www.eric-senjaya.co.nr


Asep Kurnia
April 28, 2008, 4:06 am
Diarsipkan di bawah: profil tokoh | Tag: , , , , , , , ,

Pertama dan Termuda

“Yang Muda Yang Tidak Dipercaya.” Sekilas, tagline iklan salah satu merek rokok ini biasa saja. Namun, ungkapan tersebut secara telak menohok realitas di masyarakat kita, betapa kalangan muda masih kesulitan mendapat tempat dan kepercayaan menduduki posisi strategis di berbagai bidang kehidupan.

Meski demikian, ungkapan tersebut tak berlaku bagi Asep Kurnia. Meski usianya kini genap 28 tahun, tanggung jawab yang ia emban lebih besar ketimbang kebanyakan orang di usia itu. Pria yang akrab disapa Kang Asep ini menjabat Ketua KPU Kabupaten Sumedang sejak 2007. Sebagai catatan, saat ini Asep adalah ketua KPU termuda di Jabar.

Tak hanya itu, Asep merupakan ketua KPU pertama di Jabar yang daerahnya menyelenggarakan pilkada gabungan. Yaitu, pilkada secara bersamaan antara Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jabar dan Pemilihan Bupati (Pilbup) Sumedang tahun 2008.

Menurut Asep, saat ini ia tengah menyiapkan proses penyelesaian Pilbup Sumedang. Proses penyelesaian itu di antaranya penyampaian hasil perolehan suara ke DPRD, pertanggungjawaban anggaran, dan pembubaran panitia di tingkat PPK dan PPS.

Ayah dari Vicky Rizkiyansyah Kurnia ini memang tipe pekerja keras. Berbagai kesibukan yang ia hadapi tak membuatnya mengeluh. Di tengah kesibukan Asep menuntaskan tahapan Pilkada Bupati Sumedang pun, kesibukan Asep bertambah lagi dengan adanya Pemilihan Legislatif (Pileg) 2009.

“Untuk pileg, saat ini kami sudah menerima Data Penduduk dan Potensi Pemilih Pilkada (DP4), prapersiapan pendataan, serta verifikasi aktual para peserta Pileg 2009,” ujar Asep.

Jadwal yang berdekatan antara pilkada gabungan dan pileg harus dihadapi oleh alumnus Fakultas Hukum Universitas Pasundan ini. Salah satu kendala yang Asep rasakan ketika pilkada gabungan adalah kesimpangsiuran aturan main. “Wajarlah, itu kan pilkada gabungan pertama. Kalau pelaksanaan Pileg 2009 sudah jelas aturannya,” kata Asep.

Di akhir perbincangan, Asep berpesan, agar masyarakat Sumedang tetap kondusif. Di samping itu, masyarakat pun dapat berperan aktif merespons program KPU dalam pileg nanti. (Eric Senjaya)***



Sandra Dewi

Meski pendatang baru, Wanita yang suka makan ular dan monyet ini meresap di benak masyarakat lewat aktingnya di QUICKIE EXPRESS bersama dengan Tora Sudiro dan Aming serta sinetron kejar tayang CINTA INDAH.

Dialah Sandra Dewi. Pemilik nama lengkap Monica Nicholle Sandra Dewi Gunawan Basri ini dikenal sebagai bintang model dan juga bintang akting Indonesia. Lahir di Pangkal Pinang, Kepulauan Bangka Belitung, 18 Agustus 1983, sulung tiga bersaudara ini hijrah ke Jakarta pada tahun 2001 untuk melanjutkan kuliah di London School Of Public Relations.

Putri pasangan Andreas Gunawan Basri dan Chatarina Erliani ini mengawali kariernya melalui pemilihan Miss Enchanteur 2002 dan duta pariwisata Jakarta Barat. Namun kemudian Ia memutuskan untuk konsentrasi kuliah.

Gadis berdarah Palembang, Tionghoa, Sunda, dan Belanda ini mulai memutuskan total di dunia hiburan sejak menjadi juara dua Fun Fearless Female Majalah Cosmopolitan 2006. Di mana salah satu dari jurinya sutradara BERBAGI SUAMI, Nia Dinata.

Nia pula yang kemudian menawari Sandra untuk mengikuti casting dan kemudian mendapat peran sebagai Lila di QUICKIE EXPRESS. Lewat film QUICKIE EXPRESS, Sandra terpilih sebagai bintang Bendatang Baru Terfavorit versi Indonesian Movie Award (IMA) 2008. (Eric 574nk/Sumber:KPL)

—————–

Sandra Dewi Gallery




Dian Sastro
April 19, 2008, 7:06 am
Diarsipkan di bawah: Geulis

Nama Dian Sastrowardoyo dikenal sebagai aktris berbakat yang mengawali popularitas lewat perannya dalam film ADA APA DENGAN CINTA (2002). Perannya sebagai Cinta dalam film arahan Rudi Sudjarwo tersebut, juga mengantarkan dirinya sebagai pemenang Festival Film Indonesia (FFI) untuk kategori aktris terbaik.

Pemilik nama lengkap Diandra Paramitha Sastrowardoyo ini mengawali karier di dunia entertainment pada 1996 lewat ajang Gadis Sampul dan pertama kali membintangi film BINTANG JATUH (2000) yang juga karya sutradara Rudi Sudjarwo. Di film tersebut putri pasangan Alm. Iwan Sastrowardoyo dan Dewi Parwati Setyorini ini bermain bersama Marcella Zalianty, Garry Iskak dan Indra Birowo.

Film berikutnya berjudul PASIR BERBISIK (2001), dalam film ini Dian beradu akting dengan bintang senior Christine Hakim, Slamet Rahardjo dan Didi Petet.

Lewat film tersebut Dian akhirnya mendapat anugerah sebagai pemeran wanita terbaik pada Festival Film Internasional Singapura (2002) dan Festival Film Asia di Deauville, Perancis (2002).

Bintang yang masih tercatat sebagai mahasiswi Fakultas Filsafat Universitas Indonesia angkatan 2001 dan tengah menggarap skripsi ini pernah menjalin hubungan asmara dengan Abi Yapto, anak pengusaha ternama, Yapto S Soerjosoemarno, dan berakhir sekitar Agustus 2006. Baik Dian dan Abi enggan berkomentar lebih jauh dengan penyebab putusnya hubungan mereka.(KPL)



Angelina Jolie
April 19, 2008, 6:57 am
Diarsipkan di bawah: Geulis

Angelina Jolie lahir di Los Angeles, California, 4 Juni 1975. Aktris yang juga berprofesi sebagai model ini dikenal sebagai duta Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) urusan perdamaian dunia.

Kampanye perdamaiannya juga ditunjukkan melalui kegemarannya mengadopsi bayi terlantar dari beberapa negara dunia ketiga, seperti keputusannya untuk mengadopsi Maddox Chivan Jolie-Pitt (Kamboja) dan Zahara Marley Jolie-Pitt (Ethopia),

Angelina juga memiliki anak biologis dari pacarnya aktor Brad Pitt, Shiloh Nouvel Jolie-Pitt. Sementara itu dalam sejarah asmaranya, Jolie pernah menikah dengan aktor Billy Bob Thornton dan Jonny Lee Miller, keduanya berakhir dengan perceraian. Kini Jolie menjalin hubungan dengan Pitt sejak 2004, saat bersama-sama membintangi MR & MRS. SMITH.

(Sumber:KPL)



Tempat Bernaung Pilkada Gabungan

Pepatah mengatakan, ”Sedia payung sebelum hujan.” Artinya, setiap orang harus bersiap-siap menghadapi apa pun. Pepatah ini sederhana, tetapi mencakup semua aspek, salah satunya pilkada gabungan.
Pelaksanaan pilkada gabungan harus memiliki payung hukum yang jelas agar hasilnya maksimal. Payung hukum pilkada gabungan ada dalam UU No. 32/2004 Pasal 235 yang menyatakan, ”Hari pemungutan suara pemilihan gubernur (pilgub) dapat diselenggarakan bersamaan dengan pemilihan bupati (pilbup) atau pemilihan wali kota (pilwalkot)”. Pasal itu menghalalkan digelarnya pilkada gabungan asalkan masa jabatan berakhir pada bulan dan tahun yang sama dalam kurun waktu antara satu sampai dengan 30 hari.
Berdasarkan aturan itu, digelarlah pilkada gabungan antara Pilgub Jabar dengan Pilbup Sumedang. KPU Jabar mengadakan pilkada gabungan ini karena selisih akhir masa jabatan antara Gubernur Jabar dengan Bupati Sumedang kurang dari 30 hari. Selisih itu dihitung dari masa akhir jabatan Gubernur Jabar, 13 Juni 2008 dengan masa akhir jabatan Bupati Sumedang, 5 Juli 2008. Waktu pencoblosan pilkada gabungan ini adalah 13 April 2008.
Teknis pelaksanaan pilkada gabungan ini adalah berdasarkan kartu pemilih yang dimiliki. Bagi warga Sumedang akan mendapat dua kartu suara, yaitu Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang. Sementara bagi nonwarga Sumedang yang sedang berada di Sumedang hanya mendapat satu kartu suara untuk Pilgub Jabar.
Nah, dengan demikian ada dua kotak suara yang disediakan di tempat pemungutan suara (TPS), sedangkan dalam proses penghitungan suara, pertama dilakukan penghitungan suara untuk pilgub. Penghitungan suara Pilbup Sumedang dilaksanakan seusai penghitungan suara pilgub.
**
Mungkinkah pilkada kab./kota di Jabar yang masa jabatannya berakhir tahun 2009 dilaksanakan serentak pada Desember 2008? Bagaimana payung hukumnya? Hal ini penting untuk mengurangi beban kerja KPU, mengingat tahun 2009 akan dilaksanakan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pilleg).
UU 32/2004 Pasal 233 (ayat 2) menyatakan, ”Kepala Daerah yang berakhir masa jabatannya pada Januari 2009 hingga Juli 2009, diselenggarakan pilkada pada Desember 2008”. Bupati/wali kota yang masa jabatannya habis tahun 2009, yakni Wali Kota Bogor, Bupati Ciamis, Wali Kota Banjar, dan Bupati Garut. Berarti, jika keempat pilkada itu dilaksanakan serempak, payung hukumnya sudah tersedia.
Berkaca dari pilkada gabungan di Sumedang, mungkinkah tahun 2013 digelar pilkada gabungan antara Pilgub Jabar dan pilkada dari sejumlah kab./kota di Jabar seperti di Sumedang? Bagaimana pula payung hukumnya? Hal ini penting pula mengingat alokasi anggaran pilkada dari APBD provinsi dan APBD kab./kota dapat dipangkas. Sebagai ilustrasi, pilkada gabungan antara Pilgub Jabar dengan Pilbup Sumedang mampu menghemat anggaran APDB Jabar dan APBD Sumedang sebesar Rp 14 miliar, artinya tidak perlu anggaran ganda. Anggaran pilkada gabungan cukup dibagi antara APBD provinsi dan APBD daerah setempat.
Pilkada kab./kota bisa saja digabung dengan Pilgub Jabar pada 2013. Pilkada gabungan itu bernaung di bawah payung hukum UU 32/2004 Pasal 235 dengan merevisi perbedaan rentang waktu berakhirnya masa jabatan, misalnya menjadi satu tahun.
Dengan demikian, baik bupati atau wali kota yang masa jabatannya habis dalam rentang dalam satu tahun dengan berakhirnya masa jabatan gubernur bisa dilaksanakan. Jika revisi pasal 235 itu dilakukan, pemerintah dapat mempercepat akhir masa jabatan bupati/wali kota. Jika Pilgub Jabar dan pilkada kab./kota digabung, diperkirakan menghemat anggaran APBD Jabar dan APBD kab./kota lebih dari Rp 200 miliar.
UU 32/2004 Pasal 86 pun membuka kemungkinan pilkada untuk dilakukan sebelum masa jabatan berakhir. Pasal ini tidak menetapkan secara spesifik kapan pemungutan suara dilakukan, ia hanya menetapkan, paling lambat satu bulan sebelum masa jabatan berakhir. Dengan ketentuan ini, secara teoritis, pemungutan suara bisa dilakukan kapan saja asalkan paling lambat sebulan sebelum masa jabatan berakhir.
Di samping anggaran, pemerintah harus harus jeli membaca tingkat kejenuhan masyarakat. Kita ambil contoh masyarakat Kab. Purwakarta. Di awal 2008, masyarakat mencoblos pada Pilbup Purwakarta. Lalu pada 13 April 2008, mereka kembali mencoblos Pilgub Jabar. Setelah itu, tahun 2009 mereka akan menghadapi pemilu presiden dan pemilu legislatif.
Hal itu pun terjadi di 13 kab./kota lain yang telah melaksanakan pilkada di daerahnya sehingga pilkada gabungan 2013 adalah salah satu alternatif untuk mengurangi tingkat kejenuhan pemilih. Memang, pelaksanaan pilkada gabungan dilihat dari aspek biaya penyelenggaraan dan tingkat kejenuhan relatif lebih efektif dan efisien.
Walaupun pilkada gabungan baru berlangsung antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang. Akan tetapi, pemerintah bisa mengagendakannya dari sekarang untuk dilaksanakan pilkada gabungan pada 2013. Akan tetapi, perlu dipersiapkan pula payung hukum dan teknis penyelenggaraan agar kualitas pilkada tetap baik, APBD pun dapat berhemat. (Eric Senjaya)***



Pilkada Gabungan Mengirit Biaya

ERIC SENJAYA

”Kalau sekarang mah rame di Sumedang teh. Kampanye pemilihan gubernur (pilgub) dan pemilihan bupati (pilbup) bersamaan, tetapi waktu nyoblosnya beda. Nyoblos gubernur dulu, baru seminggu kemudian, 13 April 2008, nyoblos bupati. Bupati kan harus dilantik sama gubernur. Berarti kita harus nyoblos gubernur dulu biar gubernur yang terpilih bisa melantik bupati yang menang pemilihan.”
Ungkapan itu dikemukakan tukang ojek bernama Usep (35) di Desa Jatiroke Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang, belum lama ini, saat ditanya soal pelaksanaan pilkada gabungan. Ungkapan Asep itu bisa jadi merupakan contoh kecil bagaimana kadar pemahaman warga tentang pilkada gabungan. Padahal, Usep serta warga lainnya di Kab. Sumedang sudah harus mencoblos, baik pilgub maupun pilbup, hari ini, tanggal 13 April 2008.
Pengertian pilkada gabungan di Sumedang sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai pilkada yang waktu kampanye dan pengambilan suara dilaksanakan bersamaan, antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang. Meski begitu, wajar pula bila sosialisasi tentang pilkada gabungan tersebut tidak merata hingga ke pelosok desa. Kab. Sumedang dengan luas wilayah 1.522,20 km2 terdiri dari 26 kecamatan dengan 270 desa dan tujuh kelurahan.
Untuk itulah, beban kerja KPU Kab. Sumedang kian bertambah dengan adanya pilkada gabungan itu. Di satu sisi, KPU harus mempersiapkan surat suara, pendataan pemilih, pengaturan TPS, sosialisasi, dan persiapan lain untuk Pilbup Sumedang. Pada saat bersamaan, persiapan pun dilakukan untuk pelaksanaan Pilgub Jabar.
”Sumedang adalah pionir pilkada gabungan. Sukses atau tidaknya pilkada gabungan yang akan dilaksanakan di Jabar bergantung pada keberhasilan pilkada gabungan di Sumedang ini,” kata Didin Hermawan, S.Sos., Sekretaris KPU Sumedang.
Di samping KPU, Panwaslu Sumedang pun mengemban tugas ganda. Panwaslu mengawasi pelaksanaan pilgub dan pilbup, mulai dari persiapan hingga tahap penghitungan suara. Panwaslu Sumedang pun menjadi pionir panwaslu pilkada gabungan di Jabar.
Pelaksanaan pilkada gabungan di Sumedang memang merupakan pilkada gabungan pertama di Jabar. Pilkada gabungan dihalalkan UU No. 32/2004 pasal 233 yang menyatakan, pelaksanaan pilkada dapat digabung dengan pilgub, asal rentang waktu habisnya masa jabatan antara pilgub dan pilkada tidak lebih dari 30 hari.
Jika berpegang pada kaidah itu, berarti payung hukum untuk pilkada gabungan di Sumedang sudah ada. Akan tetapi, untuk pelaksanaan pilkada gabungan berikutnya harus dipertimbangkan lebih matang mengenai beban kerja KPU dan Panwaslu serta payung hukum yang menaunginya, agar kualitas pelaksanaan pilkada gabungan dapat ditingkatkan.

Koalisi parpol
Pelaksanaan pilkada gabungan di Sumedang juga sangat menarik dicermati, khususnya berkaitan dengan peta koalisi partai politik (parpol) antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang, yang cukup kontras.
Seperti diketahui, Pilbup Sumedang diikuti oleh dua pasangan calon. Pasangan calon pertama, H. Don Murdono-Taufik Gunawansyah dikenal dengan sebutan Don-Top. Kemudian, pasangan calon kedua adalah H. Endang-H. Dony Ahmad Munir alias Esa-Doamu.
Don-Top diusung oleh koalisi sebelas parpol, dengan tiga parpol besar di dalamnya, yaitu Partai Golkar, PDIP, dan PKS. Sementara, Esa-Doamu diusung oleh koalisi PPP dan PBB.
Pada sisi lain, koalisi parpol dalam Pilgub Jabar sungguh sangat berbeda, di mana PDIP, PKS, dan Golkar mengusung ”jagonya” masing-masing. Partai Golkar mendukung Danny Setiawan-Iwan R. Sulandjana (Da’i), PDIP mendukung Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (Aman), dan PKS mendukung Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade).
Pelaksanaan pilgub dan pilbup yang dilakukan bersamaan memang di luar dugaan. Awalnya, realitas koalisi parpol yang tidak seirama antara pilgub dan pilbup itu diprediksi bisa mendatangkan keributan antarmassa kampanye, namun pada kenyataannya tidak demikian.
”Kampanye berlangsung damai. Ketika simpatisan PDIP dan Golkar berkampanye untuk Don-Top, jika kami berpapasan dengan simpatisan PPP dan PBB yang berkampanye untuk Esa-Doamu, kami tak akan ribut. Kan PDIP berkoalisisi dengan PPP dan PBB mendukung Aman di Pilgub Jabar,” ujar Usman (32), simpatisan Don-Top yang ditemui saat berkampanye di Lapangan Jatiroke, Kec. Jatinangor.
Koalisi yang tidak senada antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang mempunyai dampak positif jika dilihat dari akurnya massa kampanye pilgub dan pilbup. Mereka terikat erat oleh koalisi dalam pilgub dan pilbup. Sampai saat ini tidak ada data yang menyebutkan adanya kerusuhan kampanye dalam pilkada gabungan ini.

Hemat APBD
Sisi positif lain dari pilkada gabungan muncul dari segi anggaran. Semula, anggaran Pilbup Sumedang dialokasikan sebesar Rp 14 miliar. Dana itu diambil dari APBD Kab. Sumedang. Sementara itu, anggaran Pilgub Jabar yang dialokasikan KPU Jabar untuk Kab. Sumedang sebesar Rp 14 miliar pula, diambil dari APBD Jabar.
Dengan pelaksanaan pilkada gabungan ini, ada penghematan karena dana ditanggung bersama, yaitu Rp 9 miliar dari APBD Jabar untuk Pilgub Jabar dan Rp 5 miliar lagi diambil dari APBD Kab. Sumedang.
”Bayangkan, dengan adanya pilkada gabungan ini, APBD Provinsi Jabar berhemat Rp 5 miliar dan APBD Kab. Sumedang berhemat Rp 9 miliar,” ujar Didin Hermawan.
Tentunya pelaksanaan pilgub dan 17 pilgub/pilwalkot yang wacananya akan digabung pada tahun 2013 dapat menghemat anggaran APBD Jabar dan APBD daerah.
Akan tetapi, pelaksanaan pilkada gabungan 2013 memerlukan pertimbangan yang matang dari segi anggaran pilkada gabungan. Hal ini bertujuan agar pihak yang terlibat dalam pilkada gabungan tidak ada yang merasa dirugikan secara finansial.

Mesin politik
Ada kesamaan koalisi partai besar antara pilgub dengan pilbup. Kesamaan itu adalah Golkar yang mendukung pasangan No. 1 (Da’i di pilgub, Don-Top di pilbup). Sementara itu, hal yang sama terjadi di tubuh PPP yang mendukung pasangan No. 2 (Aman di pilgub, Esa-Doamu di pilbup).
Maksudnya, ketika kampanye nomor urut 1 pilbup maka bisa saja penekanan kampanye dititikberatkan pada nomor 1 dan partai Golkar. Secara eksplisit kampanye itu mengarah pada pasangan Da’i yang notabene bernomor urut 1 di pilgub dan diusung Golkar. Begitu pula sebaliknya, saat kampanye nomor urut 2 pilgub, penekanan pada nomor 2 dan PPP. Kampanye itu pun mengindikasikan pasangan Pilbup Sumedang nomor urut 2 yang digandeng PPP pula.
Secara organisasi, semua parpol harus menyukseskan pilgub dan pilbup berdasarkan figur yang mereka dukung. Seandainya saja pasangan pilbup nomor 3, Tatang-Yovie (Tang-Yo) lolos dalam ajang Pilbup Sumedang. Tang-Yo kita anggap bernomor urut 3 yang notabene diajukan PAN. Keselarasan tercipta pada pasangan Hade yang bernomor urut 3 dan diusung PAN.
Jadi keselarasan mesin politik dalam pilkada gabungan tercermin menjadi nomor 1 Partai Golkar, nomor 2 PPP, serta nomor 3 PAN. Hasilnya? Kita lihat saja nanti sore. (Eric Senjaya)***



Ridho Slank
April 11, 2008, 1:50 pm
Diarsipkan di bawah: Slanker's Mania

Mohammad Ridwan Hafiedz atau Ridho (lahir 3 September, 1973, Ambon, Indonesia) adalah gitaris, vokal pendukung, dan penulis lagu Indonesia. Ia adalah gitaris Slank dan vokal pendukung dengan gitaris lainnya, Abdee Negara. Dengan Slank, Ridho telah membuat 9 album studio dan 3 album live, dan satu album kompilasi yang dirilis Mei 2006.

Ridho lahir dan besar dalam keluarga Islam di Ambon. Dia bermain gitar sejak berusia 7 tahun. Karier profesionalnya mulai saat membentuk grup musik LFM di tahun 1991. Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, Ridho pergi ke Hollywood, Amerika Serikat untuk belajar musik di Musician Institute untuk mengasah bakatnya.

Pada tahun 1996, tiga dari lima anggota Slank mengundurkan diri. Alasan pengunduran diri mereka terkait masalah kecanduan narkoba yang dialami oleh sang drumer, Bim-Bim dan vokalis, Kaka. Meski demikian, Slank kemudian menambah 3 anggota baru (Abdee, Iva, dan Ridho), untuk ‘menghidupkan’ kembali Slank. Sejak bergabung dengan Slank, Ridho telah membuat 9 album studio dan 3 album live, dan satu album kompilasi yang dirilis Mei 2006.

Tak hanya sibuk di Slank, Ridho juga memimpin klinik gitar dan mengajar. Pada tahun 2007, tanpa membawa nama Slank, Ridho dan Ipang dari BIP mengerjakan scoring dan soundtrack film Tentang Cinta(2007).[1]

Ridho menikah dengan Ony Serojawati pada tanggal 25 Agustus 2001.[2] Dari pernikahan ini, mereka telah dikaruniai tiga orang anak, Marco Maliq Hafiedz, Omar Hakeem Hafiedz, dan Stella Aisha Hafiedz (lahir 15 Juni 2006)[3]

Karir musik :

  • 1991:membentuk LFM
  • 1995:sekolah musik di Institute Musician, Hollywood
  • 1997: bergabung dengan Slank sampai sekarang

Profil

  • Nama lengkap:Mohammad Ridwan Hafiedz
  • Panggilan: Ridho
  • Agama: Islam
  • Tinggi: 173 cm
  • Hobi: sepakbola
  • Idola: Jimi Hendrix dan Beatles
  • Instrumen: gitar
  • Jenis gitar:Marlique
  • Belajar musik: pertama kali bermain band waktu kelas 1 SMP
  • Label:Slank Records
  • Jenis musik: rock dan blues


Slankografi
April 11, 2008, 1:39 pm
Diarsipkan di bawah: Slanker's Mania
  1. 1990 – Suit-Suit….Hehehe (Gadis Sexy)
  2. 1991 – Kampungan
  3. 1993 – Piss
  4. 1995 – Generasi Biru
  5. 1996 – Minoritas
  6. 1996 – Lagi Sedih
  7. 1997 - Tujuh
  8. 1998 - Mata Hati Reformasi
  9. 1999 – double album 999+09
  10. 2001 – Virus
  11. 2003 – Satu Satu
  12. 2003 – Bajakan!
  13. 2004 – Road to Peace
  14. 2005 – Plur
  15. 2006 – Slankisme
  16. 2007 – Slow But Sure
  17. 2008 – Original Soundtrack “Get Married”


April 7, 2008, 1:49 pm
Diarsipkan di bawah: kata2 bijak

Jenius adalah 1 % inspirasi dan 99 % keringat.
Tidak ada yang dapat menggantikan kerja keras.
Keberuntungan adalah sesuatu yang terjadi  ketika
kesempatan bertemu dengan kesiapan.

Thomas A. Edison,
Penemu dan Pediri Edison Electric Light Company



April 7, 2008, 1:48 pm
Diarsipkan di bawah: kata2 bijak

Sumber kekuatan baru bukanlah uang yang berada dalam
genggaman tangan beberapa orang, namun informasi di
tangan orang banyak.

John Naisbitt,
Pemimpin Umum Naisbitt Group