www.eric-senjaya.co.nr


Inu Kencana Syafiie

”Kamus Manusia”

Peluncuran buku Inu Kencana for President yang ditulis Tasaro beberapa hari yang lalu di Gedung Landmark, Bandung, menyegarkan ingatan pada tokoh yang satu ini. Nama Inu Kencana Syafiie biasanya dikaitkan bila “sesuatu” terjadi di tubuh Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN). Padahal, sejalan kesibukannya sebagai dosen di IPDN, Inu sangat senang menulis buku dan novel.

Hingga saat ini, Inu telah menyelesaikan 59 buku dan 2 novel. Bahkan, sejak 1990 hingga 2007 sebanyak 25 karyanya telah diterbitkan, termasuk buku IPDN Undercover. Tema tulisan Inu beragam, ada tentang Islam, ilmu pemerintahan, filsafat, dan tema lainnya.

“Saat ini saya sedang merampungkan buku terbaru, judulnya Kamus Manusia. Buku ini bercerita tentang perilaku manusia, perilaku baik maupun buruk. Ada 1001 tokoh yang saya ceritakan di sini,” tutur Inu.
Tokoh yang Inu ceritakan beragam, mulai dari orang biasa sampai dengan artis dangdut Inul Daratista pun termasuk di dalamnya. Inu beralasan bahwa pengambilan tokoh-tokoh itu bisa mewakili masa tertentu.

Tentang makna angka 1001 pada tokoh yang dia ceritakan di buku ini, Inu menjelaskan bahwa 1001 itu artinya banyak. “Kalau satu kan sedikit, dua lumayan, maka 1001 artinya banyak,” kata Inu sambil tersenyum.

Buku setebal 1.000 halaman ini rencananya akan diterbitkan oleh Salamadinah. Judulnya pun mungkin diganti menjadi Rohnya Zaman karena bercerita tentang orang populer yang mewakili sebuah masa. Selain itu, jumlah halaman pun akan dikurangi agar buku ini bisa didapat masyarakat dengan harga yang lebih murah. “Itu terserah penerbit saja,” ujar Inu.

Selain menulis, bapak tiga orang anak ini memang sangat gemar membaca. Itulah salah satu resep mengapa dia sangat produktif menulis buku. Ketika ditanya mengenai tema buku yang paling sering dibaca, Inu menjawab singkat, “Filsafat.”

Inu menambahkan, “Filsafat dapat menjawab mengenai permasalahan apa pun yang sifatnya mendasar.” Filsafat pula yang mempertemukan Inu pada prinsip, “Saya berada pada titik nol, sedangkan Allah pada kemampuan tak terhingga.” (Eric Senjaya)***



Endang Sukandar

Kembali ke Kampus

Kalah suara dalam Pemilihan Bupati (Pilbup) Kabupaten Sumedang tidak membuat H. Endang Sukandar sedih berkepanjangan. Endang yang menjadi kandidat no. 2 bersama Donny Ahmad Munir dengan nama Esa-Doamu itu kembali akan menjalani kehidupan rutinnya, back to campus.

“Saya akan kembali ke kampus untuk mengajar. Di samping itu, saya juga tengah membimbing mahasiswa membuat skripsi sekaligus menjadi penguji sidang akhir mahasiswa,” kata Endang, yang ditemui di Sumedang beberapa waktu lalu.

Ketua Yayasan Pendidikan Sebelas April Sumedang itu mengajar mata kuliah psikologi pendidikan di Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Sebelas April, Sumedang. Ia juga tercatat sebagai pengajar bidang studi manajemen dan perilaku organisasi di Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi (STIA) Sebelas April, Sumedang.

Kesibukan kakek enam cucu ini memang patut diacungi jempol. Betapa tidak, di usianya yang ke-59, ia tak berleha-leha, melainkan tetap bekerja. “Setiap pagi, saya biasanya bercocok tanam palawija di sawah. Menjelang siang, saya mengajar di kampus,” ujar Endang.

Sebelumnya, Endang adalah anggota Fraksi Partai Golkar di DPRD Jawa Barat. Namun, karena mengikuti Pilbup Sumedang, statusnya di DPRD Jabar masih belum ada kejelasan. Hanya, ia kini sudah tidak lagi berada di dalam partai berlambang pohon beringin itu.

Endang yang kini kembali menjadi “rakyat” Sumedang, sangat berharap bupati terpilih (Don Murdono-red.) periode 2008-2013 ini dapat mengemban amanah dengan baik.

“Saya sangat percaya, beliau kan sudah pernah menjadi bupati. Apalagi didampingi adik saya, Opik, yang notabene mantan Ketua DPRD dan Ketua DPD Golkar Sumedang. Beliau-beliau ini pasti sudah mengetahui apa yang diinginkan masyarakat Sumedang,” kata Endang. (Eric 574nk)***