www.eric-senjaya.co.nr


Luluk Purwanto
Juni 14, 2008, 6:30 am
Diarsipkan di bawah: profil tokoh | Tag: , , , , , , ,

Ikat Kepala, Biola, dan Bus

Ikat kepala dari kain batik atau lurik senantiasa menemani setiap penampilan dari musisi jazz yang satu ini. Dialah Luluk Purwanto, anak kedua dari tiga bersaudara ini memang terlahir di keluarga musisi. Ibunya, Aysha Gani, vokalis musik klasik yang mengepalai sebuah sekolah musik. Julian Purwanto, ayahnya, juga seorang penyanyi klasik. Karena itulah, masa kecil Luluk amat dekat dengan seni.

Luluk dilahirkan di solo, tetapi dibesarkan di Yogyakarta. Tak heran bila Luluk selalu saja merindukan Yogya. Kota ini yang membentuk dan membesarkannya. Ia tinggal di kawasan Kadipaten, tak jauh dari keraton.

Sedari kecil, tak pernah terbesit di benak Luluk untuk menjadi seorang violis. Sang ibu selalu mendorong Luluk untuk kursus biola. Satu hal yang membuat Luluk bersemangat adalah penjual jajanan pasar di depan tempat kursus biolanya. Kue-kue itu yang membuatnya rajin berlatih. Guru kursusnya malah membelanjakan biaya kursus Luluk untuk kue-kue itu. Asal, murid kebanggaannya itu mau berlatih.

Luluk juga sempat belajar musik klasik pada Karnaji Kristanto dan Nicolay Varfolomeye. Ketika Luluk kuliah di The Sydney Conservatorium of Music, Australia, ia selalu memainkan biola. Karena itulah, ia memilih spesialisasi di jenis alat musik gesek ini. Ia kemudian mengasah kemampuan musiknya di Institut Seni Indonesia, Yogyakarta.

Luluk akhirnya lulus 1987. Seusai kuliah, ia memutuskan untuk menikah dengan Rene van Helsdingen. Musisi asal Belanda ini semakin membenamkan Luluk dalam kehidupan bermusik.

Setelah menikah dengan Rene, Luluk memutuskan hijrah ke Belanda. Namun, ia tak pernah lupa pada Indonesia. Ia selalu membawa oleh-oleh bila mudik ke tanah air. Entah dalam bentuk konser atau gebrakan lain.

Tahun 1997 misalnya, ia menggelar show unik sampai ke pelosok daerah di Indonesia. Luluk menaiki bus yang bernama The Stage Bus yang dirancang untuk pertunjukkan musik. Ia tampil dengan The Helsdingen Trio, yang pianisnya tak lain adalah suami Luluk.

Awalnya, bus itu ia buat bersama pelukis Marcus di Belanda, kemudian mereka bawa keliling Eropa, Australia, dan Indonesia. Dengan bus itu pula, Luluk mengadakan tur konser panjang Amerika tahun 2002.

Hingga kini Luluk masih tinggal di Amsterdam bersama suaminya. Luluk masih memendam satu keinginannya, pulang kampung dan membuat pondok musik di Yogya. (Eric 574nk/dari berbagai sumber)***


No Comments Yet sejauh ini
Tinggalkan komentar



Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>