Filed under: Riset Pilkada 2008 | Tag: APBD, Banjar, Bogor, Ciamis, Garut, KPU, payung hukum, penghitungan suara, pilbup. pilgub, Pilkada Gabungan, pilpres, pilwalkot, Purwakarta, TPS
Pepatah mengatakan, ”Sedia payung sebelum hujan.” Artinya, setiap orang harus bersiap-siap menghadapi apa pun. Pepatah ini sederhana, tetapi mencakup semua aspek, salah satunya pilkada gabungan.
Pelaksanaan pilkada gabungan harus memiliki payung hukum yang jelas agar hasilnya maksimal. Payung hukum pilkada gabungan ada dalam UU No. 32/2004 Pasal 235 yang menyatakan, ”Hari pemungutan suara pemilihan gubernur (pilgub) dapat diselenggarakan bersamaan dengan pemilihan bupati (pilbup) atau pemilihan wali kota (pilwalkot)”. Pasal itu menghalalkan digelarnya pilkada gabungan asalkan masa jabatan berakhir pada bulan dan tahun yang sama dalam kurun waktu antara satu sampai dengan 30 hari.
Berdasarkan aturan itu, digelarlah pilkada gabungan antara Pilgub Jabar dengan Pilbup Sumedang. KPU Jabar mengadakan pilkada gabungan ini karena selisih akhir masa jabatan antara Gubernur Jabar dengan Bupati Sumedang kurang dari 30 hari. Selisih itu dihitung dari masa akhir jabatan Gubernur Jabar, 13 Juni 2008 dengan masa akhir jabatan Bupati Sumedang, 5 Juli 2008. Waktu pencoblosan pilkada gabungan ini adalah 13 April 2008.
Teknis pelaksanaan pilkada gabungan ini adalah berdasarkan kartu pemilih yang dimiliki. Bagi warga Sumedang akan mendapat dua kartu suara, yaitu Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang. Sementara bagi nonwarga Sumedang yang sedang berada di Sumedang hanya mendapat satu kartu suara untuk Pilgub Jabar.
Nah, dengan demikian ada dua kotak suara yang disediakan di tempat pemungutan suara (TPS), sedangkan dalam proses penghitungan suara, pertama dilakukan penghitungan suara untuk pilgub. Penghitungan suara Pilbup Sumedang dilaksanakan seusai penghitungan suara pilgub.
**
Mungkinkah pilkada kab./kota di Jabar yang masa jabatannya berakhir tahun 2009 dilaksanakan serentak pada Desember 2008? Bagaimana payung hukumnya? Hal ini penting untuk mengurangi beban kerja KPU, mengingat tahun 2009 akan dilaksanakan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pilleg).
UU 32/2004 Pasal 233 (ayat 2) menyatakan, ”Kepala Daerah yang berakhir masa jabatannya pada Januari 2009 hingga Juli 2009, diselenggarakan pilkada pada Desember 2008”. Bupati/wali kota yang masa jabatannya habis tahun 2009, yakni Wali Kota Bogor, Bupati Ciamis, Wali Kota Banjar, dan Bupati Garut. Berarti, jika keempat pilkada itu dilaksanakan serempak, payung hukumnya sudah tersedia.
Berkaca dari pilkada gabungan di Sumedang, mungkinkah tahun 2013 digelar pilkada gabungan antara Pilgub Jabar dan pilkada dari sejumlah kab./kota di Jabar seperti di Sumedang? Bagaimana pula payung hukumnya? Hal ini penting pula mengingat alokasi anggaran pilkada dari APBD provinsi dan APBD kab./kota dapat dipangkas. Sebagai ilustrasi, pilkada gabungan antara Pilgub Jabar dengan Pilbup Sumedang mampu menghemat anggaran APDB Jabar dan APBD Sumedang sebesar Rp 14 miliar, artinya tidak perlu anggaran ganda. Anggaran pilkada gabungan cukup dibagi antara APBD provinsi dan APBD daerah setempat.
Pilkada kab./kota bisa saja digabung dengan Pilgub Jabar pada 2013. Pilkada gabungan itu bernaung di bawah payung hukum UU 32/2004 Pasal 235 dengan merevisi perbedaan rentang waktu berakhirnya masa jabatan, misalnya menjadi satu tahun.
Dengan demikian, baik bupati atau wali kota yang masa jabatannya habis dalam rentang dalam satu tahun dengan berakhirnya masa jabatan gubernur bisa dilaksanakan. Jika revisi pasal 235 itu dilakukan, pemerintah dapat mempercepat akhir masa jabatan bupati/wali kota. Jika Pilgub Jabar dan pilkada kab./kota digabung, diperkirakan menghemat anggaran APBD Jabar dan APBD kab./kota lebih dari Rp 200 miliar.
UU 32/2004 Pasal 86 pun membuka kemungkinan pilkada untuk dilakukan sebelum masa jabatan berakhir. Pasal ini tidak menetapkan secara spesifik kapan pemungutan suara dilakukan, ia hanya menetapkan, paling lambat satu bulan sebelum masa jabatan berakhir. Dengan ketentuan ini, secara teoritis, pemungutan suara bisa dilakukan kapan saja asalkan paling lambat sebulan sebelum masa jabatan berakhir.
Di samping anggaran, pemerintah harus harus jeli membaca tingkat kejenuhan masyarakat. Kita ambil contoh masyarakat Kab. Purwakarta. Di awal 2008, masyarakat mencoblos pada Pilbup Purwakarta. Lalu pada 13 April 2008, mereka kembali mencoblos Pilgub Jabar. Setelah itu, tahun 2009 mereka akan menghadapi pemilu presiden dan pemilu legislatif.
Hal itu pun terjadi di 13 kab./kota lain yang telah melaksanakan pilkada di daerahnya sehingga pilkada gabungan 2013 adalah salah satu alternatif untuk mengurangi tingkat kejenuhan pemilih. Memang, pelaksanaan pilkada gabungan dilihat dari aspek biaya penyelenggaraan dan tingkat kejenuhan relatif lebih efektif dan efisien.
Walaupun pilkada gabungan baru berlangsung antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang. Akan tetapi, pemerintah bisa mengagendakannya dari sekarang untuk dilaksanakan pilkada gabungan pada 2013. Akan tetapi, perlu dipersiapkan pula payung hukum dan teknis penyelenggaraan agar kualitas pilkada tetap baik, APBD pun dapat berhemat. (Eric Senjaya)***
Filed under: Riset Pilkada 2008 | Tag: Aman, APBD, Da'i, Don-Top, Esa-Doamu, Hade, kampanye, koalisi parpol, KPU, mesin politik, Panwaslu, pigab, pilbup, pilgub, Pilkada, Pilkada Gabungan, Sumedang

ERIC SENJAYA
”Kalau sekarang mah rame di Sumedang teh. Kampanye pemilihan gubernur (pilgub) dan pemilihan bupati (pilbup) bersamaan, tetapi waktu nyoblosnya beda. Nyoblos gubernur dulu, baru seminggu kemudian, 13 April 2008, nyoblos bupati. Bupati kan harus dilantik sama gubernur. Berarti kita harus nyoblos gubernur dulu biar gubernur yang terpilih bisa melantik bupati yang menang pemilihan.”
Ungkapan itu dikemukakan tukang ojek bernama Usep (35) di Desa Jatiroke Kec. Jatinangor, Kab. Sumedang, belum lama ini, saat ditanya soal pelaksanaan pilkada gabungan. Ungkapan Asep itu bisa jadi merupakan contoh kecil bagaimana kadar pemahaman warga tentang pilkada gabungan. Padahal, Usep serta warga lainnya di Kab. Sumedang sudah harus mencoblos, baik pilgub maupun pilbup, hari ini, tanggal 13 April 2008.
Pengertian pilkada gabungan di Sumedang sendiri secara sederhana bisa diartikan sebagai pilkada yang waktu kampanye dan pengambilan suara dilaksanakan bersamaan, antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang. Meski begitu, wajar pula bila sosialisasi tentang pilkada gabungan tersebut tidak merata hingga ke pelosok desa. Kab. Sumedang dengan luas wilayah 1.522,20 km2 terdiri dari 26 kecamatan dengan 270 desa dan tujuh kelurahan.
Untuk itulah, beban kerja KPU Kab. Sumedang kian bertambah dengan adanya pilkada gabungan itu. Di satu sisi, KPU harus mempersiapkan surat suara, pendataan pemilih, pengaturan TPS, sosialisasi, dan persiapan lain untuk Pilbup Sumedang. Pada saat bersamaan, persiapan pun dilakukan untuk pelaksanaan Pilgub Jabar.
”Sumedang adalah pionir pilkada gabungan. Sukses atau tidaknya pilkada gabungan yang akan dilaksanakan di Jabar bergantung pada keberhasilan pilkada gabungan di Sumedang ini,” kata Didin Hermawan, S.Sos., Sekretaris KPU Sumedang.
Di samping KPU, Panwaslu Sumedang pun mengemban tugas ganda. Panwaslu mengawasi pelaksanaan pilgub dan pilbup, mulai dari persiapan hingga tahap penghitungan suara. Panwaslu Sumedang pun menjadi pionir panwaslu pilkada gabungan di Jabar.
Pelaksanaan pilkada gabungan di Sumedang memang merupakan pilkada gabungan pertama di Jabar. Pilkada gabungan dihalalkan UU No. 32/2004 pasal 233 yang menyatakan, pelaksanaan pilkada dapat digabung dengan pilgub, asal rentang waktu habisnya masa jabatan antara pilgub dan pilkada tidak lebih dari 30 hari.
Jika berpegang pada kaidah itu, berarti payung hukum untuk pilkada gabungan di Sumedang sudah ada. Akan tetapi, untuk pelaksanaan pilkada gabungan berikutnya harus dipertimbangkan lebih matang mengenai beban kerja KPU dan Panwaslu serta payung hukum yang menaunginya, agar kualitas pelaksanaan pilkada gabungan dapat ditingkatkan.
Pelaksanaan pilkada gabungan di Sumedang juga sangat menarik dicermati, khususnya berkaitan dengan peta koalisi partai politik (parpol) antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang, yang cukup kontras.
Seperti diketahui, Pilbup Sumedang diikuti oleh dua pasangan calon. Pasangan calon pertama, H. Don Murdono-Taufik Gunawansyah dikenal dengan sebutan Don-Top. Kemudian, pasangan calon kedua adalah H. Endang-H. Dony Ahmad Munir alias Esa-Doamu.
Don-Top diusung oleh koalisi sebelas parpol, dengan tiga parpol besar di dalamnya, yaitu Partai Golkar, PDIP, dan PKS. Sementara, Esa-Doamu diusung oleh koalisi PPP dan PBB.
Pada sisi lain, koalisi parpol dalam Pilgub Jabar sungguh sangat berbeda, di mana PDIP, PKS, dan Golkar mengusung ”jagonya” masing-masing. Partai Golkar mendukung Danny Setiawan-Iwan R. Sulandjana (Da’i), PDIP mendukung Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim (Aman), dan PKS mendukung Ahmad Heryawan-Dede Yusuf (Hade).
Pelaksanaan pilgub dan pilbup yang dilakukan bersamaan memang di luar dugaan. Awalnya, realitas koalisi parpol yang tidak seirama antara pilgub dan pilbup itu diprediksi bisa mendatangkan keributan antarmassa kampanye, namun pada kenyataannya tidak demikian.
”Kampanye berlangsung damai. Ketika simpatisan PDIP dan Golkar berkampanye untuk Don-Top, jika kami berpapasan dengan simpatisan PPP dan PBB yang berkampanye untuk Esa-Doamu, kami tak akan ribut. Kan PDIP berkoalisisi dengan PPP dan PBB mendukung Aman di Pilgub Jabar,” ujar Usman (32), simpatisan Don-Top yang ditemui saat berkampanye di Lapangan Jatiroke, Kec. Jatinangor.
Koalisi yang tidak senada antara Pilgub Jabar dan Pilbup Sumedang mempunyai dampak positif jika dilihat dari akurnya massa kampanye pilgub dan pilbup. Mereka terikat erat oleh koalisi dalam pilgub dan pilbup. Sampai saat ini tidak ada data yang menyebutkan adanya kerusuhan kampanye dalam pilkada gabungan ini.
Hemat APBD
Sisi positif lain dari pilkada gabungan muncul dari segi anggaran. Semula, anggaran Pilbup Sumedang dialokasikan sebesar Rp 14 miliar. Dana itu diambil dari APBD Kab. Sumedang. Sementara itu, anggaran Pilgub Jabar yang dialokasikan KPU Jabar untuk Kab. Sumedang sebesar Rp 14 miliar pula, diambil dari APBD Jabar.
Dengan pelaksanaan pilkada gabungan ini, ada penghematan karena dana ditanggung bersama, yaitu Rp 9 miliar dari APBD Jabar untuk Pilgub Jabar dan Rp 5 miliar lagi diambil dari APBD Kab. Sumedang.
”Bayangkan, dengan adanya pilkada gabungan ini, APBD Provinsi Jabar berhemat Rp 5 miliar dan APBD Kab. Sumedang berhemat Rp 9 miliar,” ujar Didin Hermawan.
Tentunya pelaksanaan pilgub dan 17 pilgub/pilwalkot yang wacananya akan digabung pada tahun 2013 dapat menghemat anggaran APBD Jabar dan APBD daerah.
Akan tetapi, pelaksanaan pilkada gabungan 2013 memerlukan pertimbangan yang matang dari segi anggaran pilkada gabungan. Hal ini bertujuan agar pihak yang terlibat dalam pilkada gabungan tidak ada yang merasa dirugikan secara finansial.
Ada kesamaan koalisi partai besar antara pilgub dengan pilbup. Kesamaan itu adalah Golkar yang mendukung pasangan No. 1 (Da’i di pilgub, Don-Top di pilbup). Sementara itu, hal yang sama terjadi di tubuh PPP yang mendukung pasangan No. 2 (Aman di pilgub, Esa-Doamu di pilbup).
Maksudnya, ketika kampanye nomor urut 1 pilbup maka bisa saja penekanan kampanye dititikberatkan pada nomor 1 dan partai Golkar. Secara eksplisit kampanye itu mengarah pada pasangan Da’i yang notabene bernomor urut 1 di pilgub dan diusung Golkar. Begitu pula sebaliknya, saat kampanye nomor urut 2 pilgub, penekanan pada nomor 2 dan PPP. Kampanye itu pun mengindikasikan pasangan Pilbup Sumedang nomor urut 2 yang digandeng PPP pula.
Secara organisasi, semua parpol harus menyukseskan pilgub dan pilbup berdasarkan figur yang mereka dukung. Seandainya saja pasangan pilbup nomor 3, Tatang-Yovie (Tang-Yo) lolos dalam ajang Pilbup Sumedang. Tang-Yo kita anggap bernomor urut 3 yang notabene diajukan PAN. Keselarasan tercipta pada pasangan Hade yang bernomor urut 3 dan diusung PAN.
Jadi keselarasan mesin politik dalam pilkada gabungan tercermin menjadi nomor 1 Partai Golkar, nomor 2 PPP, serta nomor 3 PAN. Hasilnya? Kita lihat saja nanti sore. (Eric Senjaya)***
Filed under: Slanker's Mania

Mohammad Ridwan Hafiedz atau Ridho (lahir 3 September, 1973, Ambon, Indonesia) adalah gitaris, vokal pendukung, dan penulis lagu Indonesia. Ia adalah gitaris Slank dan vokal pendukung dengan gitaris lainnya, Abdee Negara. Dengan Slank, Ridho telah membuat 9 album studio dan 3 album live, dan satu album kompilasi yang dirilis Mei 2006.
Ridho lahir dan besar dalam keluarga Islam di Ambon. Dia bermain gitar sejak berusia 7 tahun. Karier profesionalnya mulai saat membentuk grup musik LFM di tahun 1991. Setelah menyelesaikan pendidikan formalnya, Ridho pergi ke Hollywood, Amerika Serikat untuk belajar musik di Musician Institute untuk mengasah bakatnya.
Pada tahun 1996, tiga dari lima anggota Slank mengundurkan diri. Alasan pengunduran diri mereka terkait masalah kecanduan narkoba yang dialami oleh sang drumer, Bim-Bim dan vokalis, Kaka. Meski demikian, Slank kemudian menambah 3 anggota baru (Abdee, Iva, dan Ridho), untuk ‘menghidupkan’ kembali Slank. Sejak bergabung dengan Slank, Ridho telah membuat 9 album studio dan 3 album live, dan satu album kompilasi yang dirilis Mei 2006.
Tak hanya sibuk di Slank, Ridho juga memimpin klinik gitar dan mengajar. Pada tahun 2007, tanpa membawa nama Slank, Ridho dan Ipang dari BIP mengerjakan scoring dan soundtrack film Tentang Cinta(2007).[1]
Ridho menikah dengan Ony Serojawati pada tanggal 25 Agustus 2001.[2] Dari pernikahan ini, mereka telah dikaruniai tiga orang anak, Marco Maliq Hafiedz, Omar Hakeem Hafiedz, dan Stella Aisha Hafiedz (lahir 15 Juni 2006)[3]
Karir musik :
- 1991:membentuk LFM
- 1995:sekolah musik di Institute Musician, Hollywood
- 1997: bergabung dengan Slank sampai sekarang
Profil
- Nama lengkap:Mohammad Ridwan Hafiedz
- Panggilan: Ridho
- Agama: Islam
- Tinggi: 173 cm
- Hobi: sepakbola
- Idola: Jimi Hendrix dan Beatles
- Instrumen: gitar
- Jenis gitar:Marlique
- Belajar musik: pertama kali bermain band waktu kelas 1 SMP
- Label:Slank Records
- Jenis musik: rock dan blues
Filed under: Slanker's Mania
- 1990 – Suit-Suit….Hehehe (Gadis Sexy)
- 1991 – Kampungan
- 1993 – Piss
- 1995 – Generasi Biru
- 1996 – Minoritas
- 1996 – Lagi Sedih
- 1997 - Tujuh
- 1998 - Mata Hati Reformasi
- 1999 – double album 999+09
- 2001 – Virus
- 2003 – Satu Satu
- 2003 – Bajakan!
- 2004 – Road to Peace
- 2005 – Plur
- 2006 – Slankisme
- 2007 – Slow But Sure
- 2008 – Original Soundtrack “Get Married”
Filed under: Slanker's Mania | Tag: Abdee, Akhadi Wira Satriaji, Bimbim, Bimo Setiawan, Chaska Satriaji, Ivanka, Jakarta, Kaka, Natascha, Ridho, Slank

Kaka Slank memiliki nama lengkap Akhadi Wira Satriaji, lahir di Jakarta, 10 Maret 1974. Ia adalah salah satu personel grup musik, Slank, di mana dirinya menjadi vokalisnya.
Slank sendiri adalah grup musik yang selalu eksis menelurkan album-albumnya mulai 1990 hingga saat ini. Grup ini semula grup musik yang terdiri dari anak-anak SMA Perguruan Cikini, Jakarta, yang terdiri Bimo Setiawan (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal).
Sayangnya grup ini tidak bisa bertahan dan membubarkan diri. Selanjutnya berturut-turut terjadi perombakan personil sampai akhirnya terbentuk formasi ke-14 pada 1996 yang bertahan sampai sekarang.
Pada formasi yang mulai terbentuk saat album ketuju Slank dirilis itu, Kaka masuk sebagai vokalis, dengan personel lain terdiri dari Bimbim (drum), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee (gitar).
Kaka sendiri adalah suami perempuan bernama Natascha, yang saat ini memiliki seorang anak, Chaska Satriaji.
Filed under: Slanker's Mania

Sementara Slank sendiri adalah grup musik yang selalu eksis menelurkan album-albumnya sejak 1983. Grup ini semula merupakan grup musik yang terdiri dari anak-anak SMA Perguruan Cikini, Jakarta, yang terdiri Bimo Setiawan (drum), Boy (gitar), Kiki (gitar), Abi (bass), Uti (vokal) dan Well Welly (vokal).
Sayang grup ini tidak bisa bertahan dengan formasinya, sehingga berturut-turut terjadi perombakan personil sampai akhirnya terbentuk formasi yang ke-14 pada 1996 dan bertahan sampai sekarang.

Pada formasi terbentuk terdiri, Kaka masuk sebagai vokalis, dengan personel lain terdiri dari Bimbim (drum), Ivanka (bass), Ridho (gitar) dan Abdee (gitar).
Selain itu juga Abdee memproduseri grup band Serieus.
Filed under: Hollywood

Cynthia Ann Crawford memiliki nama populer Cindy Crawford, lahir di DeKalb, Illinois, AS, 20 Februari 1966. Cindy dikenal sebagai supermodel, pembawa acara program TV dan aktris film.
Perempuan yang kerap berpenampilan seksi ini, mengawali karir di dunia model dengan menjadi peserta di sejumlah acara kontes kecantikan. Menyusul kesempatannya menjadi bintang model sejumlah produk, termasuk minuman bersoda, Pepsi. Baru pada 1989, ia menjadi pembawa acara program House of Style di MTV hingga 1995.
Debut filmnya berjudul CINDY CRAWFORD: SHAPE YOUR BODY WORKOUT (1992), namun baru pada 1995 lewat film FAIR GAME, ia mendapatkan kesuksesan dan filmnya masuk box office.
Perempuan yang telah menjadi cover 600 majalah, termasuk di antaranya majalah Playboy ini, dalam perjalanan asmaranya pernah menikah dengan aktor Richard Gere. Namun perkawinan mereka hanya berusia empat tahun (1991-1995) dan pada 1998 ia kembali menikah dengan pengusaha restaurant Rande Gerber. Dari perkawinan keduanya ini dikaruniai seorang anak, Presley Walker Gerber.(KPL)
Filed under: Hollywood

Katie Holmes lahir di Toledo, Ohio Amerika pada 18 Desember 1978. Mulai dikenal publik melalui perannya sebagai Josephine Joey Potter dalam serial TV, DAWSON’S CREEK pada 1998.
Holmes semakin dikenal setelah menjalin hubungan dengan aktor film Tom Cruise, yang kemudian menikah pada 18 November 2006. Saat ini Holmes dan suaminya tinggal bersama seorang anak perempuan hasil hubungan mereka, Suri Cruise.
Kehidupan asmara Holmes sebelum menikah dengan Cruise, telah dilalui dalam hubungan asmara dengan aktor Chris Klein dan Joshua Jackson.(KPL)
Filed under: Hollywood

Cameron Diaz memiliki nama lengkap Cameron Michelle Diaz, lahir di San Diego, California, USA pada 30 Augustus 1972. Karirnya diawali melalui pangung model sejak dirinya masih berusia 16 tahun, selesai lulus SMU.
Pada usia 22 tahun, tepatnya pada 1994, pemeran Natalie Cook dalam CHARLIE’S ANGELS itu, mulai mengeluti seni peran lewat perannya sebagai Tina Carlyle dalam THE MASK. Diaz terus mengukir sejarah, hingga mampu meraih nominasi Golden Globe Award untuk kategoti pemeran pendukung terbaik lewat perannya sebagai Lotte Schwartz dalam BEING JOHN MALKOVICH (1999).
Sementara, terkait sejarah kehidupan pribadinya, pengisi karakter Fiona dalam film animasi SHERK ini sebelumnya pernah menjalin hubungan dengan produser film Carlos De La Torre, aktor Matt Dillon, Jared Leto dan pacarnya sekarang ini, musisi Justin Timberlake.(KPL)
Filed under: Penghargaan
berita – 17 Agt 2007 Upacara peringatan hari Kemerdekaan Indonesia (17/08) di halaman Universitas Padjadjaran dipimpin langsung oleh Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia. Dalam acara tersebut sekaligus diberikan penghargaan kepada sivitas akademika yang berprestasi dibidangnya. Penghargaan yang diberikan langsung oleh Rektor tersebut meliputi, penghargaan untuk dosen berprestasi serta penghargaan bidang kemahasiswaan yang diberikan kepada 19 orang mahasiswa.Penghargaan untuk Dosen berprestasi, tahun ini diraih oleh Dr. Irwan Ary Dharmawan dari MIPA, Dr. Nanny Dewi, SE., M.Com., Ak dari Fakultas Ekonomi serta Dr. Didin Muhafidin, S.Ip., M.Si. dari Fisip.Selain itu, Mahmudin Nur Al-Gozaly dari Fakultas Hukum, Keyty S. Yoso dari Fakultas Sastra dan Budi Kurniawan Supangat dari FISIP, tahun ini berhasil terpilih sebagai Mahasiswa berprestasi Unpad pada pemilihan yang diadakan Mei lalu.Sementara itu dalam kegiatan Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional XX (Pimnas XX), di Universitas Lampung, Unpad berhasil meraih juara I pada PKM bidang Penelitian dari Fakultas MIPA. Saat itu Unpad diwaliki oleh Eric Senjaya, Stepanus Tangguh, Anita Anggraeni, Gema Parasti M dan Seni Susanti dari Fakultas MIPA yang dibimbing oleh Jajat Yuda Mindara, Drs.,M.S.Untuk Lomba Karya Tulis Mahasiswa (LKTM) tingkat regional, Unpad meraih juara II pada bidang IPS dan sekaligus finalis pada LKTM tingkat nasional pada PIMNAS XX di Unila. Dalam bidang lain, Unpad juga mampu meraih juara umum III dalam MTQ Mahasiswa Tingkat Nasional yang diadakan di Universitas Sriwijaya, Palembang. Hadir dalam peringatan tersebut, seluruh sivitas akademika Unpad, Mulai dari Dosen, Mahasiswa, juga staf administrasi yang terlihat khidmat mengikuti upacara hingga akhir.(afn)Sumber: www.unpad.ac.id/info_detail.aspx
www.eric-senjaya.co.nr


















