, yang akan menguji apakah dipenghujung langkah hidupku kelak aku layak menjadi kekasih Allah dan sahabat Rasulullah. Dimana kebutuhan transendental merupakan intrinsik atau innate property yang membuat setiap manusia itu cinta Illahi—apapun agama yang dipeluknya—dan ingin bersatu dengan Nya dikehidupan abadi kelak. Saat itu adalah saat dimana manusia sudah benar-benar bangun dari tidurnya. Namun sekarang masalahnya. Apakah manusia mengetahui bahwa sebenarnya mereka itu sedang tidur pada saat mereka sedang melakukan aktifitas kesehariannya? Wallahualam bisawab. Semoga Allah SWT membimbing pada jalan keselamatan didunia dan di akhirat, dan mengumpulkan kita semua kelak didalam tempat yang sejuk serta penuh dengan cahaya cinta kasih abadi.

Komentar oleh Ainun Ridho

Mas Ainun, ini comment bwat yg profil mba icha yah?? OK dech qpp,, ;)

Komentar oleh 574nk




Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s



Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.