www.eric-senjaya.co.nr


“Kemenangan” Golput 2009
Oktober 13, 2008, 5:47 am
Diarsipkan di bawah: Pemilu 2009, Riset Pilkada 2008

Belakangan media diramaikan oleh angka 40% untuk golput pada Pemilu Legislatif 2009. Hal ini terlontar bukan tanpa alasan, angka golput pada pilkada yang terjadi belakangan rata-rata berada di kisaran itu.

Namun, golput tidak dapat diprediksi naik atau turun. Pasalnya, menurut Heri Suherman, Kabag Hukum dan Humas KPU Provinsi Jawa Barat, tidak berpartisipasi bukan berarti golput. Bisa saja karena alasan teknis.

Heri menambahkan bahwa angka golput untuk Pileg 2009 tak bisa ditakar. Yang bisa, berapa angka yang berpartisipasi atau tidak berpartisipasi? Apakah naik atau turun dari angka Pileg 2004?

Untuk menakar besar angka partisipasi Pileg 2009, bisa digunakan jumlah partisipan Pemilu 1971 hingga 2004. Alasannya, ada kecenderungan yang menarik dari perjalanan tingkat partisipasi pemilu di tanah air. (lihat grafik 1).

golput1

Menilik grafik 1, jumlah partisipan terbesar selama pemilu di Indonesia terjadi pada pemilu pertama, 1971. Tercatat tingkat partisipasi masyarakat sebesar 94% dari total pemilih. Artinya, mereka yang tidak berpartisipasi hanya sebesar 6%.

Tingginya angka partisipasi pada Pemilu 1971 karena merupakan pemilu pertama di era Orde Baru. Pemilu 1971 merupakan pengalaman pertama rakyat Indonesia melakukan pemilu karena pada era Orde Lama belum pernah dilangsungkan pemilu. Oleh karena itu, masyarakat sangat antusias menyambut pemilu pertama ini. Mereka berharap ada perubahan yang berarti bagi kehidupan masyarakat.

Namun, dalam pemilu berikutnya tahun 1977, tingkat partisipasi menurun menjadi 90,6%. Artinya, yang tidak berpartisipasi meningkat 3,4% menjadi 9,4%. Berarti, ada kekecewaan dari masyarakat yang tengah berpartisipasi pada Pemilu 1971. Sebagian tak merasakan perubahan yang berarti sehingga memutuskan untuk tidak berpartisipasi.

Hal ini senada dengan pemilu berikutnya 1982, 1987, 1992, dan 1997. Angka partisipasi semakin menurun, sedangkan angka golput makin tinggi.

Akan tetapi, pada pemilu berikutnya tahun 1999, tingkat partisipasi masyarakat kembali menanjak menjadi 93,3%. Hanya 6,7% yang tidak berpartisipasi. Pemilu 1999 merupakan pemilu pertama di era reformasi, dengan lengsernya Soeharto sebagai presiden. Masyarakat begitu antusias dalam pemilu ini karena berharap terjadinya perubahan dalam kehidupan politik dan bermasyarakat dalam era reformasi.

Lagi-lagi Pemilu 2004 mengalami kemunduran dalam hal partisipasi pemilih. Tingkat partisipasi masyarakat menurun tinggal 84,4% atau mengalami persentasi penurunan sebanyak 4,9% dari total pemilih. Angka pemilih yang tidak berpartisipasi pada Pemilu 2004 merupakan yang tertinggi sepanjang perjalanan pemilu di negeri ini, mencapai 15,9%.

Masyarakat tampaknya kecewa dengan hasil pemilu sebelumnya. Kekecewaan pertama terjadi pada pemilu kedua (1977) di era Orde Baru yang dirasa tak membawa perubahan. Disusul oleh pemilu kedua di Orde Reformasi (1999). Orde Reformasi yang diharapkan membawa angin segar dalam perubahan di negeri ini, ternyata tak terbukti.

Menilik perjalanan inilah, bisa diprediksi berapa angka pemilih yang partisipasi atau yang tidak berpartisipasi dalam Pileg 2009. Oleh sebab itu, untuk menakar tingkat partisipasi Pileg 2009, digunakan data partisipasi Pemilu 1971 hingga 2004. Data disajikan pada grafik 1.

Namun, angka perolehan Pemilu 1977 dan 1999 harus dinormalisasi. Maksudnya, angka Pemilu 1977 disesuaikan dengan angka Pemilu 1971 dan 1982. Sementara angka pemilu 1999 disesuaikan dengan Pemilu 1997 dan Pemilu 2004.

Pasalnya, data Pemilu 1977 dan 1997 merupakan data pencilan (outliner), yaitu data yang dianggap menyimpang dari distribusi data secara keseluruhan sehingga hasil Pemilu 1971 hingga 2004 setelah datanya dinormalisasi disajikan pada grafik 2.

Mengapa angka partisipasi 1977 dan 2004 harus dinormalisasi? Dengan menormalisasi perolehan pada dua periode pemilu itu, kita bisa mendapatkan kecenderungan (tren) dari tingkat partisipasi dan golput di Indonesia. Kecenderungan itu bisa digunakan untuk menakar angka golput Pemilu 2009.

golput2

Pada Grafik 2 ini, garis biru tipis adalah tingkat partisipasi pemilu yang dinormalisasi, sedangkan garis hitam tebal adalah kurva pendekatan. Berdasarkan kurva pendekatan, dapat dilihat prediksi tingkat partisipasi untuk Pileg 2009 diperkirakan di atas 80% dan yang tidak berpartisipasi di bawah 20%.

Meski ini sekadar hitung-hitungan biasa, angka ini senada dengan Heri yang juga menaksir angka partisipasi sebesar 80%. Heri memprediksi angka ini berdasarkan angka partisipasi Pemilu 2004 yang bertengger di angka 84,1%. Sementara penurunan dari 84,1% menjadi 80% diprediksi dari tingkat partisipasi pada pilkada dan pilgub yang mencapai 67%.

Namun, angka partisipasi 80% ini belum tentu sesuai dengan hasil rekapitulasi suara Pileg 2009. Pasalnya, angka ini didapat dengan asumsi kondisi sosial pemilih stabil dengan pemilu sebelumnya. Sementara aspek sosial pemilih selalu berfluktuasi dan tentu tak mudah diprediksi. (Eric Senjaya/Pusat Data Redaksi)***


8 Tanggapan sejauh ini
Tinggalkan sebuah tanggapan

ANDA KLO NGOMONG JANGAN NGACO, PEMILU 1971 BUKAN PEMILU PERTAMA BAGI RAKYAT INDONESIA. INGAT TAHUN 1955!!!! BAHKAN SEMUA MENYEBUT BAHWA PEMILU TAHUN 1955 ADALAH PEMILU PERTAMA DAN YANG PALING DEMOKRATIS.INGAT!!!!

Comment oleh agan

Terimakasih bung Agan telah mengkritisi. Memang pemilu 1955 adalah pemilu pertama di Indonesia. Maksud dari penulisan pemilu 1977 adalah pemilu pertama yaitu pemilu pertama di orde baru.
Mengapa pemilu ini dimasukkan sebagai yang pertama? Tujuan dari penulisan ini adalah untuk mengetahui tingkat partisipasi pemilih dan angka golput. Pemilu 1955 dijadikan angka awal, kemudian perubahan pertama kepercayaan masyarakat bisa dilihat dari pemilu 1977. Ini ditandai dengan perubahan orde lama menjadi orde baru.
Perubahan kedua terjadi pada pemilu 1999. Tingkat kepercayaan masyarakat kembali meningkat karena runtuhnya orde baru menjadi orde reformasi.
Artinya, trend angka golput di Indonesia akan menurun bila ada perubahan orde. Sebaliknya, karena pemilu 2009 nanti tidak ada perubahan orde lagi,maka angka golput akan meningkat ketimbang 2004. Hasil pendekatan matematis menunjukkan angka golput bertengger di 20 persen. Hasilnya? Kita saksikan April 2009…

Comment oleh 574nk

memilih dan tidak memilih adalah urusan pribadi masing2,tetapi setau aku dalam ajaran islam,rasul mengatakan “pilihlah jika itu bermanfaat,jangan dipilih kalau merugikan atau membawa bencana,diamlah(golput) jika kamu tidak tahu manfaat dan mudhorotnya”,jelaskan,kita memilih atau tidak,nggak ada pengaruhnya,dan yang bisa menghukum pemain politik adalah GOLPUT,kok MUI mengeluarkan fatwa nggak jelas (konyol,geli),hidup GOLPUT..!!!!!!!

Comment oleh semar

bos dalam sebuah literatur islam politik, lebih baik negara ini dipimpin dengan pemimpin yang dzolim, dari pada negara tanpa kepemimpinan. dengan kata lain, memilih adalah alternatif dari keadaan yg sangat kacau balau(chaos).dan perlu dipertimbangkan juga, golput dibangun sebagai opini publik sebagai cara meminimalisir aspirasi politik usmat islam. coba baca literatur islam politik yg lain donk…

Comment oleh sohib

boleh minta data jumlah golput nya dikirim ke mahaarum_kp@yahoo.com ?
terimakasih sebelumnya.

Comment oleh arum_HTN_UGM

Kemenangan Golput 2009, adalah hal yang wajar karena sistem pemilu kali ini dengan memberi tanda contreng, menjadi persoalan, belum lagi masalah DPT dan ketidak percayaan masyarakat pada wakil rakyat yg duduk di DPRI. membuat keengganan masyarakat datang untuk menentukan hak pilihnya. kita lihat saja GOLPUT prosentasenya naik.

Comment oleh Kriswinanto

Assalamualaikum! Hatur nuhun artikelna. Manfaat pisan:D Manawi kagungan data tentang Pemilu di era Orla (pasca 1955)? Sakali deui hatur nuhun. Sukses! :D

Comment oleh rashid satari

semakin melonjaknya angka golput harus disertai dengan solusi alternatif, tidak ada lagi selain sistem Islam (khilafah Islamiyyah) setelah sejarah kelam sistem sosialis-komunis, hal itu karena legitimasi politik atas hasil pemilu menjadi nisbi. berikut perkataan Mantan Ketua BIN, AM Hendropiryono: tesis Liberalisme-Kapitalisme gagal mensejahterahkan dunia. Kekhalifahan seharusnya muncul sebagai penggantinya. Karenanya, Islam peru menjawab tantangan globalisasi dengan membangun kekhalifahan universal. (Sabili No.19/Th XVI, 9 April 2009, hal 28).

Comment oleh elwatsiq




Tinggalkan sebuah tanggapan
Baris dan paragraf terpisah secara otomatis, alamat email tidak akan ditampilkan, kode HTML diperbolehkan: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>