www.eric-senjaya.co.nr


Sukarno M. Noor

Siapa tak kenal Rano Karno? Lewat Karno’s Film, peninggalan ayahnya, ia memproduksi Si Doel Anak Sekolahan yang fenomenal. Bersama saudara-saudaranya, Rubi, Tino, Santi, Suti dan Nurli Karno, mereka bahu membahu mewujudkan obsesi sang ayah, Soekarno M. Noor.

Ano, panggilan akrab Sukarno M. Noor, adalah aktor kawakan yang berdedikasi tinggi pada seni akting. Selama lebih dari 30 tahun, Ia mengalami pasang surut dunia perfilman Indonesia.

Semasa hidup, sebelum ia wafat karena penyakit kanker hati pada 26 Juli 1986, berkali-kali ia mendapat penghargaan di bidang perfilman. Salah satunya, hadiah Surjo Sumanto, hadiah dewan film nasional yang bergengsi di dunia film dan hanya bisa diraih sekali seumur hidup.

Ano lahir 13 September 1931 di Jakarta, sebagai anak pertama dari dua bersaudara yang semuanya pria. Masa kecil Ano tidaklah mulus. Ano pernah hidup dari berjualan sabun, cabai, dan air teh. Ayah Ano, Mohammad Noor, adalah seorang wartawan. Ketika Ano berusia tiga tahun, sang ayah meninggalkan Ano dan keluarga untuk selamanya. Sehingga, sekitar tahun 1934 Ibu Ano, Djanimah, membawa Ano beserta adiknya, Ismed M. Noor, mudik ke Bonjol Sumatera Barat.

Sebagai anak tertua, tentu saja Ano berkewajiban menjadi tulang punggung keluarga. Karena itu, sejak kecil ia sudah terbiasa membantu ibunya mencari nafkah. Ia harus berjalan kaki pulang pergi Bonjol-Lubuksikaping yang berjarak sekitar 42 kilometer setiap hari untuk berjualan sabun dan cabai rawit. Darah dagangnya rupanya cukup kuat, Ano pun pernah berjualan air teh di Stasiun Kereta Tebing Tinggi, Sumatera Utara.

Bersama adik dan ibunya, Ano kemudian hijrah ke Medan. Ketika Ano menempuh SMA di Medan, bakatnya bermain sandiwara mulai muncul. Dia mulai menerjunkan diri ke dunia pentas. Jiwa senimannya yang sangat besar itu kemudian mendorongnya untuk kembali ke kota kelahirannya tercinta, Jakarta. Walau ayah ibunya berasal dari Bonjol, Sumatera Barat, Ano selalu mengaku orang Betawi asli.

”Ya, bagaimana saya mau mengatakan saya orang Sumatera, kalau saya lahir dan besar disini (Jakarta)?” tuturnya pada Majalah Flamboyan tahun 1973.

Setelah lulus SMA, sekitar 1950-1953, merupakan masa perjuangan terberat Ano. Walaupun ia sudah bekerja di kantor pos, Hampir setiap hari Ano mengunjungi studio-studio film. Misalnya saja, Persari, Perfini, Tang & Wong Bros, Bintang Surabaya, dan Golden Arrow didatanginya agar ia bisa menjadi pemain film.

Ano menapaki karier dunia hiburan tahun 1953. Ia harus rela kehilangan pekerjaannya di Kantor Pos demi menjadi pemain sandiwara dan hiburan. Ano ingin membuktikan bahwa ia bukanlah orang yang mencari popularitas melalui keindahan fisik semata. Tak heran , Ia dijuluki ”Bad Boy of The Screen.”

Akhirnya, Ano berhasil di dunia perfilman nasional. Jejak Ano di dunia perfilman pun diikuti oleh anak-anak dia, Rano Karno, Suti Karno, dan Tino Karno. (Eric 574nk/dari berbagai sumber)***


1 Komentar sejauh ini
Tinggalkan komentar

Komentar oleh odhe




Tinggalkan komentar
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>